Disangsikan Jadi Menteri Pertahanan, Prabowo: Apa Tampang Saya, Muka Kudeta?

Reporter:
Editor:

Istiqomatul Hayati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo (ketiga kiri) didampingi Wakil Presiden Ma'ruf Amin (kedua kanan), Menteri Pertahanan Prabowo Subianto (ketiga kanan), Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko (kedua kiri), Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto (kiri) dan KASAD Jenderal TNI Andika Perkasa (kanan) berdialog dengan prajurit TNI secara virtual ketika memimpin upacara HUT ke-75 TNI di Istana Negara Jakarta, Senin, 5 Oktober 2020. Pada peringatan HUT ke-75 TNI, Presiden Joko Widodo mendukung transformasi organisasi TNI harus selalu dilakukan dengan dinamika lingkungan strategis sesuai dengan dinamika ancaman dan perkembangan teknologi militer. ANTARA FOTO/Biro Pers/Lukas/handout

    Presiden Joko Widodo (ketiga kiri) didampingi Wakil Presiden Ma'ruf Amin (kedua kanan), Menteri Pertahanan Prabowo Subianto (ketiga kanan), Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko (kedua kiri), Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto (kiri) dan KASAD Jenderal TNI Andika Perkasa (kanan) berdialog dengan prajurit TNI secara virtual ketika memimpin upacara HUT ke-75 TNI di Istana Negara Jakarta, Senin, 5 Oktober 2020. Pada peringatan HUT ke-75 TNI, Presiden Joko Widodo mendukung transformasi organisasi TNI harus selalu dilakukan dengan dinamika lingkungan strategis sesuai dengan dinamika ancaman dan perkembangan teknologi militer. ANTARA FOTO/Biro Pers/Lukas/handout

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Pertahanan Prabowo Subianto mengungkapkan alasannya mau menerima tawaran Presiden Jokowi berkoalisi dan akhirnya terlibat di kabinet, tak lama setelah Pemilu Presiden 2019. Prabowo menuturkan, ia dan Jokowi memiliki tujuan sama, yakni mengabdi untuk Indonesia.

    "Kalau sama-sama mengabdi untuk Merah Putih kok harus jadi lawan. Saya belajar dari sejarah," kata dia saat menjadi tamu di podcast Deddy Corbuzier yang ditayangkan di kanal Youtubenya, Ahad, 13 Juni 2021. 

    Ia menuturkan, banyak yang memiliki anggapan salah mengenai sebuah pertarungan. Prabowo merasa tidak mengerti dengan pola pikir pendukungnya dan pendukung Jokowi saat Pemilu lalu yang menuntut kompetisi itu bersifat abadi.  "Bagi saya, rival dalam kompetisi, apa harus jadi lawan," katanya.

    Seperti halnya kompetisi di sekolah, ada yang menang dan kalah. "Apa harus gebuk-gebukan? Menurut saya itu IQ yang rendah," katanya. 

    ADVERTISEMENT

    Prabowo menjelaskan, ada tiga pelajaran sejarah yang mengajarkannya tentang pengabdian. Pertama, ia belajar dari kisah panglima samurai Toyotomi Hideyoshi dan Tokugawa. Mereka berperang tapi kemudian berunding untuk bersatu demi Jepang. 

    Ekspresi Presiden Joko Widodo (kanan) saat bersalaman dengan dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di Stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta, Sabtu, 13 Juni 2019. Kedua kontestan dalam Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden tahun 2019 lalu ini bertemu di Stasiun MRT Lebak Bulus dan selanjutnya naik MRT dan diakhiri dengan makan siang bersama. Foto: Muchlis Jr - Biro Pers Sekretariat Presiden

    Kedua, kata Prabowo, ia belajar dari kisah Presiden Amerika Serikat, Abraham Lincoln. "Dia memilih lawannya bernama William H. Seward, lawannya selama 20 tahun untuk menjadi Sekretaris Negara. Pilihan ini membuat Seward kaget lantaran mengetahui Lincoln tak menyukainya, begitu juga dirinya. "Tapi aku tahu bahwa kamu mencintai negara Amerika dan aku juga, Jadi kenapa kita enggak mengabdi untuk Amerika Serikat," kata Prabowo mengisahkan. 

    Terakhir, Prabowo juga belajar dari Mao Zedong. Saat Kuomintang kalah, Mao justru memilih salah satu jenderal Kuomintang untuk menjadi wakil presidennmya. "Dia datang ke Mao Zedong, 'saya kan membunuh banyak orang Anda.' Mao Zedong bilang, 'jangan lihat masa lalu. Ayo kita besarkan Tiongkok yang baru'," tutur Prabowo. 

    Mantan suami Titiek Soeharto itu mengakui ia memang kecewa ketika dua kali kalah melawan Jokowi dalam pemilihan presiden. "Kecewa pasti ada, manusia. Tapi kita komitmennya untuk Merah Putih," ucapnya. 

    Prabowo pun mengakui, orang di lingkaran Presiden Jokowi pasti tak sepakat dia ditarik di dalam kabinet. "Bahaya. Nanti dia kudeta lagi. Muka gue, muka kudeta kali ya," ucapnya sambil tertawa lepas. 

    Baca juga: Aksi Jahil Prabowo Pergoki Asistennya yang Tertidur Saat Rapat


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti Istilah Kebijakan Pemerintah Atasi Covid-19, dari PSBB sampai PPKM

    Simak sejumlah istilah kebijakan penanganan pandemi Covid-19, mulai dari PSBB hingga PPKM, yang diciptakan pemerintah sejak 20 April 2020.