Kris Biantoro membesarkan Nama Koes Hendratmo

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kris Biantoro adalah seorang presenter sekaligus Master of Ceremony (MC) kondang pada era tahun 70-an. Pria Kelahiran 17 Maret 1938 di Magelang ini meninggal dunia pada umur 75 tahun di Cibubur pada (13/8). Dok.TEMPO/ Bernard Chaniago

    Kris Biantoro adalah seorang presenter sekaligus Master of Ceremony (MC) kondang pada era tahun 70-an. Pria Kelahiran 17 Maret 1938 di Magelang ini meninggal dunia pada umur 75 tahun di Cibubur pada (13/8). Dok.TEMPO/ Bernard Chaniago

    TEMPO.CO, Jakarta-Koes Hendratmo tak akan bisa melupakan jasa mendiang Kris Biantoro terhadap perjalanan karirnya sebagai pembawa acara terkenal hingga seperti sekarang. “Dialah yang membesarkan karir saya sebagai MC,” ujar Koes usai misa arwah di rumah duka Kris, kompleks Bukit Permai Cibubur, Selasa malam, 13 Agustus 2013.

    Koes ingat sekitar tahun 1980, Kris memperkenalkannya dengan Ani Sumadi, produser acara di Televisi Republik Indonesia. Dari sini, Koes kemudian mendapat banyak tawaran acara. “Salah satunya Berpacu Dalam Melodi yang masih tayang hingga saat ini,” katanya.   

    Dari sosok Kris, Koes banyak belajar bagaimana menjadi seorang pembawa acara. “Dia bilang, Dik, negeri ini lahannya luas, tapi petaninya sedikit,” kata Koes mengenang ucapan Kris. Semula ia belum paham maksud ucapan tersebut, barulah kemudian tahu, yang dimaksud adalah masih jarang yang jadi pembawa acara. “Besoknya saya datang ke rumahnya, waktu itu masih di Tebet, belajar bagaimana menjadi MC,” katanya.

    Setelah itu, ia kemudian mengikuti kemana saja Kris mengisi acara dari Medan hingga Indonesia Timur. Semula Koes membeli tiket pesawat sendiri, tapi ia memberikan ide bagaimana dirinya juga diikutkan sebagai penyanyi saat Kris tampil sebagai pembawa acara. “Dia bilang itu ide yang bagus, sejak itu saya enggak beli tiket pesawat lagi,” katanya.

    Sebagai wujud rasa hormatnya kepada Kris Biantoro, Koes menyanyikan lagu You Raise Me Up. Meskipun ruangan tamu penuh dengan pelayat, Koes hanya menatap ke peti jenazah Kris. Mukanya memerah, tarikan suranya penuh hingga matanya terpejam. Koes menyanyikannya hingga selesai. Sejenak, ia mendoakan Kris, lalu mengakhirinya dengan salam “Merdeka!”. Sebuah salam khas dari seorang Kris Biantoro.

    Menurut Koes, Kris adalah sosok yang yang tidak pernah berhenti berjuang. Itu tergambar dari buku kedua yang ditulis Kris, yang berjudul Belum Selesai. Kris mengatakan perjuangannya belum selesai. “Dia masih berjuang  dengan tenaga dan pikiran,” katanya.

    Kris Biantoro meninggal Selasa siang, pukul 12.30 di rumahnya yang berarsitektur joglo. Saat itu dia sedang memberikan makan peliharaan burung-burung yang ada di lantai dua. Tiba-tiba Kris terkulai lemas dan jatuh di kursi. Menurut Invianto Soebiantoro, putra pertama Kris, ayahnya meninggal karena jantung. “Menurut dokter karena komplikasi ginjal,” katanya.  

    IQBAL MUHTAROM


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman dan Nyaman Liburan Lebaran Idul Fitri 1442 H

    Ada sejumlah protokol kesehatan yang sebaiknya Anda terapkan kala libur lebaran 2021. Termasuk saat Salat Idul Fitri 1442H