Dunia yang Timpang dalam Rekaman Kuncoro

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta - Kertas lusuh itu dibawa Kuncoro Sejati dari Eropa. Bentuknya berupa potongan struk belanja, kertas bekas pembungkus makanan siap saji dan es krim serta brosur makanan dan minuman. Selasa, 3 Mei 2011, benda-benda itu tertata dalam pigura berukuran 35x30 sentimeter. Susunan kertas itu menjadi salah satu karya yang dipamerkan Kuncoro dalam pameran tunggal "Dunia yang Terhubung" di Karta Pustaka, Yogyakarta.

    "(Kertas) itu saya dapat saat saya berkunjung ke Rumania, Jerman dan Belgia pada 2009," kata dia. Berbeda dengan kebanyakan pameran seni rupa di Yogyakarta yang lazim berlangsung berhari-hari, pameran Kuncoro hanya berlangsung sehari, dari Selasa pagi hingga petang. "Semoga ini bisa jadi kejutan listrik--ada lalu menghilang lagi," kata dia.

    Kuncoro Sejati adalah seniman otodidak kelahiran Yogyakarta, 29 tahun lalu. Alumni Fakultas Teknik Jurusan Teknik Industri UGM dan Administrasi Bisnis ITB Bandung itu belajar sendiri fotografi dan seni rupa, yang sebagian hasil karyanya disuguhkan dalam pameran ini.

    Menurut Kuncoro, kolase berjudul "Atentie" itu adalah sebuah sindirian. Dengan populasi di dunia mencapai 6,8 miliar orang, masalah pangan adalah isu utama dunia. Di saat orang di satu belahan dunia bebas menikmati hidangan lezat berkecukupan, orang di belahan dunia yang lainnya justru mengalami nasib sebaliknya, kelaparan tanpa pangan.

    Selain kolase, ada pula karya fotografi, seni instalasi hingga lukisan. Di atas media yang berbeda itu, masing-masing karya bercerita tentang dunia yang saling bertaut, timpang, dan suram. Misalnya potongan kertas dalam kolase itu sangat kontras dengan gambar dalam foto berukuran 35x30 sentimeter yang terpasang tepat di sampingnya.

    Foto berjudul "Delight" yang dibuat Kuncoro pada 2007 silam itu menampilkan gambar anak-anak yatim piatu di India. Sebanyak 22 persen dari total populasi manusia di sana hidup di bawah garis kemiskinan. Hak anak-anak itu terabaikan, seperti pendidikan dan kesehatan. Mereka harus hidup di jalanan untuk mendapat makan. "Belum lagi ancaman perdagangan manusia hingga pelacuran anak," kata Kuncoro.

    Dia juga bicara soal pemanasan global. "Tak mungkin rasanya pemanasan yang terjadi di satu belahan dunia tak berpengaruh di belahan dunia yang lain," katanya. Dia memberi contoh, pada 2006 silam berkesempatan terbang di langit Jakarta Utara dengan sebuah pesawat terbang. Pemandangan daratan di bawahnya dalam bentuk jalan, pemukiman, pabrik dan pelabuhan dia abadikan dalam rekaman lensanya. Hasilnya sebuah foto berukuran 50x40 sentimeter berjudul "Urban Planing", foto terpanjang di sudut pamerannya.

    "Bayangkan saja, itu tahun 2006," kata dia. Saat ini, dia yakin kawasan yang dulu dipotretnya itu kian padat dan sesak oleh pemukiman dan kawasan pabrik.

    Bisa jadi, kawasan itu mirip dengan gambar dalam lukisannya, "Intoxicating". Di atas kanvas berukuran 100x80 sentimeter itu dia melukis gedung padat dan saling berdesakan. Di bawahnya, daratan telah berubah menjadi hitam warnanya.

    ANANG ZAKARIA


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Satu Tahun Bersama Covid-19, Wabah yang Bermula dari Lantai Dansa

    Genap satu tahun Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Kasus pertama akibat virus corona, pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020.