Seno Gumira Luncurkan Novel Drupadi, Baca Wawancara Ini

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Cover buku Drupadi, Seno Gumira. google.com

    Cover buku Drupadi, Seno Gumira. google.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Pada awal 2017, penulis dan sastrawan Seno Gumira Ajidarma menerbitkan novel Drupadi. Kisah istri lima Pandawa dalam cerita pewayangan itu ia gabungkan dari cerita bersambung yang antara lain pernah dimuat di majalah Zaman pada 1984.

    Pada 2000, sebuah penerbit menawarkan cerita Drupadi ditulis kembali dalam bentuk novel. Dan baru 17 tahun kemudian karya tersebut akhirnya terbit. Salah satu alasannya adalah ilustrasi karya Danarto yang tak kunjung tuntas.  “Namanya seniman, kan ajaib ya. Danarto ini salah satunya,” ujar Seno tergelak kala dijumpai wartawan Tempo Aisha Shaidra di kantornya, Kamis, 16 Februari 2017.

    Tahun ini Seno pun masih aktif menjalani karier sebagai akademikus. Ia baru saja diangkat sebagai Rektor Institut Kesenian Jakarta untuk masa jabatan 2016-2020. Kesibukan baru tersebut tak membuatnya mengesampingkan kegiatan tulis-menulis. "Bagi saya, menulis sudah seperti bernapas," tuturnya.

    Dia berpendapat kegiatan tulis-menulis sudah semestinya beriring dengan kegiatan membaca. Sayang, ujar Seno, kegiatan membaca yang ia lakukan belakangan lebih cenderung sebagai pemenuh kebutuhan akademis. Ia menunggu kesempatan menemukan waktu untuk membaca sebagai sebuah kesenangan.

    ***

    Karya Anda banyak berbasiskan pewayangan. Mengapa tertarik dengan cerita wayang?
    Wayang itu menarik. Dia masih mewakili persoalan zaman. Sekarang, misalnya, masih ada wayang kulit, masih ada yang menonton, pasti orang merasa masih relevan. Saya mau bikin cerita wayang karena masih punya makna sampai sekarang.

    Apa yang membuat Drupadi begitu lama baru bisa dibukukan?
    Kisah Drupadi berawal dari majalah Zaman. Cerita bab 1-5 dimuat bersambung di majalah tersebut mulai Januari hingga Desember 1984. Lalu bab 6-10 dimuat di Kompas pada 2001. Beberapa bab lain dimuat di Republika, Media Indonesia, Suara Pembaruan, dan Suara Merdeka.

    Pada 2000 saya ingin menyambung cerita itu karena ada penerbit yang menawarkan. Tapi saya ingin gambarnya dibuat oleh Danarto.  Nah, saat menggambar untuk Drupadi, dia lama. Pokoknya tidak jadi-jadi. Setelah gambarnya utuh, baru masuk penerbit dan bisa terbit pada tahun ini.   

    Menunggu 17 tahun untuk menerbitkan Drupadi. Konteksnya masih relevan?
    Jelas masih. Karena itu kan konteks kemanusiaan yang mendasar. Mau kapan pun masih relevan. Masih ada konteks. Sebetulnya cerita ini untuk konsumsi umum dan remaja. Jadi, saya tidak membuat pembaca kesulitan. Tapi harus dewasa juga menanggapi novel ini.

    Maksudnya?
    Banyak persoalan yang saya ajukan untuk dijawab oleh pembaca dewasa. Cerita ini dibikin bagus, tapi jadi masalah orang dewasa.  Saya memberikan banyak persoalan. Misalnya tentang perempuan, kekerasan, mempertanyakan soal kodrat, dan sebagainya. Semua itu kan pertanyaan untuk orang dewasa, bukan remaja.

    Kisah Drupadi versi mana yang Anda ambil?
    Campur-campur. Tapi kalau yang bersuami lima dari India, ya? Saya kan baca dua-duanya (versi India dan Jawa), memahami keduanya, lalu saya pakai yang versi paling enak.

    Seperti apa proses mencampur kisah dari banyak versi itu?
    Saya enggak tahu lagi mana yang versi Jawa, India, karena saya membaca komik era Kosasih. Kosasih itu setia kepada India, kecuali Srikandi yang dia gambarkan sebagai laki-laki, dan beberapa hal lainnya. Sejauh ini saya kira saya memberikan sebuah alam yang campur aduk. Wayang enggak ada patokan waktu dan jelas bukan masa depan. Melainkan sebuah negeri eksotik, entah di mana.

    Seberapa jauh Anda melepas pakem cerita wayang kala menuliskannya kembali?
    Ada beberapa, terutama bahwa dia berhasil diperkosa oleh Kurawa. Di cerita lain kan dia tak berhasil diperkosa Kurawa karena kainnya tak putus. Setiap pengarang pasti punya cara berkarya sendiri mesti cerita intinya tak berubah.

