Seniman Tua dan Muda di Yogya Tampil Bareng di Pentas Jurang

Rabu, 18 Maret 2015 | 01:56 WIB
Seniman Tua dan Muda di Yogya Tampil Bareng di Pentas Jurang
Aktor dari Sakti Aktor Studio beraksi dalam Forum Teater Realis bertajuk "Bang Bang You're Dead" di Teater Salihara, Jakarta. (ANTARA)

TEMPO.CO, Yogyakarta - Sebanyak 16 seniman teater Yogyakarta yang bergabung dalam komunitas Teater Rondjeng bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan setempat berencana mementaskan lakon "Jurang". Acara berlangsung di Gedung Societed Yogyakarta pada 19 dan 20 Maret 2015 mendatang.

Pementasan tersebut merupakan pertunjukan perdana teater beraliran realis yang tenggelam semenjak tokohnya, Pedro Sudjono, pendiri Teater Muslim meninggal pada 1997. "Kami ingin merevitalisasi teater realis agar hidup kembali. Karena sudah langka," kata Kepala Seksi Rekayasa Budaya Dinas Kebudayaan DIY Agus Amarulloh di Taman Budaya Yogyakarta, Selasa, 17 Maret 2015.

Selain mementaskan aliran realis, seniman teater yang dilibatkan adalah teaterawan senior seperti Fajar Suharno yang melahirkan Teater Dinasti yang kini berusia 70 tahun. Ada pula Tertib Suratmo (75 tahun), Like Suyanto (72 tahun), Hasmi (69 tahun), Bambang Darto (65 tahun), Bambang Susiawan (62 tahun), Heru Sambawa (62 tahun), Tri Sudarsono (57 tahun), juga Watie Wibowo (56 tahun).

Sedangkan teaterawan muda yang terlibat seperti Hanung Bramantya yang sekarang menjadi sutradara film, pemain ketoprak Titik Renggani, juga Triyanto Hapsoro alias Genthong. "Karena selama ini seniman teater senior kurang disapa. Ketika meninggal pun tidak menjadi berita besar," kata sutradara pentas "Jurang" Agustinus Budi Setianto alias Agoes Kencrot.

Padahal, lanjut Agoes, semangat para seniman teater usia lanjut itu masih tinggi. Mereka datang satu jam sebelum latihan dimulai. Justru yang muda acapkali terlambat datang.

Agoes menjelaskan, keberadaan teater realis mulai surut semenjak WS Rendra memperkenalkan teater non-realis. Rendra mengenalkan teater yang lebih banyak memunculkan simbol, baik dalam perkakas panggung, gerakan, maupun dialog yang cenderung puitis. "Kalau realis itu apa adanya. Suasana kantor digambarkan ada meja, kursi, lemari. Kalau bukan realis cukup simbol meja saja," kata Agoes panjang lebar.

Sejak WS Rendra memperkenalkan teater non-realis, banyak seniman teater yang berkiblat pada Rendra. Hanya pedro yang bertahan dengan Teater Muslimnya. Sayangnya, Pedro tidak melakukan regenerasi. Sehingga sejak dia meninggal dunia, tak ada yang meneruskan aliran realis.

PITO AGUSTIN RUDIANA



 





Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan