Tragedi Pesawat MH370 Akan Difilmkan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pekerja membersihkan layar elektronik yang menampilkan pesan simpati untuk keluarga penumpang pesawat Malaysia Airlines MH370 yang hilang di Kuala Lumpur, Malaysia (22/3). (AP Photo/Lai Seng Sin)

    Seorang pekerja membersihkan layar elektronik yang menampilkan pesan simpati untuk keluarga penumpang pesawat Malaysia Airlines MH370 yang hilang di Kuala Lumpur, Malaysia (22/3). (AP Photo/Lai Seng Sin)

    TEMPO.CO, Cannes - Nasib pesawat Malaysia Airlines MH370 yang hilang dalam perjalanan dari Kuala Lumpur, Malaysia, ke Beijing, Cina, masih penuh ketidakpastian. Namun, di tengah segala kesimpangsiuran itu, sutradara India Rupesh Paul sudah bertekad membuat filmnya. Film itu akan diberi judul The Vanishing Act.

    Rencananya, proses pengambilan gambar dimulai Juli mendatang dan diharapkan sudah beredar di pasar sekitar November 2014. Cepat betul? "Seperti juga hilangnya pesawat itu. Cepat sekali," kata Rupesh Paul kepada Tempo di Cannes, Prancis, Jumat, 23 Mei 2014.

    Lepas dari cepat atau lambatnya pembuatan film itu, banyak kalangan menganggap Rupesh Paul tidak sensitif. Ia juga dinilai tidak menghormati keluarga para korban. "Bagaimana dengan korban Titanic, misalnya? Begitu banyak film tentang kecelakaan Titanic dibuat, toh tidak dianggap tidak hormat?" ujar  Paul.

    Masalahnya, berbeda dengan Titanic, nasib MH370 masih belum jelas. Sebagian besar keluarga para penumpang bahkan masih belum mau percaya pada keyakinan para pihak berwenang bahwa pesawat itu jatuh di Samudra Hindia.

    Paul tercenung dan membenarkan hal itu. Ia mengaku mendapat banyak cercaan dari berbagai kalangan. Namun, menurut dia, ada juga yang memberikan tanggapan positif. "Sejauh ini sudah ada tujuh perusahaan Malaysia yang ikut dalam proyek ini. Apakah mereka akan ikut kalau yakin bahwa ini merupakan tindakan yang tak menghormati korban?" kata Paul.

    Bahkan, menurut Paul, awalnya  seorang penulis Malaysia berencana menerbitkan sebuah buku tentang MH370. Namun, karena susah diterbitkan di Malaysia, penulis yang dirahasiakan namànya itu mencari penerbit di India yang bersedia menerbitkan buku tersebut. Belakangan, calon penerbit di India itu merasa draft naskah buku itu layak difilmkan. Paul pun bertekad bulat untuk memfilmkannya.

    Film ini dianggarkan akan menelan sekitar 3 juta euro. Paul menuturkan pihaknya sudah mendapat banyak pembelian awal (presales). Film ini sendiri nantinya bergenre thriler, yang  bertolak dari dua pertanyaan pokok: apa yang salah dalam penerbangan MH370, dan di mana gerangan MH370 sekarang.

    Bagaimana kalau saat film ini sudah selesai dan mulai masuk pasar, ternyata MH370 ditemukan, dan peristiwanya terbukti berbeda dengan asumsi film itu? "Ya, ini risikonya. Memang sungguh besar risiko yang harus kami ambil. Tapi kalau tak mau ambil risiko, orang tak akan pernah membuat film," ujar Paul tegas.

    Di booth Rupesh Paul Productions Ltd di Cannes 2014, Paul tak hanya mempromosikan  The Vanishing Act. Ia juga memasarkan karya terakhirnya, yang berbeda sama sekali, yakni Kamasutra 3D serta The Monologue of an Indian Sex Maniac. Suasana booth pun terasa janggal melihat poster film  MH370 berdampingan dengan dua film erotik itu.

    GING GINANJAR (CANNES)


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Unggah Sertifikat Vaksinasi Covid-19 ke Media Sosial

    Menkominfo Johnny G. Plate menjelaskan sejumlah bahaya bila penerima vaksin Sinovac mengunggah atau membagikan foto sertifikat vaksinasi Covid-19.