Malam Candu Pink Floyd

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta: Malam terus bergulir. Jarum jam telah lepas dari pukul 20.00. Satu sudut di pojok Omah Sendok, Jakarta Selatan, Selasa (11/7) malam lalu masih lengang. Hanya kursi kosong yang tertata rapi dengan dua mikrofon di atas meja. Di sebelah kanan, sebuah layar dipasang untuk memutar film.Tak lama, satu persatu tamu berdatangan. Mereka adalah orang-orang yang telah terinfeksi oleh grup musik besar bernama Pink Floyd. Grup yang kental dengan nuansa psychedelic dan beranggotakan Syd Barrett, Nick Mason, Roger Waters, Richard Wright, dan David Gilmour ini telah menjadi semacam wabah yang terus-menerus menebar pengaruhnya. Mereka datang untuk memperingati 40 tahun grup musik itu. Suasana hangat mulai terbangun ketika tuan rumah memutar film The Pink Floyd Chamber Suite for Grand Piano and String Quartet. Film tersebut menyuguhkan penampilan grup musik pimpinan Iain Jennings ini yang membawakan lagu-lagu dalam format musik kamar. Film musik itu berlangsung sekitar satu jam. Acara dilanjutkan diskusi dengan pembicara Andy Julias (Presiden Indonesia Progressive Society) dan Tommy Awuy (dosen filsafat Universitas Indonesia dan Institut Kesenian Jakarta). Kajian dari sisi musikalitas dan filsafat Pink Floyd mengemuka. Andi Julias membahas sisi musikalitas Pink Floyd. Ia melihat kualitas musisi Pink Floyd biasa saja. Pada zamannya, yang memiliki skill bermain di atas mereka juga ada. Kekuatan Pink Floyd justru terletak pada keliaran lirik dan keberanian melakukan eksperimen. "Kalau dilihat progressive chord-nya, mereka ini simpel. Apalagi setelah masuknya David Gilmour," katanya.Dari pengamatan Andi, justru yang memiliki skill di atas tiap anggota Pink Floyd adalah David Gilmour. Gitaris itu tahu sekali bagaimana memainkan instrumen petik ini secara benar. Keunggulan Pink Floyd pada masa itu pada eksplorasi teknologi yang luar biasa. "Mereka ini adalah grup band visual yang pertama kali," kata produser yang pernah membidani proyek solo Lilo "KLa Project" ini.Banyak musisi sekarang juga terbius Pink Floyd. Sebut saja grup Tool dari Los Angeles, yang dengan tegas mengaku sebagai pengikut Pink Floyd. Di Indonesia juga ada, tapi tidak langsung terpengaruh kepada grup musik ini. Andi Julias menyebut Nidji, yang musiknya terpengaruh Coldplay. "Coldplay sendiri terpengaruh Pink Floyd," tuturnya. Sedangkan Tommy Awuy, yang melihat sisi dari filsafat, mengatakan Pink Floyd memiliki struktur keliaran di bawah alam sadar. Grup asal Inggris ini punya kekuatan yang membuat pendengarnya melayang-layang. Mereka menjadi ikon counter culture saat itu dan memberikan peran besar untuk mengungkap alam bawah sadar manusia. "Seperti Waters, dia bukan penulis lirik biasa. Dia itu adalah seorang filsuf," ujarnya.Pink Floyd berhasil mewakili satu era yang muncul dari kultur hippies. Pengikut hippies senang melakukan eksperimen dengan obat untuk menghasilkan halusinasi, seperti LSD dan heroin. Maka ciri musik mereka berdurasi panjang dengan tema musik melayang. Selain itu, mereka rajin mencari simbol baru, seperti simbol perbintangan dan planet. Ini terjadi, kata Tommy, karena mereka jenuh terhadap simbol yang sudah ada.Para penggemar Pink Floyd malam itu punya pengalaman beragam dalam mengidolakan group ini. Bahkan ada yang bilang, "Saya tidak bisa tidur sebelum mendengarkan lagu Pink Floyd." Ada lagi yang mengaku anaknya diberi nama Floyd. "Kalau anak saya cewek akan saya kasih nama Pink," kata seorang lelaki muda dalam diskusi itu.Penyanyi Syaharani juga punya kesan khusus terhadap grup musik yang dia kenal ketika duduk di kelas dua sekolah dasar itu. "Grup ini adalah gambaran sebuah packaging yang perfect," kata Syaharani.Malam terus bergerak. Diskusi makin hangat. Membicarakan Pink Floyd yang menjadi candu bagi penggemarnya. l ANDI DEWANTO

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Revisi UU ITE Setelah Memakan Sejumlah Korban

    Presiden Jokowi membuka ruang untuk revisi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, disebut UU ITE. Aturan itu kerap memicu kontroversi.