Kritikus Sastra Dami Telah Tiada

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jerman: Kritikus sastra Dami Ndandu Toda, 64 tahun, mengembuskan nafas terakhir pada Jumat, 10 November lalu di Pusat Rehabilitasi Klinik Leezen, Jerman Utara, pukul 21.09 waktu setempat setelah dua kali mengalami stroke.Menurut istrinya, Dwi Sarjuningsih Setyawardani, 51 tahun, stroke pertama dialami Dami pada 12 September lalu sehingga dirawat di RS Algemeine Altona. Ketika dioperasi esok harinya, Dami mengalami stroke kedua. "Temuan dokter saat itu lebih parah dari sekedar cuma stroke, ia juga menderita diabetes melitus dan tekanan darah tinggi," katanya kepada Tempo. Akibatnya, Dami memerlukan alat bantu nafas. Dami tiba di Hamburg, Jerman, 25 tahun silam atas undangan Profesor Kehler, Ketua Jurusan Indonesia Universitas Hamburg. Di situ Dami menjadi dosen kontrak di Asia Afrika Institut Jurusan Bahasa Indonesia untuk lima tahun. Kontraknya diperpanjang sampai menjadi dosen tetap. Dami bertemu Dwi, Sarjana Arkeologi UI yang sedang studi di Universitas Leiden, Belanda. Mereka dikaruniai dua anak, Rian Mashur, 22 tahun, mahasiswa Jurusan Komunikasi, dan Mayang Cita, 12 tahun, siswi SMA.Dwi memilih dikremasi. Ia belum tahu kapan akan dikremasi, karena masih mengurus dokumen di bestatung itu. Jenasah Dami akan dikremasi dan abunya dikubur di kampung halamannya, Flores Barat. Tapi Dwi belum tahu kapan ia akan mengantar abunya ke sana. “Itu sebabnya saya memilih kremasi, supaya bisa lebih lama disimpan, jika saya masih lama mengurus segala sesuatunya sebelum ke Indonesia,” ucapnya. Sri Pudyastuti Baumeister (Jerman)

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Setahun Pandemi Covid-19, Kelakar Luhut Binsar Pandjaitan hingga Mahfud Md

    Berikut rangkuman sejumlah pernyataan para pejabat perihal Covid-19. Publik menafsirkan deretan ucapan itu sebagai ungkapan yang menganggap enteng.