    Mengapa karya Anda membiarkan Drupadi diperkosa?
    Dari semua tokoh perempuan wayang, yang paling seru Drupadi. Suaminya lima Pandawa, ia dipertaruhkan, kemudian hendak diperkosa, tapi kainnya tak habis-habis dibuka. Cuma dalam karya saya langsung bisa, lalu ia ikut ke dalam hutan, keramas darah, rambutnya terurai terus, menyamar jadi dayang permaisuri di Wirata. 

    Kenapa sosok Drupadi penting untuk dituliskan?
    Menderita, kasihan. Cantik, kok menderita, cantik bahagia, dong…. Dia menderita secara fisik, mendapat banyak penghinaan, tapi dia merasa tempat terbaik ya bersama Pandawa. Dan ketabahan Drupadi ini berpengaruh terhadap Pandawa.  Drupadi setia kepada mereka. Jadinya saya kira boleh menganggap ketabahan Drupadi itu memperteguh Pandawa.

    Anda melihat pembaca cerita wayang saat ini masih banyak?
    Kalau di Jawa, penonton wayang masih banyak. Pembaca wayang saya enggak tahu. Tapi komik, manga (komik Jepang), saya kira banyak. Banyak kreator muda yang mencari identitas Indonesia untuk karakter superhero baru, ya pakai wayang. Tapi kebanyakan sekarang mereka lebih tertarik pada identitas fisiknya, bukan filosofinya. Jadi, gambaran sosok wayang kayak jago tinju, badannya kekar. Padahal, secara simbolik, wayang tidak seperti itu.

    Penafsirannya sudah lain lagi?
    Penafsirannya itu dangkal, enggak memahami seluruh konteks, filosofinya gagal dipahami. Orang hanya tertarik pada fisiknya yang terbang, bisa masuk tanah, gambar bagus-bagus, tapi jadi superhero bak-buk-bak-buk…  Padahal seharusnya lebih dari itu.

    Wayang itu kan serius sekali dari bahasa dan gambarnya.  Kondisi sekarang itu gambarnya bagus, tapi cuma gedebak-gedebuk, action. Secara cerita sama, tapi penafsirannya ada yang kreatif, ada yang pas-pasan. Kalau gambar, saya akui imajinasinya luar biasa, itu bagus.

    Bagi Anda, cerita apa yang paling menarik dari kisah pewayangan?
    Kisah politiknya. Dan dalam kenyataannya hal itu yang sering saya eksplorasi. Wayang itu bagian penting dari kebudayaan lokal yang berkontestasi dengan agama sebetulnya. Lihat orang kasih nama anak masih mengacu ke mana, atau penggunaan kata Srikandi, semua orang pakai istilah itu untuk sebutan perempuan perkasa. Lalu nama pesawat Indonesia ada Tetuko, itu kan nama kecil Gatotkaca.

    Kegiatan akademis Anda makin padat. Apakah aktivitas menulis berkurang?
    Ya, tapi enggak terlalu. Saya masih dikontrak tiga media. Itu gampang karena ceritanya pendek-pendek. Yang proyek panjang yang bermasalah. Novel Naga Bumi tiga sudah kelar, tapi masih bersambung. Itu kan kilas balik orang yang berumur 100 tahun. Jadi, masih panjang, masih jauh dia mengejar masa kininya, seperti saya mengejar waktu sebelum mati untuk menyelesaikannya.

    Selain Naga Bumi, masih akan ada novel lain lagi?
    Banyak. Saya menulis seperti bernapas. Sepanjang napas itulah. Saya selalu bilang, saya ingin sekali menamatkan Naga Bumi. Setelah itu saya akan menulis cerpen-cerpen yang manis.

    Lebih nyaman mana, menulis fiksi atau esai?
    Sama, tapi dalam kenyataannya saya lebih banyak membuat esai. Masing-masing punya tantangan sendiri. Saat ini lebih banyak membaca buku nonfiksi. Saya kehilangan kesempatan membaca sebagai kesenangan. Saya membaca lebih untuk kebutuhan sebagai kolumnis mencari perkembangan informasi. Sudah lama tak baca buku sastra yang tebal, cerpen, karena keterbatasan waktu.

    Impian saya bisa menikmati itu kembali, membaca demi kesenangan.  Romo Magnis bilang, kalau saya menulis, saya enggak membaca. Saya membaca, saya enggak menulis. Itu harus berbarengan. Paling bagus menulis itu seperti bernapas. Artinya, menulis sebagai wujud dan berpikir sebagai bagian dari proses menulis. Itu yang saya lakukan terus.

    Dalam memimpin IKJ, apa prioritas Anda? 
    Membenahi segala sesuatu yang wajib dalam manajemen perguruan tinggi, tapi selama ini terabaikan, seperti akreditasi. Pencapaian IKJ, kalau dilihat dari prestasi lulusannya, tidak dapat diingkari. Tapi akreditasi perguruan tinggi tidak cukup dengan reputasi seni, melainkan manajemen pendidikan yang canggih. 


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pemerintah Pangkas 5 Hari Cuti Bersama 2021 dari 7 Hari, Tersisa 2 Hari

    Pemerintah menyisakan 2 hari cuti bersama 2021 demi menekan lonjakan kasus Covid-19 yang biasa terjadi usai libur panjang.