Mouly: Bakat-bakat Baru Mulai Bermunculan dalam Sinema Dunia  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Patrick Vuittenez, Fauzan Zidni (produser Cinesurya), Mouly Surya (sutradara), Georges Goldenstern (L`Atelier dela Cinefondation, project market Cannes), Rama Adi (produser Cinesurya). dok. Mouly

    Patrick Vuittenez, Fauzan Zidni (produser Cinesurya), Mouly Surya (sutradara), Georges Goldenstern (L`Atelier dela Cinefondation, project market Cannes), Rama Adi (produser Cinesurya). dok. Mouly

    TEMPO.CO, Jakarta - Awal bulan April, sutradara Mouly Surya menerima surat elektronik yang menggembirakan. Film terbarunya Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak berhasil masuk dalam deretan film-film The Directors Fortnight di Cannes tahun ini. Apakah The Directors Fortnight atau The Directors' Fortnight Quinzaine des Réalisateurs? Ini adalah sebuah acara pemutaran film-film independen yang diselenggarakan secara paralel dengan Festival Film Cannes. Acara ini dimulai tahun 1969 oleh para sutradara Prancis setelah terjadinya gerakan Mei 1968.

    Film-film yang terpilih dalam The Directors Fortnight lazimnya lebih berani, lebih eksperimental daripada yang masuk dalam Official Selection yang berkompetisi dalam Festival Film Cannes. Nama-nama besar seperti Martin Scorsese, Michael Haneke, Herzog, George Lucas, Martin Scorsese, Jim Jarmush, Sofia Coppola melaui The Directors Fortnightly dulu sebelum akhirnya meluncur ke Official Selection. Film Mouly adalah film layar lebar Indonesia pertama yang berhasil ditayangkan di dalam The Directors Fortnight.

    Berikut adalah wawancara Leila S.Chudori bersama Mouly Sourya yang dilakukan melalui surat elektronik. Saat ini Mouly (36 tahun) sedang melakukan proses port-production filmnya di Paris:

    Bagaimana cerita Anda bisa berkolaborasi dengan Garin Nugroho dalam penulisan cerita film ini?

    Momentum betul-betul tidak sengaja. Tiga tahun lalu, mas Garin dan saya sama-sama menjadi juri FFI. sama sama ngejuri di ffi 2014. Lagi masuk ke bioskop mau untuk menyaksikan film yang akan dinilai. Mas Garin langsung menceritakan ide filmnya ini. Katanya dia ingin cerita ini disutradarai perempuan. Dia bilang “kalau kamu yang bikin, aku nggak bisa bayangin seperti apa jadinya. Ini yang menarik". Keesokan hari, mas Garin mengirim lima halaman treatment cerita tersebut. Saya, Rama (suami Mouly sekaligus produser Cinesurya) dan Fauzan Zidni, produser saya satu lagi. Kami tertarik dengan cerita itu dan memutuskan untuk bertemu dengan Garin, meski sebetulnya kami sedang mengembangkan cerita lain. Mas Garin mengatakan terserah diapakan ceritanya. Kami diberi kebebasan total. Akhirnya Rama dan saya menuangkan treatment cerita mas Garin ke dalam skenario. Kami kembangkan, tapi premis dan bentuknya masih setia pada cerita dari mas Garin. Kami mengirim skenario final padanya, tapi dia baru berkomentar lagi ketika dia sudah menyaksikan final cut film ini. Dia sangat suka bagaimana kami mengembangkan ceirta itu dan juga penampilan aktris Marsha Timothy.

    Judul film “Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak” terdengar unik. Kenapa empat babak dan ceritanya tentang apa?

    Cerita mengisahkan Marlina seorang janda yang suatu hari di rumahnya di pucuk bukit didatangi sekawanan perampok dan setelah melakukan perlawanan Marlina melakukan perjalanan ke kantor polisi di kota dengan menjinjing kepala sang perampok.
    Waktu saya menerima ide cerita ini dari Mas Garin dalam bentuk treatment, Mas Garin sudah membaginya ke dalam empat babak di dalam film ini dalam empat babak, dengan prolog dan epilog. Dari sana, kami mempertahankannya seperti berbagai judul pertunjukan panggung misalnya “Gisele in Two Acts”, misalnya. Pergantian babak lebih berdasarkan setting yang berganti.

    Mengapa mengambil lokasi syuting d Sumba? Apakah kisah ini memang menyangkut sesuatu yang berkaitan dengan tradisi Sumba atau setting antah berantah?

    Ada beberapa elemen tradisi Sumbanya yang saya presentasikan di dalam genre film Western (koboi). Premis Garin bisa disimpulkan dengan sebuah kekerasan di kampung yang pernah terjadi beberapa kali. Sangat penting bagi kami untuk menemukan cerita yang tidak hanya bagus, tapi juga pas. Sulit untuk menemukan kombinasi tersebut dan kebetulan cerita ini datang ke pangkuan saya begitu saja. Saya bukan tipe orang yang suka berpetualang. Ke Sumba pun belum pernah. Dalam proses itu saya mencoba membungkus cerita kekerasan kampung ini supaya bisa terwakili dengan bungkus genre film Western tadi.

    Kelihatannya banyak pihak yang terlibat dalam film ini?

