Anji Berharap Bidadari Tak Bersayap Lebih Sukses Ketimbang Dia

Kamis, 18 Mei 2017 | 16:11 WIB
Anji Berharap Bidadari Tak Bersayap Lebih Sukses Ketimbang Dia
Penyanyi Erdian Aji Prihartanto atau biasa dikenal dengan Anji bersama anaknya Saga Omar Nagata saat menghadiri pembukaan Rockstar Gym di Kota Kasablanka, Jakarta (23/1). TEMPO/Nurdiansah

TEMPO.CO, Jakarta - Penyanyi Erdian Aji Prihartanto alias  Anji meluncurkan single baru berjudul Bidadari Tak Bersayap. Dia menyatakan tidak khawatir kendati penjualan fisik tengah lesu di pasar musik Tanah Air, penjualan digital sudah cukup menjanjikan. Anji akan tetap selalu optimis untuk terus berkarya sebagai seorang musisi.



Optimisme Anji tersebut bukan tanpa alasan. Sebuah lagunya berjudul Dia berhasil menghasilkan pundi-pundi rupiah hingga Rp 7 miliar lewat penjualan digital seperti RBT, Youtube dan iTunes. Dia ingin lebih sukses lagi dengan Bidadari Tak Bersayap.



"Lagu Dia mendapat penghargaan 7 platinum, seharusnya hari ini dapat 8 platinum. Dan terjual digital sebanyak Rp 7 milliar," cerita Anji dalam peluncuran single terbarunya berjudul Bidadari Tak Bersayap di bilangan Antasari, Jakarta Selatan, Rabu, 17/5.



Anji mengakui bahwa lagu Dia merupakan penghargaan terbesar yang pernah diterimanya sepanjang berkarier di jagat musik Indonesia. "Baik dari segi popularitas lagu maupun dari segi platinum."



Namun, suami Wina Natalia ini tak mau dibebani oleh suksesnya lagu Dia di dalam berkarya. Sebagai seorang musisi, Anji berusaha menghasilkan karya lebih baik dari sebelumnya.



"Selalu ada pertanyaan ini dengan kesuksesan Dia. Enggak (terbebani). Karena buat seorang musisi atau seniman tanggung jawabnya adalah menghasilkan karya yang lebih bagus atau sebagus karya sebelumnya," kata Anji.



Namun kalau boleh berharap, Anji ingin lagu Bidadari Tak Bersayap yang baru dirilisnya bisa lebih sukses lagi ketimbang lagu Dia. "Saya bingung kalau ditanya target. Mudah-mudahan aja lebih bagus dari lagu Dia."



TABLOIDBINTANG.COM

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan