Pudarnya Paradigma Hollywood-sentris di Dunia Perfilman

Reporter:
Editor:

Aisha Shaidra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Hollywood. wikipedia.org

    Hollywood. wikipedia.org

    TEMPO.CO, Singapura -Produser film Shanty Harmayn menuturkan saat ini ada pergeseran film. Menurut dia, film-film yang diproduksi saat ini tidak lagi berorientasi produk Hollywood.

    Shanty mencontohkan produser di beberapa negara seperti Cina, Vietnam, Rusia, dan kawasan Amerika Latin mulai fokus menggarap film-film yang mengandung nilai-nilai lokal (film lokal). "Saat ini paradigma Hollywood sentris sudah memudar," tuturnya dalam acara Singapore Media Festival 2017 di Art Science Museum, Selasa malam, 28 November 2017.

    Alhasil, Shanty menuturkan, film-film Indonesia juga memiliki kesempatan yang sama untuk bisa bersaing di tingkat internasional. Apalagi, dia melanjutkan, di era internet saat ini para sineas Indonesia, khususnya yang membuat film independen, bisa menyebarkan karya mereka.

    Shanty mengimbau para sineas Indonesia khususnya film independen untuk bekerja keras agar bisa menghasilkan karya berkualitas. Menurut dia, agar sebuah film bisa diakui di tingkat internasional, perlu proses panjang. "Jadi gak bisa tiba-tiba," tutur produser film Sang Penari itu.

    Menurut Deputi Bidang Pemasaran Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (Bekraf) Joshua Simandjuntak, kekuatan film Indonesia ialah pada jalan ceritanya. Dia mencontohkan film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak, sutradara Mouly Surya, yang memiliki unsur lokal ternyata diminati oleh masyarakat internasional. "Memang untuk menghasilkan film berkualitas gak bisa instan," ujarnya.

    Duta Besar Indonesia untuk Singapura Ngurah Swajaya menambahkan para produser Indonesia bisa mempopulerkan karya mereka ke tingkat internasional melalui festival-festival film. Dia mencontohkan para sineas dalam negeri, khususnya film dokumenter, bisa mempopulerkan karyanya dan mencari koneksi melalui Singapore Media Festival 2017. "Networking (jaringan) di sini (Singapura) bisa mendorong perkembangan industri film Indonesia," tuturnya.

    Singapore Media Festival digelar sejak 23 November sampai 3 Desember 2017. Festival itu digelar oleh Info-communications Media Development Authority (IMDA). Festival yang telah memasuki tahun ke empat itu memiliki beragam acara seperti Singapore International Film Festival, Asian Television Award, Asia TV Forum and Market, hingga Screen Singapore.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.