Akademisi: Indonesia Krisis Lagu dan Film Anak  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kelompok Paduan Suara anak-anak Vienna Boys Choir membawakan lagu dalam media day Vienna Boys Choir di Ciputra Artpreneur Theater, Jakarta, 14 Oktober 2016. TEMPO/Nurdiansah

    Kelompok Paduan Suara anak-anak Vienna Boys Choir membawakan lagu dalam media day Vienna Boys Choir di Ciputra Artpreneur Theater, Jakarta, 14 Oktober 2016. TEMPO/Nurdiansah

    TEMPO.CO, Jakarta - Akademisi dan Direktur Global Sevilla School Jakarta Robertus Budi Setiono mengatakan saat ini Indonesia mengalami krisis lagu yang diperuntukkan khusus untuk anak. "Berbeda dengan satu dekade lalu, saat ini nyaris tidak ada lagu-lagu baru yang diciptakan dan diperuntukkan khusus untuk dunia anak," ujar Budi di Jakarta, Selasa, 14 Februari 2017 dalam sebuah acara.

    Dia mengaku prihatin dengan kondisi anak-anak di era kini yang banyak dicekoki dengan lagu-lagu orang dewasa. Hal itu akan berdampak pada psikologis anak ketika dewasa, yang memiliki tingkah kekanak-kanakan.

    Kelangkaan lagu anak-anak merupakan bagian dari rendahnya minat dunia bisnis permusikan untuk mengembangkan lagu anak. Musik seperti halnya industri bisnis, jika tidak menguntungkan maka tidak akan dijalankan.

    Budi mengajak seluruh pemerhati dunia pendidikan untuk mengembalikan lagu anak ke dunia pendidikan, serta tidak memasukkan ke jalur bisnis. Lagu bisa mendidik otak kanan anak sejak dini. "Daya imajinasinya masih murni, otak kanan harus dikembangkan sejak dini," kata Budi sembari menyebutkan sekolahnya mengadakan konser yang diperuntukkan untuk menghormati pencipta lagu anak Ibu Soed.

    Cucu Ibu Soed, Carmanita yang juga hadir dalam acara tersebut menyebutkan, bahwa karya lagu anak ciptaan Ibu Soed sudah mencapai lebih dari 340 lagu. Tak hanya menciptakan lagu anak, Ibu Soed juga menciptakan lagu kemerdekaan. "Dalam menciptakan lagu anak, Ibu Soed membayangkan diri menjadi anak kecil, " kata Carmanita menceritakan Ibu Soed.

    Sementara itu, pemerhati perempuan dan anak, Deisti Novanto, mengatakan Indonesia tak hanya kekurangan lagu, tetapi juga kekurangan film anak. Deisti juga mengimbau segenap pemangku kepenting perfilman di Indonesia dapat memberikan perhatian dalam proses kreatifnya untuk memproduksi lebih banyak film edukatif bagi anak Indonesia. "Perlu ada kesepakatan antara pemerintah sebagai pembuat regulasi, para sineas dan masyarakat dalam mengembangkan industri perfilman di Indonesia," kata Deisti yang juga Ketua Umum Ikatan Istri Partai Golkar itu.

    Koordinator Bidang Pendidikan IIPG, Lita Azis Syamsuddin, menjelaskan pihaknya diharapkan bisa melakukan edukasi kepada masyarakat khususnya kepada segmen perempuan dan anak. Untuk itu, pihaknya mengadakan acara nonton bersama film Iqra, Berpetualang Meraih Mimpi, bersama 1.000 anak yatim. "Melalui film yang religius dan edukatif diharapkan hal itu dapat memicu semangat anak Indonesia dalam mewujudkan cita-cita mereka," kata Lita.

    ANTARA


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Unggah Sertifikat Vaksinasi Covid-19 ke Media Sosial

    Menkominfo Johnny G. Plate menjelaskan sejumlah bahaya bila penerima vaksin Sinovac mengunggah atau membagikan foto sertifikat vaksinasi Covid-19.