Gerak Boneka

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta:Suasana muram, gelap, dan gotik tercipta sejak awal pertunjukan. Karakter vokal penyanyi soprano yang melengking, menukik, dan meliuk-liuk menambah seram suasana. Sosok-sosok boneka setinggi manusia bergerak-gerak. Ini boneka yang terbilang aneh secara anatomi karena bentuk kakinya lebih panjang daripada badannya. Kaki-kakinya menyerupai tulang-belulang.Pertunjukan bertajuk Club Medea tersebut dibawakan Damiet van Dalsum dari Belanda. Pertunjukan ini merupakan rangkaian Jakarta International Puppetry Festival 2006. Festival internasional ini diadakan Komunitas Utan Kayu di Jakarta, 10-18 November 2006.Inilah acara yang membawa "the other theater", teater yang berada di luar definisi. Salah satunya tecermin dalam kisah Club Medea ini. Pertunjukan tersebut didalangi dua perempuan, Damiet van Dalsum dan Francoise Vanhecke, sebagai soprano. Mereka mengisi ruang pertunjukan dengan menggabungkan sifat dasar bernyanyi klasik dengan teater boneka.Ini sebuah bentuk pertunjukan orisinal dalam balutan suasana magis. "Saya jamin belum ada pertunjukan seperti ini dilakukan oleh siapa pun," ujar Vanhecke.Van Dalsum dan Vanhecke melakukan kolaborasi ini setelah bertemu dalam sebuah festival di Italia. Pertemuan ini menghasilkan sebuah kolaborasi orisinal cerita boneka. Bahkan, saking orisinalnya, boneka yang mereka gunakan malam itu dibuat sendiri oleh Van Dalsum, sang dalang.Pada beberapa pertunjukan sebelumnya mereka sama sekali tak menggunakan dialog, hanya bahasa tubuh dan eksplorasi suara. "Baru kali ini kami menggunakan dialog untuk menuturkan cerita," ujar Van Dalsum.Kisah Club Medea ini sendiri berkisar pada kekuasaan. Seorang raja tak ingin kekuasaannya hilang. Dia berupaya sebisa mungkin agar tampuk kerajaan tetap berada di tangannya. Maka anaknya sendiri satu demi satu dibunuh agar tak menggantikannya. Sang permaisuri tak mengetahui kenapa ini terjadi. Hanya seorang Medea yang tahu persis kejadian ini. Dia berusaha membongkar kekejian sang raja.Namun, sejak awal hingga akhir, cara mereka bertutur tak banyak gejolak. Kisah ini mengalir begitu saja tanpa ada tanda klimaks ataupun antiklimaks. Bangunan kisah yang mencekam terwakili dari suasana kelam dan lolongan nyanyian soprano Vanhecke. Kematian demi kematian yang terjadi meleleh begitu saja, berganti adegan lainnya.Festival ini menyajikan berbagai bentuk wayang atau boneka. Beberapa di antaranya merupakan bentuk-bentuk progresif dari ornamen yang sudah ada, sedangkan sebagian lagi tetap menjaga orisinalitas warisan klasik yang nyaris punah. Contoh bentuk pementasan progresif seperti yang dilakukan Van Dalsum, juga Slamet Gundono bersama komunitas Suket, yang melakukan pembaruan dengan wayang interaktifnya.Sebut juga Wayang Kampung Sebelah yang baru lahir pada Agustus 2001. Genre wayang baru dilahirkan sekelompok seniman Solo. Wayang Kampung Sebelah ini menggunakan tokoh keseharian, seperti penarik becak, bakul jamu, preman, pelacur, ketua RT, lurah, dan pejabat kota besar. Mereka berusaha tampil lugas seperti dialog sehari-hari, keluar dari norma estetika rumit yang biasa terdapat dalam wayang klasik.Seniman wayang dari Bali yang tergabung dalam Cudamani ikut meramaikan festival ini. Mereka berusaha mencapai keseimbangan sebagai seniman kreatif, sekaligus menjaga bentuk musik dan tari Bali kuno yang langka.Juga ada kelompok wayang kulit Kelantan dari Malaysia, meneruskan peninggalan dalang (almarhum) Abdullah yang mementaskan wayang tradisionalnya.ANDI DEWANTO

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Satu Tahun Bersama Covid-19, Wabah yang Bermula dari Lantai Dansa

    Genap satu tahun Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Kasus pertama akibat virus corona, pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020.