Para Guru Gelar Pameran Lukisan di Museum Basoeki Abdullah

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • museum Basoeki Abdullah

    museum Basoeki Abdullah

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengelola  Museum Basoeki Abdullah mengajak para guru di Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi (Jabodetabek) memamerkan karya mereka. Hasilnya, setelah melalui proses kurasi, terpilih 35 guru yang berhak menggelar karya mereka di Museum Basoeki Abdullah, Jakarta.

    Para guru sekolah baik tingkat dasar, menengah pertama dan menengah atas se-Jabodetabek berpartisipasi dalam kegiatan untuk merayakan Hari Pendidikan Nasional tersebut.

    "Ada 35 lukisan dari 35 guru seni dan budaya yang terlibat dalam pameran ini dan mereka semua telah melalui proses seleksi," kata Kepala Museum Basoeki Abdullah Joko Madsono saat membuka acara tersebut di Jakarta, Kamis, 4 Mei 2017.

    Ki Hadjar Dewantara menjadi tema dari pameran tersebut, para guru bebas menginterpretasikan pendidikan dan semangat dari sang pelopor pendidikan kaum Indonesia itu.

    Seperti yang tertuang pada karya Abdurohman Wahid dari sekolah Artmura yang berjudul Meraih, dia menggunakan pendekatan ekspresionisme pada lukisannya.

    Dia menggambar potret wajah Ki Hajar Dewantara yang didominasi warna merah untuk menggambarkan semangat yang dimiliki pendiri Taman Siswa itu.

    Ada juga lukisan Edi Bonetsky, guru SDN Karawaci 7, yang terlihat polos dan kekanak-kanakan dengan latar berwarna hitam dan gambar yang bentuknya tidak simetris dan dipenuhi warna kuning.

    Judul karyanya National Onderwijs ini terinspirasi dari nama pertama saat Taman Siswa didirikan.

    Sementara itu Ade Koesnowibowo, guru SDS Yapenka Cipete mencoba mengkritik guru yang menyeragamkan pola pikir siswa lewat lukisan berjudul Spirit Ki Hadjar Membangun Pendidikan Karakter Anak Bangsa.

    Lukisan Ade hadir dengan latar gambar pemandangan dua gunung dan matahari di tengahnya, tak lupa persawahan dan jalan menuju gunung yang lazim ditemui pada semua gambar siswa saat ditugasi menggambar pemandangan.

    Kemudian di depan pemandangan itu ada seorang guru yang sedang mengajarkan murid-muridnya menggambar, dan di belakang murid-muridnya ada Ki Hadjar Dewantara yang meminta tidak meniru gambar pemandangan yang menjadi latar mereka.

    Lukisan-lukisan yang ditampilkan serta dikurasi Weye Haryanto dan Pugu Tjahjono itu dipajang di lantai satu museum, berdampingan dengan lukisan Ki Hadjar Dewantara karya Basoeki Abdullah.

    "Lukisan Basoeki Abdullah tersebut juga menjadi inspirasi guru-guru untuk melahirkan karya mereka," kata dia.

    Wastro Pradewo, guru dari Sanggar Lukis Ganjur membutuhkan empat hari untuk menyelesaikan karyanya di sela-sela waktu mengajar.

    "Saya mengerjakannya di malam seusai mengajar. Saya kerjakan secara bertahap hingga empat hari," kata Wastro yang juga mengajar di SD Taman Harapan.

    Dalam karyanya dia menggambarkan seorang lansia yang memegang buku SD, dan bingkainya dilapisis kertas buku catatan sekolah.

    Lewat lukisan yang digambar menggunakan cat minyak itu, Wastro menyampaikan pesan bahwa semua orang berhak mengenyam pendidikan baik muda maupun tua.

    Bingkai yang dilapisi kertas catatan sekolah itu merepresentasikan kenangannya terhadap dunia sekolah. "Saya masih menyimpan catatan sekolah saya, dan itu menjadi kenangan saya," kata dia.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jokowi Beberkan RAPBN 2020, Tak Termasuk Pemindahan Ibu Kota

    Presiden Jokowi telah menyampaikan RAPBN 2020 di Sidang Tahunan MPR yang digelar pada 16 Agustus 2019. Berikut adalah garis besarnya.