Terbius Salsa Biduanita Maroko  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pertunjukkan Sophia Charai di Salihara.(SALIHARA/WITJAK)

    Pertunjukkan Sophia Charai di Salihara.(SALIHARA/WITJAK)

    TEMPO Interaktif, Jakarta - Dengarlah alunan musik bercorak Arab yang memabukkan itu. Terkadang melenakan, tapi telinga kita dituntut selalu waspada. Tapi rupanya warna musik khas Arab itu hanya sebagai sisipan karena, tak lama berselang, ia segera berganti dengan gaya musik salsa, flamenco, atau groove Brasil, bahkan sesekali oriental.

    Begitulah pendendang Sophia Charai bersama lima musisi lainnya mengaduk-aduk rasa penasaran seluruh penonton yang memadati Teater Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa malam lalu. Charai diundang oleh Centre Culture Francais (Pusat Kebudayaan Prancis) di Jakarta dalam rangkaian Printemps Francais 2011.

    Malam itu Charai—penyanyi jazz kelahiran Maroko—mempersembahkan koleksi lagu yang diambil dari album-albumnya. Suguhan musiknya cukup unik karena ia mengemas semua lagunya dalam perpaduan unsur Timur dengan Barat.

    Boleh dibilang, warna Arabic sangat mendominasi tiap lagu. Tak dimungkiri, Charai bersama suaminya, Mathias Duplessy, yang juga pemain gitar dalam pertunjukan malam itu, banyak terlibat menciptakan soundtrack lagu untuk film Mesir atau India. Ia juga banyak mendengarkan musik jazz klasik dan siaran radio Prancis.

    Beberapa lagu yang ia suguhkan berbahasa Arab, tapi tak jarang berlirik Prancis. Charai tiba di Prancis pada usia 17 tahun. Lintas budaya ini memberinya banyak kekayaan fantasi dan improvisasi melodi.

    Charai juga mencoba menggabungkan genre yang sebetulnya rentan friksi jika komposer tak pandai menggabungkannya. Misalnya dalam lagu berjudul Habiba. Musik pembukanya sangat kental bercorak Arabic. Tapi, di tengah lagu, irama musik berubah menjadi flamenco. 

    Sebetulnya penggabungan genre apa pun dalam sebuah komposisi itu sah-sah saja. Tapi Charai bersama lima musisinya berhasil menggabungkannya menjadi cita rasa musik yang khas.

    Cita rasa musik yang khas juga terdengar ketika Mathias mencoba melakukan vocalizing dengan meniru instrumen dijeridu. Kemudian mengucap sesuatu seperti orang India merapal mantra. Kecakapan Mathias meniru seperti ini dalam lagu berjudul Bouhali menjadikan suasana semakin magis.

    Mendengarkan konser ini, kita akan terlelap dalam bermacam gaya musik dari pelbagai belahan dunia. Mereka bertumpuk dan memperkaya improvisasi, mulai gaya gitar gipsi, fado dari Portugis, corak India, Arab, beat Brasil, hingga swing jazz. Tiap instrumen memberi panduan terhadap gaya musik tertentu.

    Beat riang kerap mendominasi lagu, tapi ada juga lagu-lagu lembut. Irama waltz sesekali terdengar. Memang beginilah Charai menjaga mood pertunjukan. Ia mengajak berdendang melalui ritme yang disuguhkan. Tak mengherankan jika tepuk tangan penonton selalu menyertai setiap akhir lagu.

    Seperti saat lagu Casa didendangkan. Casa, yang berarti nama Kota Casablanca, tak lain adalah kota kelahiran Charai, menjadi sangat komunikatif. Selain musiknya riang, lagu ini mengaduk-aduk sedemikian rupa tempo permainan. Kadang sangat cepat, lalu tiba-tiba berubah menjadi lambat. Apalagi irama waltz meruap dalam lagu yang bercerita tentang gadis yang datang ke sebuah kota itu.

    Konser Charai bersama lima musisi lainnya, yaitu Yann Sury (biola), Herve Lebouche (drum), Mathias Duplessy (gitar), Stephen Bedrossian (kontrabas), dan Bestien Charlery (akordion), terdengar segar dan renyah. Semesta melodi yang sarat fantasi dan improvisasi.


    l ISMI WAHID

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sepak Terjang Artidjo Alkostar Si Algojo Koruptor

    Artidjo Alkostar, bekas hakim agung yang selalu memperberat hukuman para koruptor, meninggal dunia pada Ahad 28 Februari 2021. Bagaimana kiprahnya?