Jepang Bayar Royalti Lagu Bengawan Solo Rp 100 Juta  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gesang ketika di Jepang pada 1994. Dok. TEMPO/Seiichi Okawa

    Gesang ketika di Jepang pada 1994. Dok. TEMPO/Seiichi Okawa

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Bagian Tata Usaha dan Hubungan Masyarakat Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Agung Damar Sasongko mengatakan pemerintah Jepang melalui lembaga penanganan hak cipta dan royalti di negara itu membayar royalti lagu Bengawan Solo karya Gesang Martohartono.

    "Royalti untuk lagu Bengawan Solo Rp 80-100 juta per tahun," kata Agung dalam diskusi yang diselenggarakan Intellectual Property Rights Watch di Restoran Kembang Goela, Setiabudi, Jakarta Selatan, Jumat, 19 Desember 2014.

    Menurut Agung, royalti tersebut akan digunakan untuk kepentingan sosial, karena almarhum Gesang tidak memiliki keturunan yang berhak menerima royalti lagu Bengawan Solo.

    Meskipun Jepang membayar royalti, Agung menegaskan, tidak berarti lagu Bengawan Solo boleh diklaim sebagai milik Jepang. "Mereka hanya membayar royalti,” ujar Agung.(Baca:Agar Gesang Jadi Nama Jalan di Surakarta)

    Agung menjelaskan, lagu Bengawan Solo diminati di Jepang karena bangsa Jepang menyenangi lagu bertema alam. Lagu lain yang bertema alam yang juga populer di Negeri Sakura adalah Berita Kepada Kawan karya Ebiet G. Ade. "Jepang kemudian menerjemahkan lagu-lagu ke dalam bahasa Jepang," ucapnya.

    Menurut Agung, pemerintah Indonesia telah membentuk Lembaga Manajemen Kolektif yang memiliki tugas dan fungsi menangani masalah yang berkaitan dengan pengurusan hak cipta dan royalti. Namun justru lembaga serupa di negara lain yang lebih peduli pada pemberian penghargaan terhadap hasil karya musik dan lagu dari Indonesia. "Kenapa bukan oleh LMK nasional?” tutur Agung.

    Keberadaan Lembaga Manajemen Kolektif tertuang dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta yang disahkan Dewan Perwakilan Rakyat pada 16 September 2014. Dalam beleid itu disebutkan bahwa Lembaga Manajemen Kolektif adalah institusi yang berbentuk badan hukum nirlaba yang diberi kuasa oleh pencipta, pemegang hak cipta, dan/atau pemilik hak terkait guna mengelola hak ekonominya dalam bentuk menghimpun dan mendistribusikan royalti.

    PAMELA SARNIA

    Terpopuler

    Dihujat FPI Soal Natal, Jokowi Dibela Ketua NU
    Kisah Ahok dan Keluarga Saat Diancam Preman Pluit 
    Deddy Mizwar Pejabat Tajir, Punya Rekening Gendut
    Heboh Insiden di Pesawat, Siapa Selain Dhani?
    Ahok Larang Motor, Fahrurrozi: Itu Bodoh


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pemerintah Pangkas 5 Hari Cuti Bersama 2021 dari 7 Hari, Tersisa 2 Hari

    Pemerintah menyisakan 2 hari cuti bersama 2021 demi menekan lonjakan kasus Covid-19 yang biasa terjadi usai libur panjang.