Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Dian Sastrowardoyo: Saya Selalu Memandang Diri sebagai Feminis

image-gnews
Aktris Dian Sastrowardoyo sebelum tampil pada acara
Aktris Dian Sastrowardoyo sebelum tampil pada acara "Panggung Para Perempuan Kartini" di Museum Bank Indonesia, Kota, Jakarta, 11 April 2017. Kegiatan istimewa ini digelar TEMPO dalam memperingati Hari Kartini. TEMPO/Dhemas Reviyanto
Iklan

TEMPO.CO, Jakarta - SETELAH menjadi Cinta, Dian Sastrowardoyo mengganti baju, menyanggul rambut, dan menjadi Kartini. ”Ini hanya peran,” kata Dian, yang sehari-hari adalah ibu dari dua anak dan istri dari Indra Maulana.

Baca juga: Seorang Kartini yang Lincah, Terbuka dan Cerdas

Selesai menjadi Kartini, Dian memangkas rambutnya sependek mungkin, mengenakan celana panjang, dan belajar silat dari tim Iko Uwais karena dia akan berperan sebagai Alma dalam film terbaru laga Mo Brothers. Berikut ini adalah perbincangan Dian dengan Moyang Kasih Dewi dari Tempo di sela-sela kegiatan pemotretan di selatan Jakarta, awal April 2017.

Apa hal pertama yang terlintas di kepala Anda saat mendapat tawaran peran sebagai Kartini?

Saya selalu memandang diri sebagai feminis. Mama saya juga seorang feminis. Dia pembaca karya Virginia Woolf dan saya pengagum Kartini. Walaupun, memang, pengetahuan saya tentang beliau masih terbatas. Jadi, pertama kali mendengar ada film Kartini, saya sudah pengen ikutan walaupun cuma jadi supporting. Ketika Mas Hanung meminta saya mencoba menjadi Kartini, saya merasa mendapat jackpot banget. Saya tahu harus banyak riset.

Apa saja buku yang dibaca untuk riset?

Buku pertama Panggil Aku Kartini Saja oleh Pramoedya Ananta Toer. Lalu Habis Gelap Terbitlah Terang Armijn Pane. Ada juga buku tentang surat-surat Kartini yang lain dari Belanda. Setelah itu, berbagai rangkuman pemikiran Kartini yang isinya kutipan penting. Semua saya lahap pelan-pelan seperti akan membuat skripsi. Kan, saya sudah dua kali menulis skripsi, masak enggak bisa? Dicicil terus. Ada anak, tunggu anak tidur dulu, baru saya membaca lagi. Lama-lama pengetahuan terbatas tentang Kartini semakin berkembang dan membentuk pengetahuan tentang Kartini. Saya mulai membayangkan Kartini sebagai manusia. Ternyata Kartini bukan orang yang pendiam. Dia buandel sejak kecil. Ini yang kurang diketahui masyarakat Indonesia. Panggilannya saja Trinil.

Bagaimana perubahan pandangan Anda tentang Kartini sebelum dan setelah membaca bukunya?

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Ternyata dia perempuan yang tingkah lakunya masih muda. Tentu, sebagai orang Jawa, dia harus menahan emosi. Jadi, walaupun dia di luar kamar, tetap menunduk aja. Di dalam dirinya ada banyak gejolak. Tapi penonton harus tahu Kartini sebetulnya. Saya harus belajar bagaimana merasakan perempuan yang terkekang dengan budaya Jawa. Terus terang, Kartini adalah film pegel karena semua emosi harus ditahan.

Bagaimana pendapat Anda tentang film Kartini Sjuman Djaya?

Saya pernah menonton waktu kecil. Tapi terus terang, setelah mau memerankan Kartini, saya sengaja menghindari. Ngeri terjebak. Tapi saya ada memori tentang filmnya, di mana pembawaan Kartini di sana lebih reserved (pendiam-red), sementara di dalam film ini dia badung banget.

