Kembali ke Titik Nol

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta:Muka-muka garang itu menyeruak dalam tiga bingkai besar. Wajah mereka merah membara. Satu di antaranya hitam seperti baru bangun dari kegelapan. Ia berhidung besar menyerupai babi dan bola matanya yang bulat nyaris melompat keluar.Tiga bingkai wajah babi itu adalah fragmen dari lukisan berjudul Animal Wanted karya Taufan S. Chandranegara. Perupa kelahiran 15 Mei 1956 itu menggelar pameran di Galeri Cipta II Pusat Kebudayaan Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 8-17 September 2006. Bertajuk "Zero", pameran ini merupakan pameran tunggalnya yang ketujuh.Taufan adalah seniman serba bisa. Berbagai bidang seni dilakoni dengan totalitas tinggi, mulai seni teater, grafis, tata artistik, hingga penulisan dan penyutradaraan. Terakhir ia menceburkan diri dalam dunia seni rupa, meskipun ini bukan bidang yang sama sekali baru buatnya.Awalnya, pria asli Jakarta itu bergabung dengan Gelanggang Remaja Bulungan dan Panuluh Teater bersama Yudhistira Massardi pada 1970. Ia juga merambah dunia seni grafis dengan menginjakkan kaki di PT Graffiti Pers. Namun, seni peran tak ditinggalkannya. Sebaliknya, semakin didalaminya dengan nyemplung ke Teater Koma pada 1980-an. Di sini, ia tak hanya belajar menjadi aktor, tapi juga scenographer (penata artistik dan desain lampu). Beberapa kali "tugas" itu dilakoni tanpa meninggalkan tugasnya sebagai aktor.Sejak 1997, Taufan mulai melirik wilayah lain dalam teater, yakni penulisan dan penyutradaraan. Ia berhasil meyakinkan dan mengajak sejumlah seniman mendirikan kelompok Teater Dur. Di sini, bentuk teaternya sangat berbeda dengan bentuk Teater Koma. Pada 2000, Taufan memberi tahu bahwa dia mulai melukis. "Saya hanya ingin melukis. Ini pengembaraan saya dalam memburu kebenaran artistik," ujarnya kepada dramawan Nano Riantiarno.Dalam pamerannya kali ini, Taufan menampilkan lukisan berseri. Dalam Animal Wanted, misalnya, gambar wajah babi pada tiga bingkai kanvas menjadi satu fragmen tersendiri. Fragmen sebelumnya berupa goresan merah--juga pada tiga bingkai kanvas--menyembur seperti lidah api.Fragmen terakhir, goresan merah membentuk kepala dan tubuh buaya di atas tiga kanvas. Serial ini sejatinya bercerita tentang tamatnya lingkungan hidup. Pembakaran dan pembalakan hutan menyebabkan hancurnya ekosistem. Hutan jadi padang pasir, sawah jadi tanah bongkah, situs sejarah menjadi mal, perumahan menjadi apartemen, dan jutaan anak menjadi generasi yang hilang.Melalui "Zero", Taufan mengajak semua orang kembali ke titik nol. "Saya mengajak orang untuk bersujud. Kita mulai dari awal lagi," ujarnya."Zero" adalah ungkapan kekesalan perupa ini terhadap kondisi yang ada: perang, korupsi, dan kerusakan lingkungan terjadi di mana-mana. Belum lagi masalah kemanusiaan yang tak lagi diperhatikan. Kritik ini tidak tertuju ke Tanah Air saja, tapi lebih bersifat mendunia.Ia memprotes penganiayaan suatu bangsa oleh bangsa lain yang mengakibatkan tewasnya ratusan anak-anak oleh senjata berat. Padahal selama ini manusia mengklaim sebagai makhluk yang memiliki inteligensia yang baik, beriman, dan humanis.Untuk urusan lingkungan, Taufan menjatuhkan kesalahan kepada kaum kapitalis industrial yang hanya memikirkan keuntungan ekonomi. Kelompok inilah yang divisualkan sebagai sosok babi. Dalam Animal Wanted, tidak jelas siapa yang diburu karena wajah babi bisa berubah-ubah.Serial lain, Dead Bird, bercerita tentang musnahnya kesadaran intelektual bangsa karena tak ada modal untuk memeliharanya. Sedangkan dalam Dream Dead, Taufan seperti mengambil kesimpulan bahwa impian tak bakal menjadi kenyataan. Karena itu, tidak perlu bermimpi lagi karena keadaan telah berhenti. "Kita tinggal mengikuti arus yang membawa entah ke mana, sampai terjadi sesuatu yang mungkin bisa membuat bermimpi kembali," kata pengamat seni rupa Danarto.Dalam Dead Lock, Taufan menghadirkan 20 lukisan pada kanvas kecil di dalam kanvas besar. Ia merangkum tanda-tanda (palang merah dan palang putih), teka-teki, seperti memberi peringatan atau larangan untuk lewat/masuk. Jika dilanggar, siapa pun akan menemui kematian. "Ini sudah final, tidak bisa ditawar-tawar lagi," ujar Danarto.Akhirnya Control Gate muncul: gambaran dari kekuatan oktopus dengan seribu atau sejuta belalai pengisap. Cahaya disedot habis. Alam pun gelap gulita. Segala kehidupan tamat. Yang selamat hanya karena kebetulan selamat.Retno Sulistyowati

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menghilangkan Bau Amis Ikan, Simak Beberapa Tipsnya

    Ikan adalah salah satu bahan makanan yang sangat kaya manfaat. Namun terkadang orang malas mengkonsumsinya karena adanya bau amis ikan yang menyengat.