Anak-anak Wiji Thukul Ngamen Puisi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anak penyair kritis Wiji Thukul, Fitri Nganthi Wani bersama Fajar Merah membacakan puisi dalam Ngamen Puisi Istirahatlah Kata Kata di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 24 Januari 2017. TEMPO/Nurdiansah

    Anak penyair kritis Wiji Thukul, Fitri Nganthi Wani bersama Fajar Merah membacakan puisi dalam Ngamen Puisi Istirahatlah Kata Kata di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 24 Januari 2017. TEMPO/Nurdiansah

    TEMPO.CO, Jakarta - Sekitar dua ratus orang berkumpul di depan Gedung Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Selasa malam lalu. Sebagian besar dari mereka adalah anak-anak muda. Sebagian besar lesehan di lantai. Mata mereka tertuju pada satu titik yang menjadi semacam panggung, yang hanya menggunakan speaker portabel, tanpa lampu dan aneka aksesori lainnya. Penerangan mengandalkan cahaya dari lampu di gedung dan halaman di sana.

    Baca juga: Film tentang Wiji Thukul Diserbu Penonton

    Di “panggung” itu, puisi-puisi Wiji Thukul mengalir. Bintang utamanya adalah Fitri Nganthi Wani dan Fajar Merah, anak sang penyair yang masih hilang. Fajar memetik gitar sambil lesehan bersila dan Wani membacakan puisi ayahnya, Derita Sudah Naik Seleher, dengan penuh penghayatan dan ekspresif. Ia melafalkan: kau lempar aku dalam gelap/hingga hidupku menjadi gelap//kausiksa aku sangat keras/hingga aku makin mengeras//kaupaksa aku terus menunduk/tapi keputusan tambah tegak…

    Wani tak hanya membacakan puisi ayahnya, tapi juga membacakan puisinya sendiri yang berjudul Dalam Keabadian Kebenaran Membatu. Suaranya lantang, tapi ada saat ia tampak sedih dan seperti menahan tangis. “Sajak (Derita Sudah Naik Seleher dan Dalam Keabadian Kebenaran Membatu) itu ada dalam album Fajar Merah,” ujar Wani kepada Tempo setelah membaca puisi. Tahun lalu, Fajar meluncurkan album yang sebagian besar isinya dari puisi Wiji Thukul.

    Diberi nama Ngamen Puisi Wiji Thukul, ada belasan orang yang tampil membaca puisi malam itu. Acara dimulai dengan pembacaan puisi Sajak Anak-anak oleh keponakan Wiji, Cesia, dan ayahnya, Wahyu Susilo. Wahyu membacakan dua puisi karya Wiji. “Puisi ini dibuat kakak saya waktu saya diterima kuliah setelah ujian Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (Sipenmaru),” ujar Wahyu, adik Wiji yang dikenal sebagai aktivis buruh migran.

    Penampil lainnya adalah aktris Melanie Subono, yang menyanyikan puisi Wiji, Sajak Suara, bersama Fajar. Ada juga Mugiyanto Sipin, yang sempat diculik saat Orde Baru. Ia berkisah tentang pertemanannya dengan Wiji. “Saya kenal saat mengundang dia ke auditorium Fakultas Sastra UGM untuk membacakan puisinya,” ujar aktivis Ikatan Keluarga Orang Hilang (Ikohi) ini. Pertemuan terakhir dengan aktivis asal Solo itu sekitar April-Juni 1997.

    Gerimis sempat menghentikan sebentar acara itu. “Panggung” dan penonton kemudian berpindah ke teras Graha Bhakti Budaya TIM. Penonton yang sebagian besar adalah anak-anak muda tetap antusias. Mereka tak hanya mendengar pembacaan puisi, tapi juga menunjuk tangan untuk membacakan puisi. Tak ada rangkaian acara resmi. Ngamen Puisi itu berlangsung cair dan akrab. Sastrawan Linda Christanty pun ikut membacakan puisi Wiji.

    Acara yang digagas aktivis sosial, Dhyta Caturani, itu dimulai setelah anak-anak muda tersebut menonton film tentang Wiji Thukul, Istirahatlah Kata-Kata, di bioskop di kompleks TIM. Selepas isya, seorang laki-laki membawa pengeras suara, mengajak penonton ke halaman Gedung Teater Kecil. Penonton tidak hanya dari Jakarta dan sekitarnya, tapi juga dari luar kota. Bahkan ada penonton yang datang dari Batam. “Karena di Batam (film itu) belum tayang, saya ke sini. Saya tidak kenal beliau (Wiji), tapi saya kagum puisinya,” ujarnya.

    Tak semua penonton tahu dengan baik siapa penyair cadel ini. Sebagian mengenal sang penyair hanya dari puisinya. Seperti Quratul Aini, 16 tahun, anggota sebuah sanggar sastra di Jakarta Timur. “Eggak tahu siapa dia. Baru nonton filmnya dan baca-baca sedikit. Tapi puisinya keren-keren,” ujar gadis berambut panjang ini. Beberapa temannya belum menonton filmnya, tapi mereka sudah berniat melihat film itu.

    Ada juga seorang pemuda, berusia 20-an tahun, yang ikut membacakan puisi. Saat di bangku kuliah, dia tak terlalu menaruh perhatian pada masalah politik, termasuk masalah hilangnya belasan orang menjelang 1998 itu. Dia pun tak terlalu peduli dengan Wiji Thukul. Namun, saat berkesempatan membacakan sajak-sajak Wiji, ia merasakan apa yang dirasakan Wiji melalui sajak-sajaknya. Sejak itu dia pun tertarik mengenal Wiji.

    Menjelang acara usai, seorang pria membacakan puisi Wiji dengan penuh ekspresi dan intonasi yang meninggi. Pembacaan puisi itu diwarnai lagu Darah Juang. Tepuk tangan menyudahi puisinya. Malam terus bergulir. Mereka semakin bersemangat. Sutradara dan produser Istirahatlah Kata-Kata, Yosep Anggi Noen dan Yulia Evina Bhara, mengapresiasi kehadiran penonton dan pembaca puisi. “Saya tak menyangka sambutannya seperti ini,” ujar Yosep. “Ini adalah upaya kecil untuk melawan lupa.” *

    Dian Yulisatuti, Mustafa Ismail


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Unggah Sertifikat Vaksinasi Covid-19 ke Media Sosial

    Menkominfo Johnny G. Plate menjelaskan sejumlah bahaya bila penerima vaksin Sinovac mengunggah atau membagikan foto sertifikat vaksinasi Covid-19.