Ratapan Minangkabau

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tepuk tangan berderai ketika tiupan saluang dengan nada rendah mendayu-dayu menutup cuplikan sejumlah musik tradisi Minangkabau selama enam menit. Penonton yang sebagian besar mahasiswa perantau asal Sumatera Barat di Yogyakarta terhanyut dalam alam khazanah musik etnis Minangkabau lewat komposisi klasik Dampiang, Panci, Sijobang, dan Saluang, Senin malam lalu.Tapi, pada komposisi berikutnya, dalam 90 menit pertunjukan di Kedai Kebun Forum, Yogyakarta, kelompok musik kontemporer Minangkabau, Talago Buni, membawa penonton pada pengayaan cara memperlakukan instrumen musik tradisi yang lebih bebas.Penggunaan alat tiup sarunai dalam ukuran yang lebih besar menghasilkan nada dasar lebih rendah, bersahut-sahutan dengan saluang, instrumen perkusi talempong pacik, dan larut dalam dendang vokal bercorak khas gaya bertutur bakaba. Dengan sarunai buatan sendiri itu, bisa dihasilkan lebih dari lima nada Sampelong, yang dikenal dalam khazanah musik tradisi Minangkabau.Pada pementasan keliling di empat kota ini--selain di Yogya, antara lain dipentaskan di Teater Utan Kayu, Jakarta, kemarin--Talago Buni menampilkan tujuh komposisi yang kuat dengan unsur berdendang serta mengeksplorasi musik dari kawasan pedalaman ataupun kawasan pesisir.Nuansa ratok (ratapan) masih sangat kuat secara melodi dan lirik lagu, yang mengeksplorasi kesedihan anak rantau. Semisal pada karya Muaro Peti yang bersumber dari lagu saluang Muaro Peti dari Payakumbuh, yang diolah kembali oleh Susandra Jaya menjadi sangat melodius lewat gesekan biola serta petikan kecapi bersahut-sahutan dalam melodi yang dibangun pukulan kendang dan olah vokal.Dendang musik pesisir yang bercorak musik Melayu dan Timur Tengah semakin menonjol pada komposisi Dawai Bagaluik karya Ronaldi, dengan mengawinkan instrumen dawai yang berbeda karakter musikalnya, yakni gambus, kecapi, dan biola. Kelincahan Ronaldi memetik dawai gambus dengan melodi berbau irama padang pasir yang mendayu-dayu menjadi titik tolak karakter melodi komposisi ini.Warna musik masyarakat pesisir memang sangat kuat pada sejumlah komposisi. "Pementasan kali ini memang banyak mengambil inspirasi dari musik pesisir," ujar Edy Utama, pemimpin kelompok Talago Buni. Bahkan ada melodi yang senada dengan lagu-lagu pop Minangkabau yang pernah didendangkan penyanyi Elly Kasim."Sangat nikmat dan siap dijual," komentar I Wayan Sadra, pemusik kontemporer yang juga berbasis musik tradisi. Tapi, menurut Sadra, eksplorasi bunyi dari instrumen semacam sarunai yang sangat khas instrumen musik Minangkabau justru tak muncul pada pertunjukan ini. RAIHUL FADJRI

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Setahun Pandemi Covid-19, Kelakar Luhut Binsar Pandjaitan hingga Mahfud Md

    Berikut rangkuman sejumlah pernyataan para pejabat perihal Covid-19. Publik menafsirkan deretan ucapan itu sebagai ungkapan yang menganggap enteng.