Ratapan Seorang Tua yang Terbuang  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Teater Hapon dari Jepang membawakan Obasute di ruang teater Luwes, Institut Kesenian Jakarta (21/07/2010).TEMPO/Suryo Wibowo

    Teater Hapon dari Jepang membawakan Obasute di ruang teater Luwes, Institut Kesenian Jakarta (21/07/2010).TEMPO/Suryo Wibowo

    TEMPO Interaktif, Jakarta - Seorang nenek tua rapuh sedang mendendang untuk cucu kesayangannya. Ia sepenuhnya sadar jika waktu tak lagi bersahabat dengannya. Berbagi keceriaan bersama sang cucu menjadi sangat singkat. Tari dan dendang itu seketika berubah pilu. Sang cucu kecil yang lucu menubruk tubuh renta itu dan berteriak serak. "Baba....!"


    Begitulah, sepenggal kisah ironis yang dimainkan oleh teater Harpon dari Jepang dan beberapa mahasiswa Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Mereka akan menampilkan sebuah lakon berjudul Obasute. Lakon berdurasi 70 menit ini akan digelar selama 3 hari berturut yaitu Sabtu hingga Senin (24-26 Juli) esok di Teater Luwes, IKJ.


    Lakon Obasute adalah legenda rakyat yang sampai saat ini masih digemari oleh penduduk Jepang. Bercerita tentang adat istiadat yang mengharuskan sebuah keluarga membuang manula dalam keluarganya.


    Baba, begitulah mereka menyebut nenek yang sudah terlalu tua. Jaman dulu di Jepang, tradisi ini selalu dilakukan oleh masyarakat desa miskin di sekitar gunung. Mereka membuang nenek itu di gunung untuk menghemat persediaan makan. Gunung tersebut dikenal dengan nama Obasute yama.


    Dalam kisah itu diceritakan bagaimana si anak lelaki yang tak tega membuang ibunya ke gunung. Aturan itu bisa batal jika si nenek masih bisa tertawa. Si anak lelaki ini dengan susah payah membuat ibunya bisa tertawa lagi. Namun, Baba dengan pasrah menyadari bahwa hal itu harus dilakukan. Maka diantarnyalah Baba ke gunung untuk ditinggalkan sendiri.


    Lakon ini merupakan adaptasi dari teater tradisi Jepang, Noh. Penulis skenario, Tomohiko Hara secara gamblang ingin menampilkan keindahan sebuah perpisahan. Perpisahan nenek tua yang masih disayangi oleh keluarga. Mau tidak mau mereka harus membuangnya ke gunung. Meninggalkan nenek seorang diri dan menjalani kematiannya sendiri pula. Dengan cara menggendongnya, si anak lelaki mengantar perempuan rapuh itu ke gunung.


    Hara mengisahkan perpisahan itu menjadi 3 bagian. Perpisahan dengan cucu perempuan, anak laki-lakinya dan perpisahan nenek dengan alam. "Saya fokus dengan kisah ini karena penuh ironi dan menyentuh. Meski ceritanya sangat mungkin bisa dihinakan," ujar Hara.


    Nantinya tata panggung akan sangat kental dengan nuansa Jepang. Dalam lakon itu, Hara juga akan menambahkan olah vokal tradisional Jepang yang diperankan oleh biduan Kaoru Owaki.


    Lalu bagaimana Hara menginterpretasikan konflik batin si anak lelaki yang tak rela membuang ibunya sendiri diatas gunung. Bagaimana sang Baba menjalani kesendiriannya untuk menatap kematian. Dan bagaimana kenangan-kenangan yang dibangun dengan cucu kesayangannya terpaksa menemani sisa hidup si Baba. Sila nikmati pertunjukannya esok.



    ISMI WAHID


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menghilangkan Bau Amis Ikan, Simak Beberapa Tipsnya

    Ikan adalah salah satu bahan makanan yang sangat kaya manfaat. Namun terkadang orang malas mengkonsumsinya karena adanya bau amis ikan yang menyengat.