Sudut Malam Jakarta

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta: Pekikan Vikitra (Luna Maya) meneriakkan nama adiknya, Ara (Kenshiro Arashi), memecah kegelapan malam di pinggiran Jakarta. Suara itu sama membahananya dengan teriakan ancaman Haryo (Lukman Sardi) kepada penari klub malam itu. Lalu senyap. Sebuah adegan flashback dengan sudut pengambilan cepat kemudian muncul. Adegan itu menggambarkan ingar-bingar klub gay dan lesbian, Overlust, yang menampakkan geliat pemancing syahwat para penari waria yang saling bercumbu di antara wanita dan pria. Itu ditingkahi musik disk jockey Iren (Laura Antoinetta) yang bermata elang. Aktivitas di ruang rias tak kalah meriah. Para waria berdandan sebelum pentas tari striptis. Kegaduhan pecah, seekor ular putih keluar dari laci. Itu menjadi kesempatan bagi Viki menyembunyikan adiknya, Ara, ke dalam laci ruang pertemuan. Ia ditemani Amanda (Fachri Albar), yang meyakini adiknya yang penderita autisme itu aman di sana. Ara selalu membisu walau bisa bicara. Ia dibawa ke mana-mana karena Viki tak ingin pelariannya karena membunuh ayahnya (Ray Sahetapy) secara tak sengaja diketahui polisi. Itu cuplikan kisah film Jakarta Undercover, yang diangkat dari buku laris Jakarta Undercover karya Moammar Emka tentang kehidupan malam Jakarta. Selama 15 menit pertama, roh Jakarta Undercover dari buku memang tampil dalam film. Kisah ini menyajikan potret kehidupan malam sebagai daya tarik dan benang merah. Tapi di sini, yang ditampilkan hanya kehidupan malam dunia para gay dan lesbian. Tidak ada karakter yang mencitrakan seks lebih umum, kecuali dari gambar sekilas di permulaan. "Saya maklum film tidak sama persis buku. Itu mengilhami saja," ujar Moammar Emka. Buku tak mungkin mengungkap seks dari tataran kegilaan di film. "Pasti nggak lolos sensor," ucap lelaki yang karyanya sukses di Singapura dan didistribusikan sampai Amerika dan London itu.Judul ini memang menghebohkan. Mungkin banyak yang salah duga dan menganggap isi buku sama dengan film. Padahal kisah ini mewakili secuil dari 20 kisah yang ditulis Emka. Dalam film ini, penari striptis tetap "sopan" berbaju. Bahkan adegan sensual paling ekstrem, saat Luna menari dan menanggalkan baju, dia masih mengenakan bra dan celana panjang. Pada penayangan di ajang Jiffest silam, Lembaga Sensor Film memberi sensor unik. Ada plastik buram penyamar adegan sensual Luna Maya menari. Tapi kini adegan yang memakai plastik buram itu sudah tak ada lagi alias dipotong. Menurut produser Velvet Films, Erwin Arnada, cerita film ini hanya mengambil hightlight dari buku. Skenario yang digarap Joko Anwar itu memiliki kekuatan utama dalam film ini. Penulis skenario Arisan! dan Janji Joni ini mampu meramu cerita dengan dialog dan terminologi yang kuat. Kendati seringnya umpatan jorok bahasa Inggris amat mengganggu. Tapi keseluruhan film ini layak ditonton. Akting para pemain juga cukup baik, meski kisah ini bukan wajah kehidupan malam seutuhnya. l EVIETA FADJARJudul: Jakarta Undercover Skenario: Joko Anwar Sutradara: Lance Pemain: Luna Maya, Lukman Sardi, Fachri Albar, Verdi Soelaiman, Kenshiro Arashi Jenis film: DramaProduksi: Velvet Film Durasi: 100 menit

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rekor Selama Setahun Bersama Covid-19

    Covid-19 telah bersarang di tanah air selama setahun. Sejumlah rekor dibuat oleh pandemi virus corona. Kabar baik datang dari vaksinasi.