Mencium Aroma Spiritual Indonesia

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta:Tiga tahun lalu, penyair Raoul Schrott tiba di Jakarta dengan tubuh terasa sangat penat. Saat hendak melemaskan badan setelah sedikit mengalami jet lag, Schrott menghadapi kenyataan bahwa Jakarta bukanlah kota yang ramah pada pejalan kaki. Namun, di balik pengalaman pahit itu, Schrott juga mengalami pengalaman spiritual."Saya terkejut saat menemui gereja di negara tropis ini. Begitu banyak aroma spiritual yang saya hirup, baik di Jakarta maupun di Irian Jaya," kata Schrott saat ditemui Tempo seusai pembacaan puisi dan prosanya, Kamis malam lalu, di pusat kebudayaan Jerman, Goethe Haus, Jakarta.Selain pengalaman unik yang dialaminya di Jakarta, dia juga menyempatkan diri mengikuti kegiatan beberapa suku asli Irian Jaya, seperti suku Dani, Asmat, dan Komoro. "Saya duduk berjam-jam saat mengikuti suku Komoro berburu buaya," katanya sembari tertawa lebar.Pengalaman uniknya di Indonesia memberi inspirasi penyair kelahiran Sao Paulo 42 tahun lalu ini membuat serangkaian puisi bertajuk Buku Putih. Kamis malam lalu, beberapa puisinya yang telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dibacakan di hadapan pengunjung oleh aktor kawakan Arswendi Nasution.Selain dibacakan puisi tentang Indonesia, malam itu juga dibacakan beberapa bagian dari novel Gurun Lop Nor. Meski Gurun Lop Nor merupakan prosa, bagi penulis yang pernah lama tinggal di Tunisia itu, karya ini tak ubahnya kisah yang puitis. "Anda akan menemukan begitu banyak rima dan keindahan kata dalam prosa ini," kata Schrott. Baginya, puisi memang pengalaman. Menurut Schrott, kita tak dapat menemukan puisi, tapi merasakannya dalam hati. Schrott merupakan sosok penulis berbahasa Jerman yang komplet. Sebagai penerjemah, ia menerbitkan buku Mittsommer karya peraih hadiah Nobel Sastra, Derek Walcott, pada 1994. Yang paling menarik perhatian publik sastra internasional adalah saat ia menerbitkan satu jilid buku bertajuk Penemuan Puisi pada 1998. Dalam buku tersebut, ia menerjemahkan puisi-puisi dari seluruh dunia selama kurun waktu 4.000 tahun terakhir.Sebagai penyair, Schrott yang menguasai beberapa bahasa unik, seperti Galisch (bahasa Skotlandia kuno), Provencalis, hingga Okzitanis, ini telah menelurkan beberapa antologi puisi macam Hotels (1997) serta Tropen dan Uber das Erhabene (1998). Beberapa novel pun ia hasilkan, seperti Finis Terae (1995), Tristan da Cunha (2003), serta Die Wuste Lop Nor (2000).Tak sedikit penghargaan dialamatkan kepada pria ramah ini. Alumnus Institut Komparasi Universitas Innsbruck tersebut pernah menerima penghargaan sastra Rausis dari Salzburg. Penghargaan lirik Peter-Huchel diperolehnya pada 1999. Adapun pada 2004 ia menerima penghargaan Joseph-Breitbach. Kini penulis asal Austria yang menetap di Irlandia itu tengah menerjemahkan ulang karya Homer Ilias.Sita Planasari

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Unggah Sertifikat Vaksinasi Covid-19 ke Media Sosial

    Menkominfo Johnny G. Plate menjelaskan sejumlah bahaya bila penerima vaksin Sinovac mengunggah atau membagikan foto sertifikat vaksinasi Covid-19.