Untuk persiapan peran, Anda memakai kain terus ke mana-mana. Lalu bagaimana persiapan bahasa Belanda dan Jawa?

Salah satu pendalaman karakter saya memang mengenakan kain karena orang Jawa di masa lalu memiliki tradisi jalan yang berbeda, kan? Cara kita berjalan dan berinteraksi dengan orang lain sangat berbeda, sehingga Mas Hanung sejak tiga bulan sebelumnya meminta kami mengenakan kain setiap hari. Ya sudah, akhirnya saya meeting pun mengenakan kain. Soal bahasa, masing-masing sudah ada gurunya yang disediakan Mas Hanung, baik guru bahasa Jawa maupun bahasa Belanda. Tentu saja bahasa Belanda lebih susah karena saya tidak mengerti artinya. Kalau bahasa Jawa, saya masih paham karena Mama dan Eyang masih menggunakan bahasa Jawa.

Dari sekian banyak kutipan Kartini, mana yang paling mengena pada diri Anda?

Aduh, banyak banget! Salah satunya: ”Saya putus asa: saya hanya boleh menulis yang bukan-bukan saja; hal yang sungguh-sungguh tidak boleh saya singgung.” Kartini sebetulnya tergelitik sekali pada persoalan ketidakadilan. Kaum pribumi dijajah kaum Belanda dan kaum pribumi menengah-abangan dijajah kaum feodal bangsawannya. Melihat ketidakadilan itu, Kartini ingin mengkritik kaum bangsawan yang egoistis dan gila hormat. Dia mengkritik Belanda, kalau saja Belanda memperlakukan kaum pribumi dengan sejajar, setidaknya Anda akan mendapat partnership dan kontribusi pekerjaan dari kaum pribumi yang diberdayakan. Dia ingin mengkritik itu, tapi tak dibolehkan. Saya melihat Kartini sebagai pejuang yang menjadi tonggak perubahan dari perjuangan fisik menjadi perjuangan pemikiran. Setelah Kartini, lalu ada Boedi Oetomo dan seterusnya. Tapi sayangnya, karena dia perempuan, kesannya pemikiran dia menghina kaum laki-laki saat itu yang berego besar.

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Pendidikan Vokasi Bantu Perempuan tetap Berkarya Sambil Urus Keluarga

11 Mei 2024

Peluncuran Program Perempuan Inovasi 2024 awal Mei 2024/Istimewa
Pendidikan Vokasi Bantu Perempuan tetap Berkarya Sambil Urus Keluarga

Aktris Dian Sastro menyoroti sedikitnya siswa perempuan di pendidikan vokasi. Ia mengingatkan bahwa ada


Artis Indonesia Bereaksi Usai Timnas U-23 Kalah dari Guinea, Ibnu Jamil: Wasit Kacau

10 Mei 2024

Timnas Indonesia U-23 saat bertanding melawan Timnas Guinea U-23 dalam babak Playoff Olimpiade 2024. Foto/Tim Media PSSI
Artis Indonesia Bereaksi Usai Timnas U-23 Kalah dari Guinea, Ibnu Jamil: Wasit Kacau

Selebritas Indonesia ramai-ramai mengungkapkan kekesalannya kepada wasit yang menyebabkan kekalahan Timnas U-23.


Selain Dian Sastro - Reza Rahadian, Pasangan di Film Lain Reza Rahadian dan BCL Setidaknya di 5 Film Ini

20 Maret 2024

Reza Rahadian dan BCL dalam film My Stupid Boss.  foto: dok. Falcon Pictures
Selain Dian Sastro - Reza Rahadian, Pasangan di Film Lain Reza Rahadian dan BCL Setidaknya di 5 Film Ini

Selain Dian Sastro dan Nicholas Saputra, Indonesia punya pasangan aktor Reza Rahadian dan BCL yang kerap dipasangkan dalam film.


