Deddy Corbuzier, Memulai Kariernya di Usia 12 Tahun

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Deddy Corbuzier. TEMPO/Yosep Arkian

    Deddy Corbuzier. TEMPO/Yosep Arkian

    TEMPO.CO, Jakarta - Dulu, ketika ada yang menyebut nama Deddy Corbuzier, yang terbayang adalah seorang pria berambut panjang dikuncir dengan riasan tebal dan gaya rambut depan seperti Mickey Mouse. Orang juga langsung teringat aksinya membengkokkan sendok dengan elusan lembut pada acara Impressario 008 yang membuatnya populer seantero Indonesia. Dia juga terkenal lewat aksi menyetir mobil dengan mata tertutup dan tebakan kepala berita sebuah koran.

    Namun, kini, dia telah berubah rupa. Meskipun wajahnya tetap penuh dengan make up, kepalanya jadi plontos. Rambut panjang hitamnya telah ia babat dua tahun lalu. Akan tetapi, kepopulerannya tak menghilang seperti rambutnya. Hanya saja, sang mentalis–ia lebih suka dengan sebutan ini daripada pesulap–lebih sering bertanya daripada menyulap. Kini ia sibuk dengan berbagai acara televisi, seperti Hitam Putih. Ia juga menjadi juri Indonesia Mencari Bakat, The Master, dan The World Record.

    Di sela-sela kesibukannya, pria berusia 35 tahun ini menghabiskan waktu bersama putranya, Askanio Nikola Corbuzier, 6 tahun. Ia kadang-kadang menyalurkan hobi menulisnya di blog. "Saya juga mengajar bela diri wushu di rumah," ujarnya kepada Heru Triyono dan fotografer Yoseph Arkian dari Tempo, yang mengikutinya nyaris separuh hari, Selasa lalu.

    Deodatus Andreas Deddy Cahyadi Sundjojo atau Deddy Corbuzier dan aktor Mike Lewis terlibat percakapan di belakang panggung. Syuting acara Hitam Putih belum dimulai. Ini adalah talk show yang menjadi etalase utamanya saat ini. Dalam balutan jas dan celana hitam, Deddy asyik mengisap rokok. "Gue tidak bisa lepas dari rokok," ujarnya.

    Sejak SMA, ia sudah merokok. Itu karena ayah dan ibunya juga perokok. Kakeknya memiliki pabrik rokok di Malang. "Tidak ada orang memperkosa karena rokok. Tapi, ada orang memperkosa karena mabuk," kata pria keturunan Tionghoa ini.

    Bagi Deddy, ayahnya, Omar Sundjojo, adalah idolanya. Ayahnya merupakan orang yang paling berpengaruh di hidupnya. Ia mengatakan ayahnya membebaskan bidang apa yang akan ditekuninya, termasuk sulap.

    Deddy memang sudah tertarik sulap sejak kecil. Ia mengenal sulap lewat acara di televisi. Ketika itu ada pertunjukan pesulap Mark Wilson's di TVRI. Ia kagum melihat Mark mengeluarkan burung dari tangannya dan mengubah tongkat menjadi bunga. Melihat minat putranya, sang ibu, Heniwaty, membelikannya buku sulap. Dari buku itulah Deddy belajar sulap secara otodidak.

    Demi bisa membuat keajaiban dari sulap, ia rela tidak bermain mobil-mobilan atau bermain di luar rumah bersama teman-temannya. Ia tekun mempelajari trik sulap selama berjam-jam saban harinya. "Cita-cita saya memang jadi pesulap. Jadi, buat apa main keluar," kata anak bungsu dari tiga bersaudara ini.

    Semasa sekolah dasar, Deddy sudah bisa mempraktekkan sulap, meski masih sulap klasik.

    Deddy berkesempatan menyaksikan kehebatan pesulap dunia karena terus mengikuti ayahnya ke berbagai negara, termasuk Amerika dan Prancis. Di usia sekolah menengah pertama itu, ia sempat ikut dinas ayahnya ke Israel. Ayahnya merupakan manajer umum sebuah perusahaan mesin Jepang. Di Israel, Deddy bergabung dalam perkumpulan sulap International Brotherhood of Magicians. Ia mengikuti sejumlah seminar tentang sulap. Tak mengherankan, caranya membengkokkan sendok mirip Uri Geller, pesulap ternama Israel saat itu. Namun, Deddy mengaku tidak bertemu dengan Uri ketika berada di sana.

    Pada usia 12 tahun, ia memulai karier profesionalnya dengan tampil di pertunjukan sulap di Dunia Fantasi, Ancol. Saat remaja, Deddy sudah biasa manggung di berbagai hotel bintang lima di Ibu Kota. Bahkan, pada 1998, ia mulai merambah dunia televisi. Dari sekadar menjadi bintang tamu, lama-lama ia justru menjadi bintang utama di acara musikal Impresario 008 yang tayang di RCTI. Sejak ia tampil, acara sulap menjadi diminati penonton. Jika sebelumnya hanya sebagai acara sisipan, sulap naik derajat menjadi hiburan utama. Pesulap tidak lagi harus berpasangan dengan badut di acara ulang tahun anak kecil.

    Konsep sulapnya bukan ilusi, tapi mengandalkan konsentrasi dan kekuatan pikiran. Alirannya adalah mental magic, menggabungkan efek psikologi, kekuatan membaca pikiran, dan psikokinetik. Di dalam acara Hitam Putih, ia memasukkan unsur-unsur tadi dalam setiap pertanyaannya. Yang pasti, ia ingin performanya di panggung bisa menghibur. "Sulap tujuannya menghibur. Kalau tidak bisa menghibur, ya, gagal,” kata Deddy yang mengambil nama arsitek Prancis, Le Corbusier, sebagai nama belakangnya.

    HERU TRIYONO

    Terpopuler:

    Aaron Sorkin Buka Kisi-kisi Film Steve Jobs 
    Riza Arshad Meriahkan Festival Jazz Banyuwangi

    Ekspresi Jiwa Nana Melalui Bunga 

    Pameran Fotografi Kerajaan Gula di Yogyakarta 

    Film 360, Lingkaran Cerita Tentang Cinta dan Sunyi 

    Love In Paris Siap Hingga 70 Episode 

    Peragaan Busana Surabaya Rasa Halloween


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?