Berdakwah Lewat Teater Dan Musik  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kelompok nasyid RaihanFOTO: Tutty Baumeister

    Kelompok nasyid RaihanFOTO: Tutty Baumeister

    TEMPO Interaktif, Jerman - Selain kelompok nasyid Raihan yang lebih dulu masyhur di Indonesia, Negeri Jiran Malaysia juga punya grup teater dan musik bernafaskan Islam: Generasi Harapan (GH). Tahun ini mereka muncul di Eropa: Prancis, Inggris dan Jerman. Sebelumnya mereka keliling ke berbagai kota di Indonesia, Thailand, dan Australia.


    Aslinya grup ini terdiri dari 20 anggota, terdiri dari kakak beradik, ipar, sepupu, dan keponakan dari keluarga besar almarhum Abuya Asaari Mohamad, pemimpin Gerakan Islam Al Arqam yang pernah ditahan Pemerintah Malaysia, dan empat orang istrinya.


    Jika grup ini tur keliling dunia, yang biasanya memakan waktu berbulan-bulan, jumlah anggota GH diciutkan jumlahnya. Dalam lawatan ke Eropa ini, mereka cuma bertujuh. Termasuk manajer.


    Pertunjukkan berlangsung sekitar 1,5 jam, berupa pementasan drama dengan tema-tema keislaman semisal kisah Rasul, diselingi 5-6 lagu. Selain rebana, alat musik pengiring adalah keyboard, drum dan tiga macam gendang : conga, jembe dan shaker.


    Namun GH tidak bertujuan komersial. “Misi kami adalah dakwah, jadi kami tidak menetapkan harga,” kata Khaulah, 24 tahun, salah seorang penyanyi GH, Mereka juga tidak pernah pilih-pilih, cuma tampil di pertunjukkan besar saja misalnya. Di Australia GH tampil di gedung pertunjukkan umum dengan 700-an pengunjung, misalnya. Tetapi di Jerman, mereka juga tampil di mesjid dan acara perkawinan warga Turki.


    Namun tidak berarti mereka menolak jika pementasan mereka dihargai. Ketika tampil di Pameran Dagang di kota Lyon, Perancis, penyelenggara memberi 1.000 euro sekali pertunjukkan. Lima hari mereka tampil di situ.


    Tak sedikit pula perorangan yang mendatangi mereka seusai pertunjukkan dan spontan menyerahkan uang. “Seorang muslimah Perancis terisak-isak, terharu mendengarkan lirik lagu-lagu kami, dan menyodorkan 100 euro,” kata Khaulah lagi. Hal yang sama juga dialami ketika mereka menggelar pentas di kota-kota lainnya.


    Lagu yang dinyanyikan memang tak cuma berbahasa Melayu. Lirik lagu diubah bahasanya, disesuaikan dengan bahasa setempat di mana mereka pentas, sehingga pengunjung mengerti artinya.


    GH tidak menganggap grup-grup musik bernafaskan Islam yang sudah ada, sebagai pesaing. “Kami justru turut memeriahkan si’ar Islam yang sudah ada. Lagipula grup kami sedikit berbeda karena kami meramunya dengan suguhan teater,” ujar Khaulah.


    Sambil berpentas, mereka juga menjual CD berisikan lagu-lagu mereka. Di album perdana berjudul : “Allah Maha Besar dan Islam Maha Benar” ini, terdiri dari 12 lagu dari berbagai bahasa : Melayu, Inggris, Perancis dan Arab, seharga 10 euro di Eropa (sekitar Rp 120.000,-) sekepingnya, atau 20 ringgit di Malaysia.


    Penjualannya lumayan sukses. Ketika 3 bulan keliling Australia, GH berhasil menjual 500-an keping CD. Di Eropa belum kelihatan hasilnya, karena tur belum berakhir.


    Oleh karena tidak bertujuan komersial, GH memberikan potongan harga jika ada yang mau membeli CD-nya tetapi tidak punya cukup uang. “Kami tidak ngotot menetapkan harga. Kami bahagia jika melihat misi kami untuk berdakwah ini berhasil,” kata sarjana Sastra Arab dari Yordania itu lagi.


    Misalkan ketika mendengar komentar seorang pengunjung yang mengaku berlinangan airmata sepanjang pertunjukkan, karena trenyuh mendengar keindahan lirik lagu-lagunya. Atau, seorang pengunjung Australia yang spontan minta diislamkan setelah menonton acaranya, karena sudah lama berniat jadi muslim. “Jadilah saya mengislamkan dia di belakang panggung setelah pertunjukkan,” ujar Khaulah, yang pernah diwawancarai Radio Iran di London.


    Boleh dibilang GH adalah produk rumah. Anggota grupnya semua berasal dari rumah yang sama. Begitu juga manajer dan produsernya. Bahkan CD-nya pun direkam di studio rekaman milik keluarga, di Kedah, Malaysia.


    Sepanjang pertengahan hingga akhir Juni lalu, GH berada di Jerman dan tampil, antara lain, di Kultur Haus, Bremen, dan Kantor Konsulat Jendral RI di Hamburg. Setelah lawatannya ke Eropa, rencananya GH akan meneruskan dakwahnya ke Turki dan negara-negara Timur Tengah : Mesir, Syria dan Yordania.



    Sri Pudyastuti Baumeister (Jerman)


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kapal Selam 44 Tahun KRI Nanggala 402 Hilang, Negara Tetangga Ikut Mencari

    Kapal selam buatan 1977, KRI Nanggala 402, hilang kontak pada pertengahan April 2021. Tiga jam setelah Nanggala menyelam, ditemukan tumpahan minyak.