Kebebasan yang Terikat

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta:Bergulirnya paham neoliberalisme menumbuhkan harapan kebebasan di berbagai bidang. Kebebasan menjadi sebuah harta mahal bagi setiap individu untuk berbuat banyak. Entah itu berekspresi, bertindak, berkumpul, menyampaikan pendapat, atau bentuk kebebasan lainnya. Kendati begitu, kebebasan tak seindah kata bebas itu sendiri dalam paham neoliberalisme.Herry Priono, dosen dan Ketua Program Studi Pascasarjana STF Driyarkara, Jakarta, mengemukakan masalah tersebut dalam pidato kebudayaannya di Bentara Budaya, Jumat, pekan lalu. Dia acap kali memusatkan penelitiannya pada filsafat ekonomi, filsafat politik, ekonomi politik, teori ilmu sosial, globalisasi, dan kebijakan publik. Toh, tema kebudayaan baginya terasa berat dan luas. "Makanya, kata kebudayaan saya ganti menjadi kata sifat elusif kebebasan," katanya.Menurut Herry, kebebasan akan dikembalikan ke jantung neoliberalisme itu sendiri. Suatu tindakan disebut lebih bernilai dibanding tindakan lain, apabila tindakan itu menghasilkan laba lebih besar dalam idiom ekonomi. Jadi jenis kebebasan yang memiliki nilai tinggi adalah kebebasan yang menghasilkan daya beli tinggi dalam masyarakat. "Di sini proyek neoliberal menyempitkan bahkan meremukkan konsep kebebasan dengan menetapkan sebagai kebebasan berbisnis," katanya.Selanjutnya, kata dia, proyek normatif neoliberal berisi perentangan aplikasi prinsip pasar ke semua relasi kehidupan. Pola ini juga berlaku bila terjadi konflik. Sebagai misal, antara kebebasan modal dan kebebasan berkumpul, kebebasan pers, kebebasan berekspresi, serta kebebasan beragama. Kebebasan dalam neoliberal terperangkap dalam persyaratannya sendiri, yakni daya beli.Menurut Herry, ini terjadi bukan karena ada pasar, uang, dan laba sebagai konsep purba. Namun, proyek totalisasi prinsip pasar ke semua sudut kehidupan telah membawa konsekuensi, yakni akses pada kebebasan ditentukan oleh daya beli. Sihir metafisis kebebasan telah jatuh ke dalam gejala materialistis. Inilah yang menjadikan pilar utama neoliberal adalah kapitalisasi semua relasi. Semua ini berangkat dari alur sungai sejarah neoliberal itu sendiri. Pada 1930-an, untuk pertama kalinya, neoliberal muncul di Jerman. Ketika itu, Jerman mulai diburu hantu fasisme yang membawa suasana ganjil antara totalitarianisme dan kolektivisme. Para ahli ekonomi dan hukum dari Universitas Freiburg mulai mengembangkan gagasan ekonomi politik liberal. Gagasan mereka tersebar melalui jurnal Ordo, lantas terkenal sebagai mazhab Ordo Liberal atau Neoliberal. Benih awal ini memasukkan kritik dari gagasan sosialisme.Sekarang, tutur Herry, kata daya beli memang telah menjadi raja di negeri ini. Bagaimana bentuk karya seni di Bali yang telah mengikuti permintaan pasar adalah salah satu buktinya. Jika ada karya yang paling digemari turis, intensitas pembuatan bentuk seni seperti itu menjadi pilihan yang tinggi. Begitu juga dalam dunia lukisan. Gejala tersebut telah terjadi pada sekitar 1930-an. Ketika para wisatawan menggemari lukisan pemandangan, para pelukis berbondong-bondong melukis pemandangan. Tak luput juga dunia musik kita. Semua bergantung pada pasar yang memiliki daya beli tinggi. Seleksi penikmatan terhadap kebebasan oleh daya beli pun telah berlangsung.Andi Dewanto

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Data yang Dikumpulkan Facebook Juga Melalui Instagram dan WhatsApp

    Meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa Facebook mengumpulkan data dari penggunanya, tidak banyak yang menyadari jenis data apa yang dikumpulkan.