Pameran Bersama Perupa dari Tiga Kota  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • "Lagu untuk negeri" karya Made Gunawan. (TEMPO/HERU CN)

    TEMPO Interaktif, Jakarta - p { margin-bottom: 0.08in; }Delapan perupa dari Bali, Banjarmasin dan Yogyakarta menggelar pameran bersama bertajuk “Solitude of The Earth” di Bentara Budaya Yogyakarta, sepanjang 12-19 Oktober 2010. Mereka adalah Antonius Kho, Nyoman Sujana Kenyem, Made Supena, Made Gunawan, Putu Edy Asmara Putra, Sulistyono, Uce Alamsyah Lubis alias Oetje Lamno dan Indra Dodi.


    Para perupa itu sudah sering menggelar pameran tunggal atau pameran bersama di luar ngeri. Namun, mereka tetap punya kerendahan hati untuk menggelar pameran dengan sasaran publik lokal. Sebelum menggelar pameran bersama di Bentara Budaya Yogyakarta, mereka adalah peserta Beijing Biennale 2010 yang berlangsung di Museum Seni Nasional Cina, 20 September hingga 10 Oktober 2010 lalu.


    “Bagi saya, Yogya tetap menarik. Banyak pelajar, mahasiswa dan kalangan terdidik yang antusias datang ke pameran. Ini jarang ditemui di kota-kota lain, bahkan di Bali sekalipun,” kata Made Gunawan, 37 tahun, yang pernah menggelar pameran tunggal di Malaysia dan pameran bersama di Singapura ini.


    Dari empat karya yang dikirim ke kurator Beijing International Art Biennale 2010, satu karyanya berjudul Tri Hita Karana dinyatakan lolos seleksi. Lukisan sosok manusia yang sedang memegang bibit tanaman ini bercerita tentang hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.


    Made Gunawan memuji penyelenggara Beijing International Art Biennale 2010 yang dinilainya sangat profesional. Peserta tidak perlu repot mengirim karya yang lolos seleksi, karena diambil langsung oleh pantia penyelenggara. Para peserta dari 85 negara juga ditempatkan di hotel mewah di Cina.


    “Saya baru tahu, banyak peserta yang dibiayai pemerintahnya masing-masing. Sedangkan peserta Indonesia justru berangkat ke Beijing atas biaya sendiri,” katanya.


    Pada pameran “Solitude of The Earth” di Bentara Budaya ini, Made Gunawan mengusung satu karya berjudul Lagu untuk Negeri yang terdiri atas tiga panel. Masing-masing panel menampilkan sosok badut yang sedang memainkan alat musik (biola, seruling dan gendang) dengan latar belakang notasi balok lagu wajib Satu Nusa Satu Bangsa.


    Melalui karya itu Made Gunawam ingin mengajak seluruh rakyat Indonesia bersatu, tanpa harus membedakan suku, agama dan ras, seperti semangat lagu wajib Satu Nusa Satu Bangsa. “Saya ingin masyarakat menghayati lagu itu, bukan memperlakukannya sebagai hiburan semata,” katanya.


    Adapun perupa Putu Edy Asmara Putra, 28 tahun, yang sudah dua kali berturut-turut menjadi peserta Beijing International Art Biennale ini mengusung beberapa karya pada pameran “Solitude of The Earth” di Bentara Budaya Yogyakarta. Salah satunya adalah karya bertajuk In a Bad Way yang mencampurkan karya digital print, cat akrilik dan tinta.


    In a Bad Way menampilkan sosok Putu Edy yang kepalanya masuk ke pipa besi berkarat. “Ini potret kondisi alam di Cina yang sudah sangat polusi. Selama beberapa hari di Cina, saya tak pernah melihat langit biru karena udaranya memang sudah sangat tercemar,” katanya.


    Peserta pameran “Solitude of The Earth” di Bentara Budaya Yogya ini memang sudah punya pengalaman pameran di luar negeri. Anthonius Kho, 52 tahun, misalnya, selain pernah tinggal lama di Jerman, ia juga pernah mendapat penghargaan dari Biennale Canada tahun 2000 dan Art Addiction Annual di Venice tahun 1998. Ia lolos menjadi peserta Biennale Beijing 2010 lewat karyanya yang berjudul I Love You Full.


    Adapun Nyoman Sujana Kenyem, 38 tahun, sering menggelar pameran tunggal dan pameran bersama di sejumlah negara, antara lain, Swedia, Singapura, Korea, Australia, Myanmar, dan sejumlah kota di Indonesia. Sedangkan Made Supena, 40 tahun, pernah menggelar pameran di Frankfrut, Jerman, dan pemegang penghargaan Philip Morris Art Foundation dan finalis The Windsor-Newton.


    Kemudian, Sulistyono, 43 tahun, adalah pemegang penghargaan Exellent Prize pada Asia Contemporary Art Biennale Beppu, Jepang, pada 2007. Sedangkan dua perupa Yogyakarta, Uce Alamsyah Lubis alias “Oetje Lamno”, 32 tahun, dan Indra Dodi, 30 tahun, juga punya catatan pameran di luar negeri.


    Boleh jadi, ke delapan perupa tersebut merupakan pengecualian dari kecenderungan para perupa terkenal yang melupakan publik lokal setelah merasakan nikmatnya pameran di luar negeri. Pameran “Solitude of The Earth” di Bentara Budaya Yogya ini bahkan terkesan senafas dengan Beijing International Art Biennale 2010 yang bertemakan “Environmental Concern and Human Existence”.



    HERU CN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Meredakan Sakit Gigi Dengan Bahan Alami

    Rasa nyeri yang menusuk dari sakit gigi sangat menyiksa. Namun hal tersebut bisa diatasi dengan bahan-bahan alami yang dapat diperoleh dengan mudah.