Buku tentang Ratu Hemas Terbit, Ini Resensinya

Senin, 16 Januari 2017 | 17:28 WIB
Buku tentang Ratu Hemas Terbit, Ini Resensinya
Sampul buku GKR Hemas.

TEMPO.CO, Jakarta -  Koran Tempo edisi akhir pekan Sabtu, 14 Januari, memuat resensi buku berjudul Memaknai Tumbuk Ageng GKR Hemas karya Dr. Faraz. Berikut resensinya.



Sosok GKR Hemas, permaisuri Sri Sultan Hamengku Buwono X, Raja Kasultanan Yogyakarta, tentu menarik untuk diketahui publik, dan karena itu profilnya menarik untuk ditulis dalam sebuah buku. Paling tidak ada buku GKR Hemas: Ratu di Hati Rakyat yang ditulis oleh sebuah tim, antara lain beranggotakan Indra Syamsi, dan diterbitkan Penerbit Buku Kompas pada 2012. Buku ini bukan biografi utuh yang ditulis oleh GKR Hemas, tapi ditulis oleh orang-orang di sekitar Hemas ketika mulai berkiprah di lingkungan keraton hingga menjadi Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI. Kisah cinta Hemas-Sultan juga diungkap dalam buku ini.

Yang masih hangat, pada 21 Desember 2016, buku lain berjudul Memaknai Tumbuk Ageng GKR Hemas yang disunting Dr Faraz MM terbitan PT Kanisius diluncurkan di Kota Yogyakarta. Buku ini memuat tulisan-tulisan dari para kontributor yang memiliki kompetensi di bidang masing-masing tentang sosok GKR Hemas. Ide ini digagas Komunitas Peduli Pluralisme Yogyakarta yang ingin memberikan kado ulang tahun ke-64 untuk GKR Hemas. Buku ini menurut penyuntingnya memunculkan fakta-fakta baru yang menarik dan belum terungkap sebelumnya.

Buku ini terdiri atas tiga bab, pertama “Bugenvil dalam Bejana Pualam”, kedua “Sosok Pemimpin Penuh Perhatian”, ketiga “Ratu dengan Satu Juta Suara”. Tulisan-tulisan yang ditulis oleh para kontributor dengan berbagai profesi antara lain kiai, anggota DPD RI, pejabat, akademikus, budayawan, sastrawan, dan wartawan ini menggunakan berbagai cara penulisan. Ada yang menulis dengan cara analisis-akademis, ada yang menulis seperti menulis kolom di koran, dan ada yang menulis seperti mengukir catatan kenangan.

Penulisan buku untuk tokoh sekaliber GKR Hemas dengan cara yang dipakai buku ini memang mengandung keunggulan, antara lain gagasan dari para penulis bisa disampaikan secara utuh. Lalu penulisan bisa memunculkan berbagai sudut pandang. Dan yang lebih penting, semakin banyak penulis yang menulis tentang GKR Hemas, baik dari sumber primer maupun sekunder, pengumpulan fakta-fakta tentang si tokoh akan semakin lengkap. Hanya, cara ini juga mengandung kelemahan, antara lain kemungkinan terjadinya tumpang-tindih informasi tentang si tokoh, sesuatu yang sebetulnya bisa dihindari dengan penyuntingan yang ketat, namun sayangnya hal itu terjadi pada buku ini.

Apa yang akan didapatkan pembaca dengan membaca buku ini? Sebelum ke sana, harus Anda ingat bahwa sejatinya sosok permaisuri sebuah kerajaan umumnya adalah figur sakral dan tertutup untuk diketahui publik; juga umumnya sosok permaisuri adalah sosok yang jauh dari kegiatan sosial dan politik. Karena itu, jika buku ini mengupas sosok permaisuri kerajaan yang membalik semua anggapan itu, tentu itu saja sudah merupakan hal yang menarik dan suatu prestasi sendiri bahwa buku ini bisa mengungkapnya.

