Penuh Tubuh

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta: Dua helai karpet merah selebar badan mobil terhampar di halaman depan Bentara Budaya Jakarta. Karpet masing-masing sepanjang 20 dan 25 meter itu saling menyilang membentuk persimpangan. Di atasnya ada rel kereta, juga menyilang, lengkap dengan tiga troli. Di dalam salah satu troli penuh oleh tubuh-tubuh manusia. Karya itu berjudul Kisah Tanpa Narasi #2. Karya Titarubi itu dipamerkan pada 19 September hingga 4 Oktober 2007. Dalam karya itu, Titarubi mencoba menggambarkan suasana buruh perkebunan tebu yang marak di Indonesia pada periode penjajahan Belanda. Tubuh-tubuh manusia itu diangkut dengan alat angkut yang sama untuk mengangkut komoditi tebu. Tubuh-tubuh itu tidak beda dengan komoditas bagi sang pemilik modal. "Itu diciptakan sebagai metafor atas kisah pembantaian massal di sepanjang tragedi kemanusiaan," kata Alia Swastika, kurator pameran bertajuk "Herstory".Semua karya Titarubi yang dipamerkan berkaitan dengan tubuh. Tengok saja I Wish I Had A River, Selaput, Melihatlah Lebih Dekat, Meretak, Bayang-Bayang Maha Kecil, Herstory About Foot, Her Story About Finger, Lindungi Aku dari Keinginanmu, dan The Silence Sound of War. Keseluruhan karya Titarubi berangkat dari refleksi pengalaman masa lalu dirinya dan perempuan lainnya. Wanita kelahiran Bandung 39 tahun lalu ini berusaha mengisahkan cerita menjadi upaya untuk mengungkap sejarah diri. Dalam menghidangkan karyanya, Titarubi juga menonjolkan keragaman ukuran, medium, bentuk, dan material seperti kayu, kaca, kain, batu, keramik, plastik, hingga besi. Besi-besi tua yang membentuk rel pada karya Kisah Tanpa Narasi, misalnya, merupakan hasil usaha panjang Titarubi mengumpulkan serpihan-serpihan rongsokan rel kereta pabrik gula. "Saya terperanjat. Saya pikir ia akan mengolah besi menjadi satu bentuk yang sama sekali baru," kata Alia. Ini merupakan pameran tunggal kesembilan Titarubi sejak 1995. Sebelumnya, lulusan Institut Teknologi Bandung ini sudah menggelar beberapa eksebisi seperti "Bayang-Bayang Maha Kecil" di Malang 2004, "Se(Tubuh)" di Yogyakarta 2002, dan "Yang Kelak Retak" di Jakarta 1995. Selain menghasilkan karya seni rupa, Titarubi juga telah memproduksi beberapa buku, diantaranya Modern Indonesian Art, From Raden Saleh to The Present Day (Koes Art Books, 2006), Indonesian Woman Artist: The Curtain Open (Yayasan Seni Rupa Indonesia, 2007), dan Thermocline of Art New Asian Waves (Hatje Cantz Verlag, 2007). TITO SIANIPAR

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?