Film Indonesia #66 dan Asun Mawardi Disambut Hangat di Bejing

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktor Jackie Chan berpose di samping patung lilin dirinya, dalam acara pengangkatan selubung, di Madame Tussauds Hollywood, di Los Angeles (12/1). AP/Madame Tussauds, Dan Steinberg

    Aktor Jackie Chan berpose di samping patung lilin dirinya, dalam acara pengangkatan selubung, di Madame Tussauds Hollywood, di Los Angeles (12/1). AP/Madame Tussauds, Dan Steinberg

    TEMPO.CO, Jakarta - Aktor sekaligus sutradara film Indonesia berjudul #66, Asun Mawardi, mendapat sambutan hangat dari para penggemarnya di Beijing. Setelah pemutaran film laga yang dibintanginya bersama Donita dan Erwin St Bagindo di salah satu gedung bioskop di Ibukota Cina itu, Ahad, 12 Maret 2017 malam, Asun dihujani pertanyaan dari para penggemarnya.

    Baca juga: Film Indonesia Ikut Festival Film Beijing

    Tidak lupa para penggemar film laga berusia remaja tersebut juga meminta foto bersama dan tanda tangan Asun Mawardi, produser film berbendera Creative Motion Pictures tersebut. Bahkan beberapa penggemarnya di Cina menjuluki Asun Mawardi sebagai "Jacky Chan" dari Indonesia.

    "Ini film kedelapan kami. Tapi baru di film ini saya sutradara merangkap pemain," kata Asun Mawardi kepada Antara di Beijing seusai pemutaran film berdurasi sekitar 1,5 jam tersebut.

    Dalam film yang hampir seluruhnya diwarnai adegan laga itu, Asun Mawardi menamakan dirinya sebagai 66. Tokoh ini berusaha meninggalkan masa lalunya sebagai penjahat. Namun di tengah upayanya itu, 66 juga harus berurusan dengan penjahat untuk menyelamatkan keluarga dan orang-orang terdekatnya.

    Film yang konon menelan biaya produksi senilai ASD 1 juta tersebut sudah pernah diputar di sejumlah bioskop di Indonesia, Malaysia, dan Singapura pada November 2016.  "Saya berusaha memenuhi selera pasar film action Asia dan Amerika dengan sedikit memasukkan unsur-unsur budaya dan tradisi masyarakat Indonesia. Kalau untuk film yang sepenuhnya mengandung budaya masyarakat kita, belum tentu bisa diterima pasar internasional," kata Asun Mawardo mengenai minimnya budaya masyarakat Indonesia yang dikemas dalam filmnya itu.

    Sejak awal 2000-an, Asun Mawardi yang bergelar doktor ilmu administrasi bisnis itu sudah malang melintang di dunia perfilman. Beberapa film garapannya selain #66 adalah The Black Magic (2002), Untukmu (2003), I Do I Do (2004), Rindu Kami Padamu (bersama Garin Nugroho 2004), Documentary for The Anniversary of Tsunami (2005), Pirate Brothers aka Mortal Enemies (2011), Ah Boys to Men 3 (2014), dan Street Hustle yang saat ini sedang proses pascaproduksi.

    Film #66 yang pengambilan gambarnya di Jakarta, Bogor, Sukabumi, dan Bandung selama 45 hari itu telah berhasil menyabet sejumlah penghargaan prestisius di antaranya Platinum Remi Award di Festival Film Internasional di Houston, Amerika Serikat, pada 2016, World Cinema London (2016), Beijing International Film Festival (2016), dan Silk Road International Film Festival di Xian, China (2016).

    Duta Besar RI untuk China Soegeng Rahardjo merasa bangga atas diputarnya film karya anak negeri yang mendapat sambutan hangat dari para penggemar film laga di Beijing.

    "Tentu saja bukan sekadar dari jumlah penonton, melainkan juga film bisa mengenalkan budaya Indonesia di dunia internasional. Begitu juga sebaliknya masyarakat Indonesia gemar film-film Cina, karena ada nilai-nilai filosofis kehidupan masyarakat yang dapat dipetik," kata Soegeng Rahardjo sebelum menyaksikan film #66 bersama istri dan jajaran staf KBRI Beijing. *

    ANTARA


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Obat Sakit Perut Alami

    Berikut bahan alami yang kamu perlukan untuk membuat obat sakit perut alami di rumah.