Waldjinah Pingsan Gara-gara Salah Dosis Obat, Ini Ceritanya  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penyanyi keroncong legendaris Waldjinah tengah cuci tangan di Monumen Tirta Gesang, (18/02).TEMPO/Ahmad Rafiq

    Penyanyi keroncong legendaris Waldjinah tengah cuci tangan di Monumen Tirta Gesang, (18/02).TEMPO/Ahmad Rafiq

    TEMPO.CO, Jakarta – Waldjinah, 71 tahun, maestro keroncong Indonesia baru saja keluar dari Rumah Sakit Kasih Ibu, Solo, setelah dirawat karena sakit. "Saya memang baru pulang dari rumah sakit, karena gula darahnya ngedrop di bawah normal, hingga tidak sadarkan diri," kata Waldjinah, Kamis, 23 Februari 2017.

    Penyanyi kelahiran Solo, 7 November 1945 ini, menurut Ary Mulyono, salah satu anak Waldjinah, dirawat di rumah sakit sejak Selasa, 12 Februari 2017, karena sakit gula dan tidak sadarkan diri. "Ibu sakit, gula darahnya drop hingga tidak sadarkan diri, sehingga beliau langsung dilarikan ke RS," kata Ary.

    Menurut cerita Ary, pada awalnya, saat makan jadah, gigi palsu Waldjinah lepas dan kemudian memeriksakan diri ke dokter gigi. Saat menunggu dokter, Waldjinah mengecek gula darah di apotek. Berdasarkan tes di apotek gula darahnya mencapai 357. Karena takut, Waldjinah membeli obat penurun gula darah. Obat itu seharusnya diminum sehari sekali, tapi Waldjinah meminumnya dua kali sehari, sehingga menjadi drop sampai tidak sadarkan diri. "Ibu sekarang sudah sadar dan bisa komunikasi. Ibu kemudian Rabu minta pulang," kata Ary.

    Waldjinah adalah penyanyi keroncong legendaris pada zamannya yang sering dipanggil ke Istana Presiden. Presiden Sukarno dan Presiden Soeharto menjadi dua dari sekian banyak penggemar Waldjinah. “Saya ingin keroncong tetap dilestarikan dan digemari semua kalangan masyarakat," kata pelantun lagu Jangkrik Genggong dan Ayo Ngguyu ini. *

    ANTARA


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Setahun Pandemi Covid-19, Kelakar Luhut Binsar Pandjaitan hingga Mahfud Md

    Berikut rangkuman sejumlah pernyataan para pejabat perihal Covid-19. Publik menafsirkan deretan ucapan itu sebagai ungkapan yang menganggap enteng.