Mencari Makna Cinta

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta:Bauran warna putih-kuning dan sedikit cipratan merah menghiasi bidang hitam tak polos. Di sana-sini masih terlihat deretan angka dan huruf kapital di balik ruapan warna-warni. Namun, di tengah itu semua, sebuah kalimat seakan menohok mata siapa pun. Love is all we need.Lukisan yang dibuat pada 2006 itu memang memiliki tajuk sama dengan kalimat yang tertoreh di atas kanvas. Namun, pengunjung pameran "True Lies" karya perupa Irawan Karseno di Galeri Soka, Kemang, Jakarta, mulai 11 September hingga 11 Oktober 2006, itu juga akan menemukan kalimat yang sama pada lukisan-lukisan lain.Tak hanya itu. Pengunjung juga akan disuguhi adegan persetubuhan ala blue film dan potongan-potongan gambar Kamasutra di antara 60 lukisan abstrak yang dipamerkan.Seks, menurut Irawan, sering kali diidentikkan dengan cinta. Citra cinta dalam masyarakat metropolitan seakan dinafikan menjadi sekadar hubungan antara dua jenis kelamin, lelaki dan perempuan, serta segala hasrat syahwatnya. "Padahal cinta memiliki banyak aspek. Cinta terhadap sesama, terhadap orang tua, hingga Tuhan," kata Irawan kepada wartawan, Kamis malam lalu.Pada pameran tunggal kedelapan ini, Irawan rupanya tengah bergulat dengan makna cinta yang asasi. Suatu kali, ketika berada di Vermont, Amerika Serikat, perupa kelahiran Surabaya, 5 Desember, 46 tahun lalu ini menghadapi pertanyaan rumit. Seorang temannya yang asli Amerika bertanya mengapa masyarakat Indonesia sering bertengkar, baik secara fisik ataupun debat kusir.Ia pun merujuk pada pendapat Nurcholish Madjid untuk menjawab pertanyaan itu: Indonesia adalah sebuah keluarga. "Namanya keluarga, ya berantem-nya seperti itu," ungkapnya.Namun, sang rekan tak setuju dengan pendapat itu. "Saya tertegun ketika dia bilang, bukankah sebagai keluarga mestinya penuh dengan cinta sehingga tak perlu bertengkar. Sejak itu saya terus memikirkan pendapatnya," katanya. Dan pergulatan batin Irawan pun mengarah pada satu hal bahwa yang kita butuhkan adalah cinta.Bila akhirnya dia menuangkan ke dalam kanvas dalam bentuk persetubuhan, bagi Irawan, hal ini sesuatu yang lumrah. "Lebih baik bila seks dipampangkan apa adanya. Jika ada yang bertanya kepada saya, bagaimana bila anak saya melihat lukisan ini? Saya jawab, jelaskan tentang seks apa adanya saja karena seks lebih murni dan jujur serta manusiawi," paparnya.Bentuk dan wacana seks muncul pada karya Love in Black, Love in Red serta Love in Composition. Adapun tema utama cinta dusta muncul pada karya medium drawing charcoal Love on the Beach, In the Bottom of My Garden, dan Sleep on the Beach.Menurut kurator pameran, Bambang Asrini Widjanarko, lukisan-lukisan abstrak Irawan yang tak mengandung bentuk figuratif seakan mencerminkan ketegangan yang harus dihadapi oleh masyarakat urban dalam menghadapi dusta dalam kehidupan mereka. Warna merah, kuning, hijau, biru, dan cokelat bercipratan, saling membaur, dan bertabrakan.Dusta bagi alumnus seni rupa dan desain Institut Teknologi Bandung angkatan 1986 ini, Bambang melanjutkan, memang menyimpan sebuah makna yang laten. Apalagi dalam masyarakat urban seperti Jakarta. Sering kali dusta tak lagi relevan dengan kebohongan secara esensi atau justru sebaliknya: sebuah kata yang direduksi oleh otoritas tertentu demi kepentingan mereka.SITA PLANASARI A

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Obat Sakit Perut Alami

    Berikut bahan alami yang kamu perlukan untuk membuat obat sakit perut alami di rumah.