Secara umum, buku ini mengupas sosok GKR Hemas sebagai, yang pertama, figur permaisuri sebuah kerajaan yang memiliki jiwa progresif; kedua, figur pribadi yang memiliki kepribadian yang penuh perhatian, mempunyai empati yang tinggi, dan memiliki ketegasan; dan ketiga, figur yang memiliki peran sosial dan politik secara nasional.

Sebagai permaisuri kerajaan, figur GKR Hemas memiliki posisi krusial, karena beberapa hal: pertama, Hemas adalah seorang ratu yang hidup pada abad ke-21 yang ditandai dengan kehidupan modern dan masyarakat demokrasi; kedua, Hemas adalah seorang ratu yang lahir dari keluarga bukan darah biru yang memiliki tata nilai modern yang berbeda dengan tata nilai tradisional Keraton; ketiga, Hemas adalah seorang ratu ketika Indonesia berada pada era transisi dari rezim otoritarian Orde Baru ke era reformasi.

Ketiga hal ini sebagian dikupas dalam buku ini. Posisi krusial Hemas sebagai pribadi yang berlatar belakang orang biasa dengan tata nilai modern digambarkan secara tepat oleh Kiai Muhammad Jazir ASP, penasihat Sri Sultan Hamengku Buwono X dan pengurus Takmir Masjid Jogokaryan Yogyakarta, dalam artikel berjudul “Wanodya: Linuwih, Adilihung”. “Kehidupan GKR Hemas di ruang internal Keraton dan lingkungan masyarakat Yogyakarta merupakan ruang yang sangat sempit, beliau terimpit oleh aturan adat yang masih bias gender. Banyak aturan adat yang sering kali tidak sesuai dengan hati nuraninya. Beliau sering secara tidak sadar melangkah berdasarkan hati nuraninya. Akibatnya, banyak sikap dan langkahnya yang dianggap di luar pakem tradisi Keraton. Menariknya, beliau berhasil mengatasi berbagai impitan budaya dan tradisi tanpa gejolak, “ demikian menurut Kiai Jazir.

Sementara itu, peran sosial dan politik secara nasional dari GKR Hemas ditulis secara dari dekat oleh koleganya, Djasarmen Purba SH, Wakil Ketua PPUU DPD RI, anggota DPD RI 2014–2019 asal Provinsi Kepri. Djasarmen menuliskan bahwa dia mengikuti sepak terjang GKR Hemas dalam perjuangan memperkuat kelembagaan DPD RI dengan, antara lain, mengajukan uji materi Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2009 dan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 ke Mahkamah Konstitusi mengenai Pasal 22 D UUD 1945 tentang kesetaraan hak antara lembaga DPD dan DPR. Djasarmen juga menulis bahwa GKR Hemas seorang aktivis kemanusiaan, dan pemerhati diskriminasi gender.

Demikianlah gambaran isi buku ini. Tak ada yang sempurna dalam mencoba menuliskan biopik seorang tokoh, apalagi sekaliber GKR Hemas. Seperti isi tulisan G. Budi Subanar, pengajar Program Magister Ilmu Religi Budaya Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. “Kalau beberapa konteks peristiwa besar sebagai saat-saat kritis itu didalami, biografinya tentu semakin kokoh; menghadirkan Bu Ratu yang memang berakar pada konteks masyarakat dan sejarahnya; seorang Bu Ratu yang kiprahnya melewati tikungan-tikungan tajam.” *



 



Kelik M. Nugroho, wartawan, penulis, pencipta lagu, dan aktivis pendidikan



 



+++



 



MEMAKNAI TUMBUK AGENG GKR HEMAS



 



Penyunting      : Dr. Faraz MM (coordinator)



 



Penerbit           : PT Kanisius, Desember 2016



 



Jumlah halaman: xxii+244



 



ISBN               : 978-979-21-5091-9



 



 



 



 

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan

Berita Terbaru