Sirup Aren dari Desa Terpencil Lebak  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO.CO, Jakarta - Sebagian wilayah Desa Sukasenang di daerah Lebak Banten adalah daerah yang terpencil. Bukan karena jaraknya yang jauh, bukankah Lebak hanya 3 jam perjalanan mobil dari Jakarta, tapi lebih karena aksesnya menuju ke sana sulit dan membutuhkan perjuangan berat.  Seperti jalan menuju kampung Babakan Kalapa, yang merupakan sentra industri gula aren, yang membutuhkan waktu perjalanan kurang lebih satu jam dari kantor Lurah Sukasenang,

    Untuk sampai ke lokasi ini, orang tak bisa mengendarai mobil, karena jalannya selebar 2,5 meter, dan terbuat dari batu-batu krakal dan tanah liat, yang sebagian besar rusak berat di musim hujan. Jalan ini nyaris hanya bisa dilalui dengan jalan kaki, atau dengan mengendarai sepeda motor, dan lebih aman motor pebalap. Dengan kontur tanah pegunungan yang cenderung ekstrim, kemungkinan terpeselet, terpental dan terjerumus ke jurang sangat mungkin terjadi.

    Pada pertengahan November 2016, saya dan rombongan berkunjung ke Desa Sukasenang Kecamatan Cijaku Kabupaten Lebak ini. Setelah makan bersama di kantor kelurahan, kami berangkat menuju Kampung Babakan Kalapa untuk melihat geliat industri gula aren di kampung terpencil ini. Sebelum berangkat, ada yang membayangkan kesulitan di medan kunjungan. “Tenang Pak, ini masih wilayah merah putih,” kata seorang sesepuh desa berseloroh serius.

    Setelah melalui perjalanan yang menegangkan, kami sampai ke sebuah rumah kampung yang terbuat dari bata-bata merah telanjang, tiang-tiang kayu, atap genteng dengan yang ujungnya agak menutupi pintu masuk – dan dipasangi spanduk bertuliskan “Selamat datang di sentra pengolahan aren Desa Vokasi PKBM Wiyata Bakti Kecamatan Cijaku Kab, Lebak Banten”. Begitu masuk, ada kayu panggung beralaskan tikar untuk menemui tamu, dan sebuah dapur terbuka dengan tungku-tungku besar berbahan bakar kayu, dan wajan besar. Lantai terbuat dari tanah padat.

    Di antara sejumlah bapak-bapak yang menemui kami di ruang tamu, di bagian pojok ada seorang gadis berkerudung mengemas botol-botol sirup yang bertuliskan “Sirup Aren Asli Cap Kawung, diproduksi oleh kelompok Belajar Usaha PKBM Wiyatabakti, didistribusikan oleh KSU Karya Bersama Kec. Cijaku Kab. Lebak”.

    Ya pada 2016 ini, Desa Sukasenang dipercaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk menjalankan program desa vokasi, yang dimaksudkan untuk mengembangkan sumber daya manusia dalam lingkup pedesaan, dengan mengembangkan layanan pendidikan keterampilan (vokasi) tertentu untuk mampu menghasilkan karya yang bernilai ekonomi berdasarkan potensi desa.

    Produksi aren di Kampung Babakan Kalapa dan sekitarnya ini sebetulnya sudah berlangsung berpuluh tahun lalu secara tradisional. Mereka juga memproduksi varian dari bahan aren ini berupa gula, kolang kaling dan pe-ed (yang berarti sirup tradisional). Ada sekitar 50 petani aren di kampung ini yang menggarap lahan seluas 35 hektare. Pohon aren di daerah ini masih tumbuh secara alami. Benih-benihnya berasal dari mulut-mulut musang yang memakan biji buah aren yang sudah matang. Untuk bisa menghasilkan aren, pohon-pohon ini membutuhkan waktu 6 sampai 10 tahun.

    Setelah masuknya program desa vokasi, produksi aren ini menjadi salah satu yang dikembangkan untuk bisa menjadi kegiatan ekonomi di desa ini, selain produksi tempe dan kedelai (blok Warunguyum), kerajinan anyaman (blok Cijaku), produksi olahan makanan (blok Cimanggu) dan budidaya lele (blok Pasireurih).

    Untuk meningkatkan nilai produksi aren, mereka melakukan beberapa langkah, Pertama, mereka kemudian terpikir untuk mengembangkan produk pe-ed menjadi sirup seperti yang dikenal masyarakat sekarang. Untuk meningkatkan wawasan teknologi produksi, mereka berkonsultasi dengan nara sumber dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Lebak. “Kami belajar dari sisi pengolahan, “ kata Aan Sunardi, Ketua Asosiasi Petani Gula Aren Lebak Selatan, salah satu yang ikut mengembangkan sirup aren ini.

    Kedua, mereka melalukan uji-coba peningkatan mutu, dan sejauh ini sudah dilakukan tiga kali uji coba. Uji coba pengolahan yang pertama gagal. Baru pada uji coba kedua, mereka mengadakan pelatihan pengolahan aren sesuai dengan prosedur  standar. Aspek pengolahan dan pengujian rasa diutamakan. Pada uji coba ketiga, mereka melakukan pelatihan dari aspek penguatan kekentalan, dan ketahanan. Kalau tidak diupayakan sedemikian rupa, sirup aren bisa hanya bertahan sebentar. Pelatihan yang diikuti 10 orang ini berlangsung selama dua bulan.

    Sekarang ini mereka sudah mampu memproduksi 500 botol per bulan dengan kemasan botol berisi 600 ml. Namun secara resmi, produk mereka belum bisa dipasarkan ke masyarakat, karena masih harus mengantongi izin dari lembaga terkait, seperti Majelis Ulama Indonesia untuk kehalalan dan dinas pemerintah yang lain berkaitan dengan izin pangan industri rumah tangga.

    Industri sirup aren ini memiliki prospek bisnis yang bagus. Rasa manis alami aren niscaya memiliki keunikan tersendiri. Dalam bentuk sirup, aren ini berfungsi sebagai gula dan sirup itu sendiri. Bagaimana tanggapan konsumen? Dalam sebuah pameran di Jakarta pada 2016, sirup aren cap Kawung ini laris manis. Sekarang pun banyak yang sudah membeli produk itu ke lokasi langsung. “Kami sekarang baru mempromosikan melalui Facebook,” kata Habibullah, 35 tahun, Ketua PKBM Wiyatabakti. * Kelik M. Nugroho


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pemerintah Pangkas 5 Hari Cuti Bersama 2021 dari 7 Hari, Tersisa 2 Hari

    Pemerintah menyisakan 2 hari cuti bersama 2021 demi menekan lonjakan kasus Covid-19 yang biasa terjadi usai libur panjang.