Ini yang Dipikirkan Anang Hermasnyah Tentang Hari Film Nasional

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anggota DPR fraksi PAN Anang Hermansyah yang juga seorang musisi, saat mengikuti diskusi Perlukah Artis dan Seniman Berpolitik, di Jakarta, 16 Maret 2016. TEMPO/Imam Sukamto

    Anggota DPR fraksi PAN Anang Hermansyah yang juga seorang musisi, saat mengikuti diskusi Perlukah Artis dan Seniman Berpolitik, di Jakarta, 16 Maret 2016. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Anggota Komisi X DPR Anang Hermansyah mengatakan, peringatan Hari Film Nasioanal (HFN) pada 30 Maret harus menjadi momentum bagi pemerintah untuk membentuk sistem yang ajeg bagi kemajuan industri film nasional. Salah satunya dengan mengonkretkan rencana sistem box office.

    Baca juga: Di Hari Musik Nasional, Raisa Dapat Hadiah Sepeda dari Presiden

    Anang Hermansyah menuturkan, agar peringatan Hari Film Nasional memilki arti subtansial, sebaiknya pemerintah segera merealisasikan sistem box office di industri film nasional. "Agar peringatan Hari Film Nasional tak sekadar seremoni yang tidak memiliki makna bagi perfilman tanah air, sebaiknya pemerintah segera mewujudkan rencana sistem box office di Indonesia. Ini sangat mendesak," kata Anang Hermansyah di Jakarta, Kamis, 30 Maret 2017, dalam keterangan tertulis.

    Lebih lanjut Anang Hermansyahi mengatakan, dengan sistem ini, akan diketahui penyebaran film di daerah-daerah, berapa penontonnya, serta tren genre film apa yang sedang laris di daerah-daerah. "Sistem box office juga bisa mengatasi permasalahan yang akut seperti soal transparansi di sektor pajak di industri film, serta royalti bagi para pemain film," kata Anang Hermansyah.

    Anang Hermansyah kembali mengingatkan pemerintah, agar serius dalam pembenahan di sektor perfilman.  "Pemerintah jangan menunda-nunda lagi untuk segera menerbitkan 7 PP sebagai amanat UU No 33 Tahun 2009," kata Anang Hermansyah.

    Anang Hermansyah juga menggarisbawahi, agar pemerintah mendirikan SMK Perfilman secara merata di wilayah Indonesia. Menurut ANang Hermansyah, melalui jalur pendidikan ia meyakini akan memberi efek besar terhadap industri perfilaman di tanah air untuk waktu-waktu mendatang.

    "Pendidikan merupakan investasi yang tiada taranya. Makanya, pemerintah harus memiliki komitmen untuk mendirikan SMK Perfilman di berbagai daerah dengan mempertimbangkan potensi di setiap daerah," kata Anang Hermansyah.

    Anang Hermansyah meminta agar Badan Perfilman Indonenesia (BPI) melakukan sinergitas dengan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) di bidang pemajuan perfilman di Indonesia. *

    BISNIS.COM


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.