Geliat Seni di Jatiwangi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jatiwangi Artist in Residence Festival. (TEMPO/Aditya Herlambang Putra)

    Jatiwangi Artist in Residence Festival. (TEMPO/Aditya Herlambang Putra)

    TEMPO Interaktif, Musim panen padi dan liburan sekolah di tujuh desa di Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, tahun ini terasa beda. Rangkaian program Jatiwangi Artist in Residence Festival kembali menghangatkan geliat kesenian di daerah yang terkenal sebagai penghasil genting itu.

    Berbeda dengan festival pada 2006 dan 2008, kali ini perhelatan dua tahunan yang digagas Jatiwangi Art Factory itu digelar di tiap desa: Jatisura, Surawangi, Sutawangi, Sukaraja Wetan, Burujul Wetan, Leuweunggede, dan Loji. Biasanya, festival itu terpusat di Jatisura, markas Jatiwangi Art Factory--komunitas yang didirikan oleh dua bersaudara Ginggi dan Arief Yudi.

    Bersama 22 seniman dalam dan luar negeri, yang menetap di sana sepanjang dua pekan sejak 26 Juni lalu, warga membuat beragam karya seni. Video, film, lukisan, karya instalasi, musik, hingga kerajinan tangan mereka sajikan bergantian pada 7-9 Juli lalu. Di hari pertama, semarak festival ditandai dengan arak-arakan warga Desa Leuweunggede sambil memainkan musik tradisional obrog-obrog ke bendungan Cileuis. Di saluran airnya, anak-anak melarung perahu daun pisang buatan seniman Hiroyuki Hukuoka asal Jepang.

    Di Desa Sukaraja Wetan, pelukis dan pematung Nindityo Purnomo serta Mella Jaarsma dari Yogyakarta mengasah kreativitas anak-anak dengan bermain rumah-rumahan. Mereka dibebaskan menggambar denah rumah di atas selembar karton manila seperti arsitek, dari membuat rumah dan interiornya dalam kotak kardus sampai membangun rumah awal manusia dari tanah liat lengkap dengan karangan cerita dan bentuk orangnya. Lebih dari 100 karya itu dipamerkan di rak-rak bambu panjang untuk menjemur genting.

    Simak pula garapan warga bersama seniman asal Singapura, Jeremy Chu, dan Handy Hermansyah dari Bandung, Jawa Barat, yang membuat instalasi lampion. Di Desa Sutawangi, sekitar 120 lampion dipasang di atas kali irigasi sebagai penerangan. Untuk mengeratkan hubungan antarbangsa, Jeremy membuat metafora berbentuk bola dunia dari rangka bambu berdiameter 120 sentimeter. “Juga untuk mencintai ibu bumi,” ujar Jeremy.

    Kecintaan lain diwujudkan Rahmat Haron asal Malaysia lewat performing art di sawah. Bersama petani Desa Jatisura yang tengah memanen padi, seniman berambut gimbal itu ikut mengarit sambil berpeluh di siang bolong. “Bertani itu tak semudah makan,” katanya. Di sepetak lahan, penyair yang juga aktivis Amnesty International itu menyisakan batang-batang padi menguning untuk membentuk lambang hati. Pada karya video lainnya yang berjudul Piknik di Makam, Rahmat mengajak warga membersihkan pekuburan dan membakar semak belukar hingga malam.

    Berbeda dengan Rahmat, seniman Ghazi Alqudcy asal Singapura menggerakkan warga Desa Loji membuat film pendek berjudul Trio Dekil. Diperankan oleh anak-anak, cerita yang diadaptasi dari naskah kabaret karya ibu guru Cicih Surkasih itu aslinya berjudul Ibu Durhaka. Tema tentang ibu juga diusung Haseena Abdul Majid asal Singapura lewat lukisan batik berupa siluet ibu hamil yang dikelilingi tapak-tapak tangan berisi komentar anak-anak tentang ibunya.

    Sebagian seniman yang datang dari Malaysia, Singapura, Thailand, Sri Lanka, Jepang, Meksiko, Amerika Serikat, Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta itu mulus bekerja sama dengan warga setempat dalam membuat karya-karya mereka.

    Tapi Daniel Milan Cabrera punya cerita lain. Ia gagal mengajak anak-anak dan pemuda desa bermain musik tanpa ketukan. “Sepertinya mereka tidak suka, tapi saya tidak kecewa, senang-senang saja,” kata pemain gitar lagu-lagu rakyat Meksiko itu.

    Kurator festival Heru Hikayat mengatakan konsep kegiatan ini mengkondisikan seniman sebagai fasilitator bagi warga desa untuk mengangkat berbagai isu di lingkungan setempat. “Pertemuan seniman tamu dengan warga desa bukan hanya pertemuan dari budaya yang berbeda, melainkan juga paduan dari pandangan dunia dan kebiasaan mengekspresikan diri yang berbeda-beda,” kata Heru.

    Pada akhirnya, seniman harus berkompromi dengan warga ketika menuangkan idenya. Mereka pun harus menurunkan standar profesional mereka dan kualitas estetik. “Yang penting dalam kerja ini adalah proses, bukan hasil,” ujar lulusan seni rupa Institut Teknologi Bandung itu.

    Salah satu penggagas festival, Arief Yudi, senang karena warga desa telah banyak terlibat, tak lagi cuma menonton karya seniman-seniman asing di kampungnya. Jumlah kampung dan aparat desa yang turun tangan juga bertambah. “Secara keseluruhan, festival ini sudah melebihi apa yang kita harapkan. Dari semula hanya membuka mata warga, sekarang mereka telah menjadi kolaborator yang baik,” kata Arief menjelaskan.

    ANWAR SISWADI


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?