Dipo Alam dan Diplomasi Lukisan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO Interaktif, Jakarta - MELUKIS, bagi Sekretaris Kabinet Dipo Alam, bukan sekadar pengisi waktu senggang, melainkan juga untuk pertukaran budaya. "Sudah ada sebuah galeri lukisan di Tokyo yang memesan lukisan saya," ujar Dipo di rumahnya, Ahad pekan lalu. "Mereka meminta saya melukis wanita Indonesia memakai kimono dan wanita Jepang memakai kebaya," dia menambahkan.

    Dipo memilih aliran Orientalisme, dengan warna dominan hijau, biru, dan turquoise (biru kehijauan) untuk lukisannya. Aliran ini banyak diadopsi lukisan Timur Tengah dari Eropa pada abad ke-17 dan 18, misalnya di Maroko dan Turki. Setiap lukisan biasanya dia selesaikan dalam waktu dua bulan. Sayangnya, Dipo tidak mau menyebut harga lukisannya. "Pokoknya lumayan buat tambahan," katanya sambil tersenyum.

    Karya terbaru Dipo adalah lukisan Presiden Turki Abdullah Gul, yang melawat ke Indonesia pada Selasa pekan lalu. Dia menyelesaikan lukisan tersebut selama setahun. "Yang paling susah itu pencahayaannya," ujarnya. "Teknik ini membutuhkan sekolah sendiri, sedangkan saya kan tidak sekolah melukis."


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ada 17 Hari dalam Daftar Libur Nasional dan Sisa Cuti Bersama 2021

    SKB Tiga Menteri memangkas 7 hari cuti bersama 2021 menjadi 2 hari saja. Pemotongan itu dilakukan demi menahan lonjakan kasus Covid-19.