Nonton Java Jazz Cara Kelas Menengah Unjuk Diri  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penampilan Agnes Monica saat mengisi pagelaran musik Internasional Java Jazz Festival (JJF) 2014 di JIExpo Kemayoran Jakarta, (2/3). TEMPO/Nurdiansah

    Penampilan Agnes Monica saat mengisi pagelaran musik Internasional Java Jazz Festival (JJF) 2014 di JIExpo Kemayoran Jakarta, (2/3). TEMPO/Nurdiansah

    TEMPO.COJakarta - Peneliti Center for Middle Class Consumer Studies (CMCS), Yuswohady, menilai animo masyarakat dalam menyaksikan konser, seperti Java Jazz Festival pada akhir pekan ini, belum tentu mencerminkan apresiasi terhadap musik sebenarnya. 

    Sebagian besar penonton konser musik sekarang ini diperkirakan berasal dari kalangan kelas menengah. Mereka belakangan ini tumbuh pesat dan punya daya konsumerisme tinggi karena memiliki uang lebih.

    Lantas, bagaimana kelas menengah jadi keranjingan jazz?

    Menurut Yuswohady, masyarakat kelas menengah memiliki salah satu elemen utama yang tak bisa dipisahkan, yaitu koneksi sosial melalui jejaring dunia maya. Dari koneksi tersebut muncul rasa ingin diakui.

    "Mereka memanfaatkan dunia maya untuk tampil. Tak penting konsernya, yang penting foto dan dipublikasi," kata Yuswohady saat dihubungi pada Kamis, 5 Maret 2015.

    Festival musik bertaraf internasional, Java Jazz Festival 2015, akan berlangsung di Jakarta International Expo (JIExpo), Kemayoran, Jakarta, 6-8 Maret 2015. Sejumlah musikus jazz dunia akan tampil di sana, seperti Chakha Khan, Chris Botti, dan Jessie J.

    Jumlah penonton festival tahunan ini besar. Pada tahun 2013 saja, jumlah penonton tercatat 107.372 selama tiga hari pelaksanaannya.

    Wabah koneksi sosial seperti ini, menurut Yuswohady, tak hanya terjadi pada dunia hiburan, tapi juga dalam hal keagamaan. "Umrah misalnya, mereka seolah ingin menunjukkan kelasnya dengan selfie."

    Yuswohady mengatakan, dalam dunia musik, jazz masih dianggap sebagai salah satu genre kelas atas. Musik ini masih identik dengan hal-hal yang berbau prestise, seperti tiket mahal dan musik Barat. Padahal dia yakin jumlah penonton yang benar-benar bisa memahami musik jazz hanya sedikit.

    Hal ini bisa dilihat dari animo para penonton. Pada perhelatan Java Jazz, misalnya, dari puluhan panggung yang ada, umumnya para penonton lebih banyak berkerumun di panggung musik yang bergenre non-jazz. "Ini ciri khas kelas menengah. Yang penting orang tahu kalau mereka beli tiket Java Jazz," katanya.

    Padahal, menurut dia, di Amerika, kampung asal jazz, musik jazz lebih identik dengan pementasan di panggung kecil seperti pub dan bar.

    FAIZ NASHRILLAH


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Empat Macam Batal Puasa

    Ada beberapa macam bentuk batalnya puasa di bulan Ramadan sekaligus konsekuensi yang harus dijalankan pelakunya.