Sensasi Daging

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, : Walau bukan vegetarian, Loranita Theo adalah seorang yang memiliki fobia terhadap daging. Akibatnya, wanita kelahiran Medan, 38 tahun lalu, ini tidak mengkonsumsi daging-daging mentah. "Saya lebih banyak makan daging olahan, seperti nugget," ujar wanita yang akrab disapa Nita ini kepada Tempo, Selasa malam lalu, di Galeri Cemara, Jakarta. Ketakutan akan daging, terutama yang masih merah berdarah dan menempel pada tulang, dijadikan Nita sebagai tantangan. Dalam pameran tunggalnya bertajuk "Dendang Daging" di galeri itu pada 22 April hingga 15 Mei nanti, Nita memamerkan 13 lukisan yang semuanya menampilkan imaji daging. Daging-daging itu digarap dengan cukup detail. Tengok saja karya berjudul Perjalanan Daging berukuran 135 x 185 sentimeter. Serat-serat daging memerah yang dilapisi lemak keputihan tampak jelas. Otot dalam daging juga tergambar dengan nyata dalam guratan garis merah darahnya. Dalam proses menggambar daging-daging itu, Nita memberanikan diri datang ke tempat penjagalan hewan untuk sekadar menyaksikan penjagalan. Dari situ, ia membawa pulang daging dan mengamati, lalu menuangkannya dalam kanvas-kanvasnya. "Gara-gara mengolah (lukisan-lukisan) ini, rasa takut saya jadi berkurang," tutur Nita, yang juga mengepalai Playgroup Daun Salambar di Jatiwangi. Tidak sekadar mengatasi rasa takut, Nita juga menghadirkan realitas sosial di sekitarnya dalam metafora daging. Misalnya, dalam lukisan Dongeng Daging berukuran 143 X 145 sentimeter, Nita mengambil sisi kanak-kanak yang hidup di sekitarnya. Dengan warna-warna cerah khas anak-anak, Nita menaruh sebuah perahu layar di atas onggokan daging. Di kiri-kanannya, Nita melukiskan mobil mainan berwarna ungu dan merah. "Ini mengkontraskan ibu yang sering menyuruh anaknya makan daging, sementara saya takut akan daging," ujarnya tersenyum. Tidak hanya itu, Nita juga memberi pemaknaan lain pada karya Tergantung pada Kancing. Tiga potong daging digambarkan terjepit menggantung pada masing-masing kancing yang ditempelkan pada kanvas. Melalui karya ini, Nita mengkritik para perempuan yang takut kegemukan demi fashion sehingga menjauhi daging. Permainan asosiasi juga dihadirkan Nita dengan apik pada karyanya berjudul Daging Dombret. Dengan latar kanvas berwarna pink muda, Nita menghadirkan tubuh bagian bawah dari pinggang. Dilihat dari lekuk lutut kaki, lukisan itu layaknya binatang memamah biak, tapi bagian pinggul lebih mirip pinggul manusia. Daging itu dilengkapi dengan selaput lemak putih dan kulit sapi pada bagian bawah lutut. "Ini menjawab persoalan sensualitas yang banyak dipersoalkan orang," ujarnya. Menurut kurator Rifky Effendy, Nita memandang daging sebagai gejala artistik dan estetik, baik secara permukaan maupun makna bagi dirinya. Fobia akan daging, kata Rifky, dapat diatasi Nita melalui terapi berkarya yang mengobati rasa takutnya sendiri. "Sayatan dan potongan daging menantang daya artistik dan psikologisnya untuk mengolah secara formal," kata Rifky. l TITO SIANIPAR

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menghilangkan Bau Amis Ikan, Simak Beberapa Tipsnya

    Ikan adalah salah satu bahan makanan yang sangat kaya manfaat. Namun terkadang orang malas mengkonsumsinya karena adanya bau amis ikan yang menyengat.