Jurnalis di Malang Kritisi Film Senyap

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Adegan film Senyap. filmsenyap.com

    Adegan film Senyap. filmsenyap.com

    TEMPO.CO, Malang - Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Malang dan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia mengkritisi Film Senyap (The Look of Silence) karya sutradara Amerika Serikat, Joshua Oppenheimer. Film Senyap adalah film dokumenter mengenai pembantaian massal 1965 di Sumatera Utara.

    Film tersebut bercerita mengenai keluarga Adi Rukun yang mengetahui bagaimana kakaknya, Romli, dibunuh dan siapa yang membunuhnya. Sebagai adik bungsu, Adi Rukun bertekad memecah belenggu kesenyapan dan ketakutan yang menyelimuti kehidupan para korban pembantaian massal itu. Caranya, Adi mendatangi mereka yang bertanggung jawab atas pembunuhan kakaknya.

    Sehari-hari, Adi Rukun adalah tukang kacamata yang membantu orang untuk bisa melihat lebih jelas. Saat memakaikan kacamata kepada para pasiennya itulah dia juga bertanya-tanya hal ihwal peristiwa PKI. (Baca: Acara Nonton Film Senyap Sempat Pindah Tempat)

    Menurut Mejelis Etik AJI Malang Abdi Purmono, Joshua menyampaikan kritik atas sejumlah aspek seperti keterlibatan tokoh anak-anak dalam film tersebut. "Kenapa kedua anak Adi Rukun dilibatkan dalam film itu," kata Abel sapaan akrab Abdi Purmono, Rabu 17 Desember 2014.

    Abel berpandangan, kedua anak Adi Rukun tak perlu ditampilkan karena jiwanya bisa terancam. Mengngat kasus pembunuhan massal 1965 masih resisten di kalangan rakyat Indonesia. "Anak-anak harus dilindungi," kata Abel.

    Kritik Abel selanjutnya, Joshua seharusnya memberikan perlindungan kepada Adi Rukun dan keluarganya. Sebab, saat ini Adi Rukun juga mendapat ancaman fisik dan informasinya sering berpindah tempat.  "Joshua tak menghitung efek yang terjadi di masyarakat."

    Film Senyap diputar serentak pada 10 Desember 2014 di berbagai tempat. Pemutaran ini sekaligus memperingati hari Hak Asasi Manusia. Di beberapa kota acara pemutaran film ini dibatalkan, karena ditentang oleh sejumlah kelompok.

    Joshua, Abel melanjutkan, tak terus terang menyampaikan pelaku pembunuhan jika proses pengambilan gambar untuk kepentingan pembuatan film dokumenter. Terbukti sejumlah pelaku pembunuhan memprotes dan meminta pengambilan gambar dihentikan. Cara Joshua ini, dinilai oleh Abel, sama dengan film Jagal yang diproduksi sebelumnya.

    Ketua IJTI, Hendro Mardiko, menganggap Film Senyap baru melihat satu sudut pandang korban, tapi mengabaikan perspektif pelaku. "Film dokumenter merupakan karya jurnalistik. Kami berhak mengkritisi," kata Hendro.

    Hendro juga mempertanyakan sumber dana pembuatan film. "Distribusi film tertutup, tak jelas siapa yang mendistribusikan film ini di Indonesia. Penyelenggara pemutaran film cukup mengajukan pemutaran film melalui laman filmsenyap.com."

    AJI dan IJTI Malang memutar film itu di Kantor Sekretariat IJTI Malang, Selasa 16 Desember 2014. Dihadiri sekitar 20 jurnalis dan dilanjutkan dengan diskusi. Acara ini sempat didatangi tiga orang dari organisasi kemasyarakatan. Namun, setelah dijelaskan bahwea pemutaran film dilakukan internal jurnalis, mereka tak keberatan.

    EKO WIDIANTO

    Berita Terkait


    Heboh Film I Can Hear Your Voice, Ipin Upin Juara
    Komnas HAM Dukung Pemutaran Film Senyap
    Film Senyap Bak 'Pucuk Dicinta, Ulam Tiba'


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi dan Tantangan Jozeph Paul Zhang, Pria yang Mengaku Nabi Ke-26

    Seorang pria mengaku sebagai nabi ke-26 melalui media sosial. Selain mengaku sebagai nabi, dia juga melontarkan tantangan. Dialah Jozeph Paul Zhang.