Pameran Kertas Djadoel Melawan Lupa di Semarang  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjung melihat-lihat pameran kertas jadoel di Kiwil Art, Kawasan Kotalama, Semarang, Minggu (3/2). TEMPO/Budi Purwanto

    Pengunjung melihat-lihat pameran kertas jadoel di Kiwil Art, Kawasan Kotalama, Semarang, Minggu (3/2). TEMPO/Budi Purwanto

    TEMPO.CO, Semarang - Sketsa bangunan kuno seukuran kartu pos, tak jelas betul menggambarkan bangunan apa. Hanya tampak, bangunan berarsitektur Eropa, dengan dua bendera Belanda menghiasi pintu gerbang.

    Satu-satunya petunjuk adalah, tulisan kecil di tepi bawah “Hoofdingan Koloniale Tentoonstelling Semarang 1914”. Sketsa itu, sebagai saksi sejarah, bahwa pada 1914, pemerintah Belanda menghelat pameran dagang di Semarang, melibatkan peserta beberapa Negara Eropa. “Itu, pameran dagang internasional pertama di Semarang, bahkan mungkin Indonesia,” kata Harry Suryo, Koordinator Oude Stad art and Culture Semarang, Ahad 3 Februari 2013.

    Pada perkembangannya, bangunan di ujung Jalan Kiai Saleh Semarang itu, menjadi kediaman konglomerat gula Oei Tiong Ham, lalu menjadi Balai Prajurit dan kini sebagai lembaga pendidikan. Menurut Harry, peristiwa itu sebagai tonggak lahirnya sejumlah konglomerat asal Indonesia, seperti Oei Tiong Ham yang berjuluk Raja Gula Asia.

    Pameran “Pamer Kertas Djadoel” itu, digelar 2-3 Februari 2013, di Galeri Siwil Art, kawasan Kota Lama Semarang. Sekitar 1.500 aneka gambar dan tulisan pada kertas kuno dan barang antik lain, dipamerkan. Juga, aneka foto bangunan kuno, kalender, kertas iklan, etiket berbagai produk.

    Di antara ratusan kertas kuno yang dipamerkan, ada dua slebaran yang diterbitkan Pemerintah Jepang, dengan gambar pemuda dan tentara Jepang, dan dilengkapi tulisan mencolok: “Roentoehkan Sekoetoe. Hai Pemoeda! Berdjoeanglah Bagi Noesa dan Bangsa!

    Pada lembar propaganda yang satu, berisi gambar ilustrasi menyerupai gurita dengan tulisan: “Toeroet Inggris dan Amerika, Toeroet Iblis Masuk Neraka”. Slebaran itu, untuk mengobarkan semangat pemuda Indonesia melawan Sekutu, pasca pengeboman Hirosima dan Nagasaki.

    Menurut Harry, pameran itu untuk mengajak masyarakat agar tak melupakan sejarah kotanya. “Dengan melihat benda kuno, kita akan mendapatkan gambaran utuh Semarang kuno dan Semarang kini,” ujarnya.

    Tjahjono Rahardjo, pengunjung pameran itu, mengaku terhibur setelah melihat koleksi komik wayang yang dibacanya pada 1960-an, saat dia duduk di Sekolah Dasar. “Bagi yang tua, rasa klangenan terpenuhi, bagi yang muda, sangat pas untuk belajar sejarah,” ujarnya.

    SOHIRIN


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman Ibadah Sholat Ramadan Saat Covid-19

    Pemerintah DKI Jakarta telah mengizinkan masjid ataupun mushola menggelar ibadah sholat dalam pandemi.