32 Kelompok Teater Remaja Adu Kebolehan di Bandung

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pementasan teater

    Pementasan teater "Bila Malam Bertambah Malam" yang dibawakan oleh kelompok Teater Mandiri dalam gladi resiknya di Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis (20/6). Teater karya Putu Wijaya ini bercerita tentang cinta remaja dengan latar belakang perbedaan kasta di Bali. TEMPO/Dwianto Wibowo

    TEMPO.COBandung -Sebanyak 32 kelompok teater remaja  dari seluruh provinsi di Indonesia beradu akting di Festival Nasional Teater Remaja di Bandung, 3-6 Juli 2013. Kelompok yang tampil merupakan grup teater terbaik dari setiap provinsi. Mereka disaring dan dipilih pengamat, pemain teater, serta akademisi, yang menjadi kurator festival.

    Ketua panitia acara Edi Irawan mengatakan, pertunjukan teater remaja ini dibawakan secara modern, namun berakar pada nilai tradisi daerah, dan sepenuhnya hasil karya kelompok teater sendiri. "Lakonnya boleh legenda, fenomena sosial, atau kearifan lokal," ujarnya kepada Tempo di arena festival, Kamis, 4 Juli 2013.

    Setiap hari, akan digelar  8 kali pertunjukan di Gedung Sunan Ambu Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung. Menurut Edi, baru sekarang festival teater remaja bisa diramaikan oleh duta dari 32 provinsi. Satu provinsi, yaitu Maluku Utara, gagal mengirimkan kelompok teaternya karena salah membaca petunjuk teknis. "Mereka sangka pemainnya harus 17 tahun ke atas, padahal harusnya 17 tahun ke bawah," ujarnya.

    Syarat lainnya, kelompok teater yang lolos minimal telah lima  tahun berkiprah dan masih sering tampil di pentas pertunjukan. Mereka juga harus membawa rekomendasi Dewan Kesenian atau Taman Budaya di daerahnya masing-masing. Panitia menyiapkan belasan kategori juara, mulai dari 3 kelompok teater terbaik, aktor dan aktris, sutradara, hingga penata musik.

    Dewan juri Festival Remaja Nasional 2013 ini berjumlah 5 orang, yaitu Jose Rizal Manua, Erry Anwar, Yesmil Anwar, Koes Yuliadi, dan Dindon WS. Adapun peserta festival yang digelar Direktorat Pembinaan Kesenian dan Perfilman Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini diantaranya, Dapur Teater Pontianak, Teater Bangkit (Aceh), Salagracia (Bali), Hangtuah (Jakarta), Tasbe (Bandung), Tonggak (Jambi), dan Teater AFC (Yogyakarta).

    Juga ada Teater Hulonthalangi (Gorontalo), Cupido (Lampung), Bengkel Seni Embun (Maluku), dan Iriantos (Papua Barat). "Tema lakon yang diangkat menggambarkan mereka peka terhadap kondisi sosial, budaya daerah, dan kebangsaan. Festival ini banyak warna lokal," kata Yesmil Anwar, salah seorang juri. 

    ANWAR SISWADI




     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Satu Tahun Bersama Covid-19, Wabah yang Bermula dari Lantai Dansa

    Genap satu tahun Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Kasus pertama akibat virus corona, pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020.