Dian Sastro dan Nicholas Saputra Berpasangan dalam 5 Film, Bukan Cuma Ada Apa dengan Cinta

19 Maret 2024

Pemeran film romantis yang populer di tahun 2002, Ada Apa Dengan Cinta, Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra menghadiri konfrensi pers film Ada Apa Dengan Cinta 2 di The Hall Senayan City, Jakarta, 15 Februari 2016. TEMPO/Nurdiansah
Dian Sastro dan Nicholas Saputra Berpasangan dalam 5 Film, Bukan Cuma Ada Apa dengan Cinta

Dian Sastro dan Nicholas Saputra kerap dipasangkan dalam sebuah produksi film. Setelah Ada Apa dengan Cinta, berikut film lainnya mereka berdua.


Film dan Serial Populer Dian Sastro, AADC hingga Gadis Kretek dan Ratu Adil

18 Maret 2024

Dian Sastrowardoyo dan Ario Bayu dalam serial Gadis Kretek. Dok. Netflix
Film dan Serial Populer Dian Sastro, AADC hingga Gadis Kretek dan Ratu Adil

Dian Sastro sudah banyak membintangi film populer sejak era 2000-an sampai sekarang. Lantas, apa saja film populer tersebut?


42 Tahun Dian Sastro, Perjalanan Film Tokoh Cinta dalam AADC: Bintang Jatuh hingga Ratu Adil

18 Maret 2024

Gaya makeup Dian Sastro saat menghadiri press screening Ratu Adil/Foto: Instagram/Dian Sastro
42 Tahun Dian Sastro, Perjalanan Film Tokoh Cinta dalam AADC: Bintang Jatuh hingga Ratu Adil

Sudah hampir 2 dekade Dian Sastro berkiprah dalam dunia perfilman Indonesia. Bermula membintangi film Bintang Jatuh karya Rudi Sudjarwo.


Serial Ratu Adil Siap Hadirkan Aksi Menegangkan dan Karakter yang Kompleks

23 Februari 2024

(kiri-kanan) Tommy Dewo, Dian Sastrowardoyo, Ginanti Rona dan Timo Tjahjanto saat Red Carpet Moment Series Ratu Adil di Jakarta, Kamis, 22 Februari 2024. Dok. Vidio
Serial Ratu Adil Siap Hadirkan Aksi Menegangkan dan Karakter yang Kompleks

Sutradara serial Ratu Adil menghadirkan ketegangan di setiap episode dan mengemasnya sehingga penonton tetap betah untuk menonton


Main di Serial Ratu Adil, Dian Sastro: Seru dan Sangat Menantang

23 Februari 2024

Dian Sastrowardoyo saat menghadiri Red Carpet Moment and GalaPremier serial Ratu Adil. Foto: Instagram/@vidiooriginals
Main di Serial Ratu Adil, Dian Sastro: Seru dan Sangat Menantang

Dian Sastro melakukan berbagai persiapan, termasuk latihan fisik yang intensif dan belajar menggunakan senjata untuk perannya di serial Ratu Adil.


Dian Sastrowardoyo Harus Berjuang Secara Mental dan Fisik di Serial Ratu Adil

26 Januari 2024

Dian Sastrowardoyo dalam serial Ratu Adil. Foto: Instagram/@therealdisastr
Dian Sastrowardoyo Harus Berjuang Secara Mental dan Fisik di Serial Ratu Adil

Dian Sastrowardoyo bertransformasi dari ibu rumah tangga menjadi perempuan luar biasa demi menjaga keluarganya di serial Ratu Adil.


Mengenang Sandiwara Radio Misteri Gunung Merapi, Mak Lampir Populer pada 1990-an

7 Desember 2023

Sandiwara radio Misteri Gunung Merapi. Wikipedia
Mengenang Sandiwara Radio Misteri Gunung Merapi, Mak Lampir Populer pada 1990-an

Pada 1990-an, sandiwara radio Misteri Gunung Merapi berhasil mencuri perhatian publik. Kisah itu diangkat dalam serial televisi dan film layar lebar.