Desa Adat Jimbaran Gelar Konser Mini Tolak Reklamasi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah aktivis yang tergabung dalam For Bali melakukan aksi damai di kawasan Bunderan Hotel Indonesia, Jakarta, 5 Juni 2016. Mereka meminta kepada pemerintah untuk menghentikan proyek reklamasi Teluk Benoa, Bali. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Sejumlah aktivis yang tergabung dalam For Bali melakukan aksi damai di kawasan Bunderan Hotel Indonesia, Jakarta, 5 Juni 2016. Mereka meminta kepada pemerintah untuk menghentikan proyek reklamasi Teluk Benoa, Bali. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Kuta Selatan - Gerakan rakyat adat Bali menolak reklamasi Teluk Benoa kembali disuarakan lewat konser mini. Konser mini itu diadakan di Desa Adat Jimbaran, Kabupaten Badung, Minggu, 26 Februari 2017. Sebelum konser mini, warga adat Jimbaran melakukan orasi dan pemasangan baliho tolak reklamasi di persimpangan desa.

    Kegiatan itu diawali dengan tabuh Adimerdangga, irama tradisional kendang Bali yang dimainkan puluhan orang. Selanjutnya, massa adat bergerak menuju Quary Land, area konser mini diadakan. Prosesi dilanjutkan pembentangan bendera tolak reklamasi berukuran 25x25 meter di tebing diiringi fragmentari Jimbaran.

    "Jika ada upaya menurunkan bendera tolak reklamasi, maka akan berhadapan dengan Pasubayan Desa Adat," kata Bendesa Adat Jimbaran I Made Budiarta, Minggu, 26 Februari 2017.

    Konser mini dimeriahkan oleh grup musik penentang reklamasi, Marjinal, The Dissland, Rastafara Cetamol, Garden Grove, dan The Bullhead. Acara juga dihibur oleh lawak Bali, Bondres Inguh dan Lenju.

    Baca:
    Jimmy Kimmel Buka Oscar dengan Sindir Trump
    Mahershala Ali Aktor Muslim Pertama Menang di Oscar

    Grup musik Marjinal dari Jakarta kali kedua tampil mendukung penolakan reklamasi Teluk Benoa. Marjinal sebelumnya tampil dalam konser mini di Desa Adat Kepaon dan Pemogan pada Oktober 2016. Namun penampilan Marjinal kali ini berbeda dengan sebelumnya. Seluruh personil grup musik punk itu memakai pakaian pakaian adat Bali madya (ringan), yakni udeng (destar) dan kamen (sarung).

    Vokalis Marjinal Mike mengatakan dirinya berbahagia bisa kembali hadir bersolidaritas mendukung warga adat Bali menolak reklamasi`Teluk Benoa. Ia juga merasa bangga kali ini tampil menggunakan pakaian adat Bali.

    "Ini keinginan kami spontanitas didandani alam, dan ada spirit kearifan lokal. Ini perlu kami rasakan," tuturnya.

    Menurut dia punk tidak mesti identik dengan penampilan celana jeans dan sepatu boots. "Ini bukan soal gue pengen terlihat apa, tapi kembali kepada kenyamanan. Kami ingin memberikan kedaulatan dalam diri kita untuk bebas (berjuang)," ujarnya.

    Baca:
    Kenapa Para Bintang Kenakan Pita Biru di Karpet Merah Oscar?


    Ia menambahkan bahwa bagi dirinya rakyat adat Bali yang menentang reklamasi adalah pemenang. "Dari awal ada reaksi kepedulian terhadap alam dan kehidupan generasi. Ini sudah kemenangan sebuah pergerakan dan progress menang melawan diam, melawan rasa takut sampai detik ini empat tahun berjuang," katanya.

    Adapun bassist Marjinal Bob mengapresiasi gerakan penolakan reklamasi yang terus membesar di Bali. Bob menuturkan dirinya senang, kali ini bisa menyuarakan penolakan reklamasi menggunakan pakaian adat Bali.|

    "Kami merayakan keberagaman dalam satu perjuangan. Kami menggunakan pakaian adat Bali bisa bergerak bebas sebagai spirit baru terkait permasalahan rencana reklamasi di Bali," tuturnya.

    BRAM SETIAWAN


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspadai Komplikasi Darah Akibat Covid-19

    Komplikasi darah juga dapat muncul pasca terinfeksi Covid-19. Lakukan pemeriksaan preventif, bahan ketiksa sudah sembuh.