Dari Sampah sampai Polusi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemandangan cerah berlatar awan biru. Daun putih menghiasi pepohonan keabu-abuan yang beranting banyak. Di bawahnya, lima orang mengamati fenomena itu sambil keheranan.Sekilas gambar berjudul Blooming All Year Around karya kartunis Cina, Li Qing, yang dipamerkan pada Pameran Kartun Asia di Japan Foundation pada 12-29 Januari itu gambar artistik yang cuma memperlihatkan keindahan. Ternyata, bila lebih jeli, ia sedang mengkritik revolusi polusi Cina yang menjadi pemandangan luar biasa di era kapitalistik."Polusi putih menjadi pemandangan luar biasa. Plastik putih seperti bunga buah ceri yang sedang mekar," begitu penulis senior di surat kabar Jinan di Provinsi Shandong itu menulis komentarnya. Pria peraih penghargaan grand prix kompetisi kartun internasional ke-13 yang diadakan Yomiuri pada 1991 dan Wakil Presiden Chinese News Cartoon Research Institute tersebut sedang menyindir krisis lingkungan di Cina.Sindirannya selalu menganalogikan sesuatu secara bertolak belakang. Salah satunya pada gambar berjudul Bitting. Gambar dengan tiga warna dominan hijau tua, muda, dan hitam itu mengkritik gempuran asap hitam dari pemanggangan. Dan ia melukisnya sebagai hama berekor panjang yang menggigit kota modern yang cantik dan indah. "Mirip daun murbei warna hijau." Berbeda dari semua karya ditampilkan, hanya tema ini meniadakan obyek manusia.Tema kerusakan lingkungan menjadi tema sentral dalam pameran yang menampilkan sepuluh kartunis dari sepuluh negara Asia itu, yakni Indonesia, Vietnam, Thailand, Jepang, Korea, Malaysia, India, Cina, Kamboja, dan Filipina. Semua kartunis menampilkan isu nyaris seragam, seperti penggundulan hutan liar, banjir, polusi air dan udara, sampah, hilangnya lahan hijau, serta erosi budaya.Lihat pula karya kartunis India, Mohd. Irfaan Khan, dalam Himalaya Kuburan Sampah. Irfaan melukiskan gunung tertinggi dunia itu pada 2005 sudah diliputi sampah dan 20 tahun kemudian terkepung gunungan sampah.Kartunis Em Sothya dari Kamboja membuat penekanan gambarnya pada tema illegal logging, polusi, kehidupan morat-marit, pemburuan hewan, dan pemancingan ikan secara ilegal. Karya Sothya tampak terlalu padat dan tak memberi ruang kosong. Mungkin ia ingin menggambarkan betapa sesaknya problem lingkungan menteror masyarakat.Karya Sothya ini serupa dengan karya Zuan dari Malaysia dan Elizabeth T. Chionqlo dari Filipina, yang tidak membiarkan gambarnya bersih dari komentar para karakternya.Sementara itu, karya Jitet Koestaa dari Indonesia, Yokota Yoshiaki dari Jepang, Thi Wawat Pattaragulwanit dari Thailand, Nhop dari Vietnam, dan Kong Bo Hyuk dari Korea cenderung lebih simpel dan bertumpu pada kekuatan gambar. "Masing-masing kartunis memiliki kekhasan," ujar Jitet.Jitet mengakui sifat gambar kartun tidak bermaksud membuat pihak yang tersindir menjadi marah. "Para pendemo yang sering menyambangi gedung DPR saja tak mendapat tanggapan. Kalau sudah membuat orang tersenyum melihat gambar kami, sudah senang, kok. Artinya gambar itu punya makna dalam," papar pria kelahiran 1967 ini.EVIETA FADJAR

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Data yang Dikumpulkan Facebook Juga Melalui Instagram dan WhatsApp

    Meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa Facebook mengumpulkan data dari penggunanya, tidak banyak yang menyadari jenis data apa yang dikumpulkan.