Geliat Para Pengrajin Kecil Melalui Senthong Jogja

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana pameran kerajinan Senthong Jogja di Alun-alun Utara Kota Jogja, Sabtu, 13 Mei 2017. Foto: Istmewa.

    Suasana pameran kerajinan Senthong Jogja di Alun-alun Utara Kota Jogja, Sabtu, 13 Mei 2017. Foto: Istmewa.

    TEMPO.CO, Jakarta - Para pengrajin kecil di Kota Yogyakarta mendapatkan mitra baru untuk memasarkan karya mereka, yaitu sebuah program pemasaran yang menamakan diri Senthong Jogja. Pada Sabtu, 13 Mei 2017, Senthong Jogja menggelar acara perdana mereka di Alun-alun Utara Kota Yogyakarta. 

    Baca juga: Jokowi Dorong Pengusaha Kerajinan Mencari Pembeli

    Sebanyak 4.817 pengrajin skala mikro (sangat kecil) dari lima daerah, Kabupaten Sleman, Bantul, Gunung Kidul, Kulon Progo dan Kota Jogja ikut dalam acara ini. Produk yang dijual cindera mata berbagai bentuk dan jenis, berupa kaos bersablon gambar unik, roti kering, roti basah, emping mlinjo, kripik tempe dan ratusan jenis cemilan.

    Senthong adalah kosakata bahasa Jawa yang berarti bilik di bagian tengah rumah orang Jawa, yang bermakna sebagai ruang khusus untuk inkubasi para pengrajin kelas mikro. Ide Senthong Jogja muncul dari banyaknya warga negara Jepang di Kota Tokyo yang sangat mencintai Jogja. Sampai-sampai setiap bulan mereka mendatangkan banyak produk dari Jogja dan memesan agar setiap barang diberi label "Made in Jogja". "Kami ingin mensugesti, bahwa terasa belum ke Jogja apabila tidak mengunjungi Senthong Jogja, " kata Untung Suropati, penggagas Sentong Jogja. *

    Kelik


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Revisi UU ITE Setelah Memakan Sejumlah Korban

    Presiden Jokowi membuka ruang untuk revisi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, disebut UU ITE. Aturan itu kerap memicu kontroversi.