Nilai Jazz Nial

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta: Pada 1980-an, Indra Lesmana menorehkan keharuman jazz Indonesia di mata dunia saat merilis dua album jazz melalui Zebra/MCA Record, No Standing dan For Earth and Heaven. Sayangnya, pada 1986 Indra lebih memilih kembali ke Indonesia dan kiprah internasionalnya pun perlahan pupus.Namun, pada dasawarsa 2000-an ini, melesat sosok pianis jazz belia Indonesia, Nial Djuliarso. Lelaki kelahiran 5 Februari 1981 ini aktif mengikuti kompetisi jazz di berbagai negara, seperti Amerika Serikat, Rusia, dan Swiss, serta tampil dalam berbagai festival jazz dunia, seperti North Sea Jazz Festival di Belanda, Montreaux Jazz Festival di Swiss, Jazz At Lincoln Park di New York City.Nial memang gigih memperjuangkan jazz dengan tiada henti melumuri diri dengan ilmu jazz yang diraupnya di Berklee College of Music di Boston, Amerika Serikat, serta mengantongi jazz diploma dari Julliard di New York.Baru-baru ini, Nial bersama kuartet multinasionalnya yang didukung Bruce Harris (trompet), Carmen Intorre (drum), dan Yasushi Nakamura (bas) menang dalam sebuah kompetisi jazz di San Fransisco, Amerika Serikat. Festival yang digagas International Center of Arts San Fransisco University itu berlangsung pada 15 Mei lalu. Nial bersama kuartetnya memainkan komposisi orisinal karya Nial dan karya empu jazz John Coltrane, Locomotion, dan Tadd Dameron, Our Delight. Nial Djuliarso Quartet berhasil mengungguli kelompok jazz asal New York, Meaningtone.Nial, yang meraup ilmu jazz dari Wynton Marsalis, Kenny Barron, Joe Lovano, hingga Hank Jones, kini mulai memetik hasil. Musik jazz yang dimainkannya mulai memiliki nilai, setidaknya untuk konstelasi musik jazz negeri ini.Dengan menyimak album keduanya bertajuk New Day New Hope yang baru saja dirilis Omega Pacific Record, rasanya kita pun bisa menilai kemampuan jazz Nial. Pengaruh pemusik jazz Horace Silver terasa kuat dalam sebagian besar komposisi yang dia tulis. Horace Silver, seperti halnya Nial, adalah pianis dan komposer jazz yang menggagas gaya Hard Bop. Nial memang terasa agak menyerap karakteristik musikal Silver, seperti komposisi yang berkesan catchy dan harmonisasi yang kuat. Seluruh komposisi yang terdapat di album ini ditulis oleh Nial, kecuali Sabda Alam karya Ismail Marzuki.Menurut Nial, ketika lulus dari Berklee pada 2004, dia ingin mendokumentasikan karya-karyanya dalam sebuah album. Nial lalu mengajak dua sahabatnya satu almamater, Yasushi Nakamura (bas) dan Warren Wolf (drum).Sekadar mengingatkan, pada album sebelumnya yang bertajuk Live At Juilliard (2006), Nial cenderung memainkan karya-karya pop, seperti Just the Way You Are, Long and Winding Road, ataupun Overjoyed.Di album kedua, Nial berupaya lebih eksploratif. Dia terlihat pula memilah-milahnya dalam beberapa sekat nuansa. Kedua sahabatnya pun cukup responsif. Walaupun mencoba ekspresif secara maksimal, Nial acapkali menyiratkan kehati-hatian dalam bermain musik. Kurang lugas.Dalam komposisi bertajuk Horace, Nial seolah ingin menggambarkan petualangan musikal dari pahlawan musiknya, Horace Silver. Nial menyarungkan atmosfer jazz rock pada komposisi yang terkadang berperangai funk.Selain itu, Nial masih menulis tentang kekagumannya terhadap Horace Silver dalam Mr Silver. Juga pada komposisi Song for My Family, yang menurut Nial terinspirasi oleh karya Horace Silver pada 1964, Song for My Father.Nial terlihat pandai mengendalikan suasana. Simaklah Hip Hop Hopping yang menyeruakkan ritme samba. Atau simak getar-getar blues pada komposisi Today for Tomorrow. Nial pun terlihat atraktif menggerayangi bilah tuts pianonya pada komposisi Hi Lo yang berlatar detak musik funk. Permainan bas Yasushi Nakamura banyak memberi ruang berimprovisasi bagi Nial.Nial juga menyuguhkan komposisi personal bernuansa ballad romantis dan diberi judul Mutiasari. "Komposisi ini tentang seseorang yang berarti dalam hidup saya. Saya bertemu dengan dia di New York," dia menjelaskan. Album terbaru Nial ini ditutup dengan komposisi yang cenderung bergaya smooth jazz, My Smooth One. Atas lagu ini, Nial meraih penghargaan dalam sebuah kompetisi lomba cipta lagu di Amerika pada 2005.Seperti judul albumnya, New Day New Hope, kita memang menaruh harapan pada eksistensi Nial dalam konstelasi musik jazz (di) Indonesia. l DENNY SAKRIE, PENGAMAT MUSIK

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kapolri Keluarkan 11 Langkah dalam Pedoman Penerapan UU ITE

    Kepala Kepolisian RI Jenderal atau Kapolri Listyo Sigit Prabowo mengeluarkan pertimbangan atas perkembangan situasi nasional terkait penerapan UU ITE.