    Ibu Willawati dari Kaninga Pictures juga sangat tertarik dengan cerita ini, dengan presentasi kami yang tidak muluk-muluk tentang box office. Kaninga percaya dengan visi kami. Kami juga merasa penting bagi proyek film bisa berada di project market penting seperti Asian Project Market Busan dan L'Atelier Cannes, sampai akhirnya kami memutuskan layak untuk diproduksi. Belakangan, Hooq dan Astro juga bergabung. Mereka sangat menyukai filmnya, karena bungkusan genre tersebut.

    Bisa jelaskan Directors Fortnight itu kategori apa dan kenapa film layar lebar Indonesia baru kali ini masuk DF?

    Ya, memang Cannes memang sangat ketat seleksinya. Sejarah Directors Fortnight menarik. Venuenya persis di seberang jalan venue utama Festival FIlm Cannes (Palais de Festival). Film-film yang mereka tayangkan cenderung lebih edgy atau lebih berani dalam gaya bercerita dibandingkan dengan official selection dan ini memang salah satu gerbang menuju official selection. Nama-nama seperti Xavier Dolan, Martin Scorcese dan Michael Haneke adalah beberapa dari banyak sutradara langganan official selection yang bermula di Directors Fortnight.
    Pada dasarnya film-film yang terpilih ke dalam DF ini tidak berkompetisi. Tetapi sponsor mereka sendiri memberikan beberapa award. Dan khusus untuk sutradara yang pertama kali di DF bisa saja mendapakan award Camera Dor di Cannes Film Festival.

    Dengan nama-nama Directors' Fortnigh yang mengorbitkan Werner Herzog, George Lucas, Martin Scorsese, Jim Jarmush, Michael Haneke, Spike Lee, Sofia Coppola, apakah menurut Anda DF adalah DF ini sebuah kesempatan untuk bisa berkarya lebih luas seperti nama-nama itu?

    Saya sih belum berpikir sejauh itu. Saya bahkan belum tahu selanjutnya akan membuat film apa. Yang jelas mimpi saya itu adalah terus berkarya dan terus bisa meningkatkan kualitas karya saya. Itu yang paling penting. Bisa ada di dalam Directors Fortnight buat saya adalah kesempatan bagi film kami untuk bertemu dengan jalur distribusi yang lebih luas sehingga film ini mempunyai umur yang lebih panjang.

    Mengapa memilih Marsha Timothy sebagai peran utama?

    Wajah Marsha memiliki “tragic character” look (wajah yang tragis) yang menurut saya sangat cocok untuk tokoh Marlina. Tidak ada calon lain selain dia. Ketika masih dalam bentuk berbentuk treatment mas Garin, Rama sudah menyebut nama Marsha Timothy sejak awal. Selain aura dari tragic character Marsha, dia juga pintar, cerdas sekali. Ketika ngobrol saya melihat keinginan yang keras dari dia. Poin-poin itu sangat penting buat saya sebagai sutradara.

    Berapa lama syuting dan dalam bahasa apa?

    Syuting berlangsung selama 19 hari. Dengan perjalanan kira-kira hampir sebulan. Bahasa pengantar adalah bahasa Indonesia dengan dialek Sumba.

    Ceritakan bagian mana yang tersulit dalam produksi ini?

    Menulis adalah yang paling sulit untuk saya. Menyutradarai membutuhkan stamina. Ekspektasi saya sebagai sutradara terhadap karya saya juga terus meningkat, begitu juga dari produser-produser saya, Rama Adi dan Fauzan Zidni. Tingkat kesulitannya juga makin tinggi. Kami disini ingin mengutamakan screencraft dalam membuat film. Jadi setiap shot membutuhkan konsentrasi yang cukup tinggi. Kesulitannya paling utama adalah menjaga stamina dalam waktu yang cukup panjang (tiga tahun) dari segala aspek berproduksi, menulis, menyutradarai dan kemudian dalam paska produksi. Kalau per adegan, banyak sekali juga yang sulit. Adegan interior film ini dilakukan di Jakarta dalam studio. Kami membangun set,itu sangat sulit secara teknis. Sementara di Sumba kami syuting dengan dua ekor kuda yang melakukan perjalanan di dalam truk bersama tokoh-tokoh dalam film. Itu juga sulitnya minta ampun apalagi jalannya tidak beraspal, berkelok-kelok dan menanjak.

    Apa sih problem film Indonesia hingga tidak selalu mudah masuk ke festival bergenGsi seperti Cannes, Berlinale ,apalagi nominasi kategori Film Asing Academy Awards dibanding katakankah Iran atau Thailand atau bahkan Singapura?

    Industri kita masih muda. SDM kita masih terbatas. Tapi bakat-bakat baru mulai bermunculan dalam sinema dunia, meski saya akui harus ditingkatkan akselarasinya. Lalu kebanyakan film Indonesia dibuat hanya untuk penonton Indonesia dan untuk perspektif orang Indonesia sehingga mungkin penonton internasional kurang bisa relate atau memahami atau terwakili. Sebetulnya tak mengapa membuat film khusus untuk penonton Indonesia, karena jumlah penduduk kita juga banyak dan jumlah penonton kita banyak; selain itu kita tidak perlu tergantung dengan distribusi di luar Indonesia.

    LSC


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tarik Ulur Vaksin Nusantara Antara DPR dan BPOM

    Pada Rabu, 14 April 2020, sejumlah anggota DPR disuntik Vaksin Nusantara besutan mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto