Menembus Batas Kelaziman

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta:Seorang pria duduk bersedih. Lemas, dia bersandar ke dinding kecil. Pemuda berpenampilan seperti tokoh pewayangan itu melipat kakinya, dengan satu tangannya menutup muka.Dari arah samping dan belakang tiba-tiba bermunculan makhluk aneh. Ada yang muncul dari balik asap hitam mengepul, ada yang menyembul dari mesin-mesin industri. Makhluk itu bersayap bagai dewa kematian yang datang menjemput korban. Mereka mendekati pemuda itu.Hegemoni Teknologi, itulah judul lukisan grafis karya A.C. Andre Tanama. Lukisan cetak digital di kanvas itu menjadi pemenang I Trienal Seni Grafis Indonesia II 2006 yang digelar Bentara Budaya, 14-23 September 2006.Andre Tanama adalah pelukis kelahiran Yogyakarta, 28 Maret 1982. Lulusan Seni Murni/Grafis Institut Seni Indonesia Yogyakarta itu pernah meraih penghargaan karya seni grafis terbaik saat Dies Natalis kampusnya. Berbagai pameran pernah digelarnya, baik pameran tunggal maupun bersama.Dalam kompetisi kali ini, dua karya Andre masuk final. Satu di antaranya berjudul Pinter Ojo Keblinger. Lukisan cukil hardboard di kertas itu tak jauh berbeda dari sisi ide dengan Hegemoni Teknologi, yang menjadi juara. Bedanya, di sini pemuda berpenampilan wayang digambarkan lebih menguasai dunia. Dia bahkan mampu memenjarakan makhluk aneh yang akan merusak bumi.Seni cetak grafis adalah salah satu seni yang ingin dikembangkan Bentara Budaya. Melalui Trienal Seni Grafis Indonesia 2006, ratusan karya grafis anak negeri dirangkum. Ini adalah yang kedua kalinya hajatan tiga tahunan itu dilakukan. Namun, jumlah peserta kali ini merosot. Pada 2003, kompetisi ini diikuti 146 peserta dengan 286 karya, sedangkan tahun ini 93 peserta dengan 164 karya.Menurut salah seorang juri, Bambang Bujono, Trienal kedua ini mencerminkan geliat seni grafis Indonesia. Di sini para seniman merasa tak perlu lagi mengikuti norma yang lazim. Mereka mengambil kekhasan medium grafis untuk sesuatu yang lain, seni grafis dibuat agar banyak orang bisa memiliki karya yang sama dan tetap karya orisinal (bukan reproduksi).Agus Suwage misalnya, menggandakan karya bukan untuk mendapatkan beberapa karya yang sama dan tetap karya asli, melainkan untuk keperluan menyajikan sebuah karya instalasi. Meskipun masing-masing gambar grafis itu bisa berdiri sendiri.Namun, beberapa karya yang merupakan perpaduan antara gambar grafis dan teknologi (lampu) tak digarap cermat dan mendalam. Bahkan karya tersebut terkesan memburu waktu. Ada karya yang tak jelas alasannya harus dipasangi lampu byarpet. Nyala-mati lampu itu memang menarik perhatian, tapi ia membuat dahi bekernyit karena sulit menemukan hubungan antara nyala-mati lampu dan gambar grafis.Selain itu, menurut Bambang, dalam proses memvisualkan tema atau gagasan, tampaknya seniman grafis kita kurang sungguh-sungguh. Misalnya dalam menafsirkan tema teknologi terasa klise atau stereotipe: bahwa teknologi membawa bencana, seperti pohon ditebang untuk dijadikan lahan pabrik yang menimbulkan polusi. "Begitu saja, tak lebih dan tak kurang," kata Bambang.Dibandingkan Trienal 2003, karya-karya Trienal kali ini terasa lebih sempurna. Dulu keruwetan gambar misalnya, bukan karena sengaja ruwet, melainkan karena kemampuan memadukan pencetakan satu warna dengan warna lain kurang cermat. Kini kejadian itu tak banyak ditemui.RETNO SULISTYOWATI

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Satu Tahun Bersama Covid-19, Wabah yang Bermula dari Lantai Dansa

    Genap satu tahun Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Kasus pertama akibat virus corona, pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020.