Panggung Jenaka Zonder Lentera  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemain Teater Bejana saat mementaskan lakon

    Pemain Teater Bejana saat mementaskan lakon "Zonder Lentera" (Hikajatnja Satoe Wijkmeester Rakoes) karya Kwee Tek Hoay di Gedung Kesenian Jakarta, Kamis (10/2). Pentas ini disutradarai oleh Daniel H. Jacob dalam rangka memperingati Imlek 2562 dan menyambut Cap Go Meh.TEMPO/Dwianto Wibowo

    TEMPO Interaktif, Jakarta - Wajah Tan Tjo Lat berseri-seri. Wijkmeester alias kepala kampung Tionghoa itu senang bukan kepalang. Dia baru saja menyuruh Ke’eng, pembantu laki-lakinya mengirim obat-obatan dan makanan kepada komisaris. Terbayang sudah pujian dan hadiah kenaikan pangkat yang bakal dia terima dari lelaki Belanda itu. Tapi Ke’eng justru membawa kabar buruk .

    Bukannya senang, Komisaris malah marah besar dan emoh menerima kiriman obat Hong Hia Ciu dan Cu Pek San racikan sinshe Ang Pauw Sian, pemilik rumah obat Gwa Po Tong itu. Komisaris juga menolak makanan yang dikirim Tan Tjo Lat. Rantang berisi He Wan Ca, Fu Yong Hay, dan Mi Sotong yang dibeli dari restoran Sudi Mampir kembali dibawa sang pembantu. Tan Tjo Lat yang galak seperti macan-begitu kata sang istri-bingung. Soalnya, dalam surat yang diterimanya jelas-jelas Komisaris minta dikirimi obat-obatan dan makanan itu.

    Ternyata telah terjadi kesalahpahaman. Surat itu memang menyebutkan nama-nama obat dan makanan. Tetapi yang dimaksud komisaris adalah nama dua pemuda pelanggar aturan, seperti laporan dua agen polisinya. "Kutika ujan deres saya sedang bertugas di pos polisi, saya mendapat dua pemuda Tiong Hoa pake kemeja putih dan celana pendek coklat naik fiets zonder lentera, namanya Cu Pek San dan Hong Hia Ciu ," jelas Kabalerang, seorang agen polisi pribumi.

    Laporan serupa juga diberikan agen polisi keturunan Belanda bernama Misleid. Hanya saja dua pemuda yang kedapatan naik fiets alias sepeda tanpa lentera mengaku bernama He Wan Cha dan Fu Yong Hay. "Keduanya tinggal di restoran Sudi Mampir," kata Misleid. Dua agen polisi itu tidak tahu bahwa mereka sudah jadi korban keisengan Willem Tan dan Johan Liem, nama asli dua anak muda murid sekolah menengah yang nekat naik sepeda tanpa lentera lantaran tak menemukan delman. Keduanya tidak tahu bahwa aksi mereka itu membawa malapetaka bagi sejumlah orang. Termasuk Tan Tjo Lat.

    Sepak terjang kepala kampung yang haus kekuasaan dan usaha menangkap dua anak muda pengendara sepeda tanpa lentera ini terangkum dalam drama satu babak berjudul Zonder Lentera (Hikajatnya Satoe Wijkmeester Rakoes) . Kisah yang diadaptasi dari novel lawas berjudul sama karangan Kwee Tek Hoay, sastrawan yang terkenal di tahun 1930-an itu dipentaskan oleh Teater Bejana di Gedung Kesenian Jakarta, Kamis dan Jumat (9-10 Februari) pekan lalu untuk menyambut perayaan imlek dan Capgomeh.

    Kwee Tek Hoay yang berprofesi sebagai jurnalis, sastrawan dan pedagang, telah membuat lebih dari 115 judul karya tulis. Sebanyak 25 diantaranya adalah karya sastra, seperti Boenga Roos dari Tjikembang (1927), Drama di Boven Digul (1929-1932), dan Kehidupannya Sri Panggung (1931). Zonder Lentera adalah karya kempat Kwek Tek Hoay yang dipentaskan oleh Teater Bejana. Sebelumnya, kelompok teater yang didirikan pada19 Mei 2002 itu pernah mementaskan Boenga Roos dari Tjikembang (2004), Nonton Capgomeh (2005), dan Pentjoeri Hati (2010).

    Zonder Lentera dikemas dengan gaya realis dan komedi yang menyegarkan. Sutradara Daniel H Jacob tetap setia dengan plot dan karakter seperti yang tertuang dalam novelnya. Dialog yang digunakan juga tak jauh berbeda, yakni menggunakan bahasa melayu pasar bercampur dialek Betawi dan Sunda. Didukung tata artistik panggung, kostum pemain, dan musik yang apik, Zonder Lentera mampu membawa penonton menyelami kehidupan orang-orang Tionghoa di tahun 1930-an. Konflik dan kelucuan yang diangkat pun tidak berkesan "jadul". Tetap aktual hingga sekarang.

    Dengan kemampuan aktingnya yang mumpuni, Didi Hasim mampu menghidupkan karakter Tan Tjo Lat, kepala kampung menyebalkan yang punya sederet kelakuan minus , gemar main judi, hobi memeras penduduk , menjilat atasan dan main perempuan . Didi mampu menutupi kesalahan yang terjadi di atas panggung dengan gayanya yang jenaka. Berkali-kali penonton tertawa terpingkal-pingkal melihat aksinya. "owe salah masuk," katanya kepada penonton sambil nyengir, ketika sadar dia muncul dari belakang panggung, bukan dari samping. Juga ketika kumis palsu yang melintang di atas bibirnya hampir copot. "Sebentar ya, owe ke dalam dulu betulin kumis," katanya.

    Daniel tampak begitu serius menggarap pementasannya kali ini. "Mengangkat karya sastra Melayu Tionghoa ke dalam pentas teater adalah suatu kebahagiaan buat kami karena sastra Melayu Tionghoa selama ini terlupakan," katanya. Walaupun demikian dia mengaku tak sedikit kendala yang harus dihadapi, seperti bahasa, kostum, hingga tata artisitik. Beruntung, Daniel didukung pemain-pemain yang berpengalaman. Mereka mampu menghidupkan karakter yang diperankan, alias tidak asal menghapal dialog.

    Dengan kemampuan aktingnya yang mumpuni, Didi Hasim mampu menghidupkan karakter Tan Tjo Lat, kepala kampung menyebalkan yang punya sederet kelakuan minus , gemar main judi, hobi memeras penduduk , menjilat atasan dan main perempuan . Didi mampu menutupi kesalahan yang terjadi di atas panggung dengan gayanya yang jenaka. Berkali-kali penonton tertawa terpingkal-pingkal melihat aksinya. "owe salah masuk," katanya kepada penonton sambil nyengir, ketika sadar dia muncul dari belakang panggung, bukan dari samping. Juga ketika kumis palsu yang melintang di atas bibirnya hampir copot. "Sebentar ya, owe ke dalam dulu betulin kumis," katanya.

    Pergantian adegan termasuk perubahan tata panggung pun berjalan mulus. Tak heran bila penonton yang memenuhi Gedung Kesenian Jakarta tak mau beranjak dari tempat duduk hingga pentas yang dimeriahkan dengan pertunjukan liong itu benar-benar berakhir.

    NUNUY NURHAYATI


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rekor Selama Setahun Bersama Covid-19

    Covid-19 telah bersarang di tanah air selama setahun. Sejumlah rekor dibuat oleh pandemi virus corona. Kabar baik datang dari vaksinasi.