Selasa, 13 November 2018

Pentolan Teater Gandrik Heru Kesawa Murti Meninggal Dunia

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Yogyakarta - Pentolan Teater Gandrik, Yogyakarta, Heru Kesawa Murti, 54 tahun, meninggal dunia hari ini, Senin 1 Agustus 2011 pukul 12.00 WIB. Diduga, Heru meninggal dunia di rumahnya lantaran penyakit jantungnya kambuh.

    "Tadi pagi masih ke padepokan (Padepokan Bagong Kussudiardja). Tapi terus pamit karena mengeluh pusing," kata seniman Djaduk Ferianto kepada Tempo di rumah duka di bilangan Tegal Senggotan, Tirtonirmolo, Bantul, Yogyakarta.

    Menurut Djaduk, yang juga sepupunya, Heru telah lama menderita penyakit jantung. Namun sampai saat ini belum pernah dioperasi. "Ada rencana operasi. Tapi belum kesampaian," ujar Djaduk.

    Lantaran sakitnya pula, lanjut Djaduk, setiap pentas selalu ada oksigen yang disiapkan untuk Heru. Djaduk mengaku kaget dengan kepergian Heru yang tiba-tiba. Padahal Ahad malam kemarin mereka bersama seniman lain berkumpul di padepokan untuk membahas kelanjutan nasib Teater Gandrik yang lama mati suri. "Kami berencana bikin acara. Tapi Heru keburu dipanggil Tuhan,” katanya.

    Sejumlah seniman tampak hadir di rumah duka, seperti Djaduk Ferianto, Butet Kartarajasa, Besar Widodo, dan Susilo Nugroho. Lawan main Heru dalam sandiwara TVRI, Mbangun Desa, Susilo alias Den Baguse Ngarso, tampak sangat terpukul. Usai melihat jenazah, Susilo keluar rumah dengan wajah sedih dan diam. Dia tampak enggan berkomentar. "Saya sedih," ucap Susilo.

    Heru meninggalkan seorang istri, Yayuk, serta dua orang anak, Aditya Prameswara dan Surnia. Rencananya jenazah akan disemayamkan semalam di Padepokan Bagong. Selasa esok, sekitar pukul 14.00, jenazah akan dimakamkan di makam keluarga seniman di Gunung Sempu, Bantul. Makam itu juga tempat peristirahatan seniman besar Bagong Kussudiardja.

    PITO AGUSTIN RUDIANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hari Ayah, Diprakarsai Bukan oleh Para Bapak

    Setiap tanggal 12 November kita memperingati Hari Ayah yang ternyata diprakarsai bukan oleh para bapak tapi oleh Perkumpulan Putra Ibu Pertiwi.