Madonna Kekeuh pada Pernyataan Anti-Donald Trump

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penyanyi Madonna berorasi saat mengikuti Women's March di Washington, AS, 21 Januari 2017. Sederet seleb meramaikan aksi Woman's March atau Parade Para Wanita untuk memprotes Presiden AS Donald Trump yang kerap kali melayangkan pernyataan yang sarat kebencian dan rasisme. REUTERS/Shannon Stapleton

    Penyanyi Madonna berorasi saat mengikuti Women's March di Washington, AS, 21 Januari 2017. Sederet seleb meramaikan aksi Woman's March atau Parade Para Wanita untuk memprotes Presiden AS Donald Trump yang kerap kali melayangkan pernyataan yang sarat kebencian dan rasisme. REUTERS/Shannon Stapleton

    TEMPO.CO, Jakarta - Penyanyi Madonna mempertahankan pernyataan beraninya yang ia keluarkan dalam Women's March, Sabtu, 21 Januari 2017, di Washington DC dan mengatakan ia berbicara secara metafora dan tak bermaksud menyulut kekerasan. Sekitar 500 ribu orang -- banyak yang mengenakan topi warna pink – ikut dalam aksi solidaritas dan dukungan buat hak asasi perempuan “Women's March” di Washington DC.

    Madonna --yang berbicara dan tampil dalam pawai itu-- dikutip media massa setempat mengatakan, dia berpikir mengenai "meledakkan Gedung Putih". "Ya, saya marah. Ya, saya geram. Ya, saya memiliki pikiran sangat banyak mengenai meledakkan Gedung Putih, tapi saya tahu ini tak kan mengubah apa pun. Kita tak bisa jatuh ke dalam keputus-asaan," demikian kata-kata Madonna dalam kegiatan pada akhir pekan lalu itu.

    Madonna menulis di instagram Ahad lalu untuk membela komentarnya. "Saya ingin menjelaskan beberapa hal yang sangat penting. Saya bukan orang yang suka kekerasan, saya tidak mendorong kekerasan dan penting buat orang untuk mendengar dan memahami ucapan saya secara keseluruhan dan bukan satu frase diambil secara liar ke luar konteks," tulis Madonna.

    "Saya berbicara secara metafora," kata peyanyi yang berusia 58 tahun itu. "Namun, saya tahu bahwa mengumbar kemarahan tidak menyelesaikan apa pun. Dan satu-satunya cara untuk mengubah keadaan jadi lebih baik ialah melakukannya dengan cinta." Kata-katanya memicu kecaman di sosial media.

    Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang baru dilantik, menanggapi pawai itu di Twitter, Ahad. Ia menuduh peserta pawai tidak memberi suara dalam pemilihan presiden. "(Saya) menyaksikan protes kemarin tapi mendapat kesan bahwa kita baru saja menyelesaikan pemilihan umum! Mengapa orang-orang ini tidak memberi suara? Selebritas sangat menimbulkan kerugian," demikian cuitan Trump. "Protes damai adalah ciri demokrasi kita. Sekalipun saya tidak selalu setuju, saya mengakui hak asasi rakyat untuk menyampaikan pandangan mereka," kata Trump, dalam tweet lain belakangan.

    Menurut pernyataan resmi Gedung Putih yang diperoleh NBC News, "Komentar seperti ini benar-benar tak bisa diterima baik dan kalau saja semuanya disampaikan mengenai Presiden (Barack) Obama, media arus utama akan gempar." "Pemerintah Trump menyambut baik pembahasan aktif mengenai masalah penting yang dihadapi keluarga dan perempuan Amerika," kata pernyataan Gedung Putih itu. *

    ANTARA


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Unggah Sertifikat Vaksinasi Covid-19 ke Media Sosial

    Menkominfo Johnny G. Plate menjelaskan sejumlah bahaya bila penerima vaksin Sinovac mengunggah atau membagikan foto sertifikat vaksinasi Covid-19.