Album Perdana Harry Roesli Dipiringanhitamkan, Ini Alasannya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penggemar musisi Harry Roesli menunjukkan album piringan hitam Philosophy Gang di Jakarta, 17 Maret 2017. Album Philosophy Gang, pertama kali direkam pada 44 tahun yang lalu, berisikan 7 lagu, yakini Peacock Dog, Roda Angin, Dont Talk About Freedom, Borobudur, Imagine, Malaria, dan Roses. TEMPO/Nurdiansah

    Penggemar musisi Harry Roesli menunjukkan album piringan hitam Philosophy Gang di Jakarta, 17 Maret 2017. Album Philosophy Gang, pertama kali direkam pada 44 tahun yang lalu, berisikan 7 lagu, yakini Peacock Dog, Roda Angin, Dont Talk About Freedom, Borobudur, Imagine, Malaria, dan Roses. TEMPO/Nurdiansah

    TEMPO.CO, Jakarta - Penggemar The Gang of Harry Roesli mungkin tengah bersuka cita. Pasalnya La Munai Records meluncurkan kembali album Philosophy Gang, salah satu album kelompok musik tersebut. Yang membuat album ini semakin spesial, album pertama Harry Roesli tersebut diterbitkan  dalam bentuk piringan hitam.

    Baca juga: Album Perdana Harry Roesli Diproduksi Ulang dalam Format Piringan Hitam

    Pendiri La Munai Records, Rendi Pratama menuturkan alasan mengapa album ini dibuat dalam bentuk vinyl atau piringan hitam. "Biar sama dengan yang asli, tentunya. Selain itu, sound vinyl jauh lebih bagus," kata Rendi Pratama saat dihubungi Senin, 20 Maret 2017.

    Selain untuk investasi koleksi (bagi yang suka), menurut Rendi, piringan hitam memiliki keunggulan dibandingkan dengan format lainnya. "Produk piringan hitam lebih unggul dari format yang lain mulai dari cover yang besar, kualitas suara dan tentunya investasi koleksi," kata Rendi Pratama seraya tertawa.

    Menurut Rendi Pratama, piringan hitam juga menjadi salah satu upaya menghambat hilangnya bentuk fisik dari produksi karya musik. "Agar rilisan fisik enggak hilang, terutama piringan hitam yang tren di Indonesia naik turun," kata Rendi Pratama.

    Pria kelahiran 14 Maret 1987 ini juga mengatakan, album ini tak hanya ditunggu oleh para penggemar Harry Roesli, tapi juga para kolektor atau pemburu piringan hitam. *

    DINI TEJA


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Revisi UU ITE Setelah Memakan Sejumlah Korban

    Presiden Jokowi membuka ruang untuk revisi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, disebut UU ITE. Aturan itu kerap memicu kontroversi.